Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Archive for the ‘Renungan’ Category

Renungan

Semua ada Resikonya.

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 18, 2017

1. Saya pernah pakai PP foto bersama anak. Ada yang bilang, hati-hati upload foto anak ke media sosial. Berbahaya. Saya pikir-pikir, memang ada benarnya.
2. Saya pernah pakai PP foto bersama istri. Ada yang bilang, jangan posting foto perempuan termasuk istri. Saya pikir-pikir, memang ada benarnya.
3. Saya pernah pakai foto PP diri sendiri/sendirian. Ada banyak inbox dari kaum perempuan. Isinya ngajak kenalan, terus bertanya : Sudah menikah apa belum? Saya belum mikir, ini benar apa nggak?
4. Saya pernah pakai foto PP gambar kartun. Tiba-tiba, akun saya dikunci oleh FB. Tidak bisa dibuka walaupun email dan password sudah benar.
Baca entri selengkapnya »

Iklan

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Menuntut Dalil

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 18, 2017

Ada yang bilang, karena tidak ada perintahnya (secara tegas dan jelas) dalam Al Qur’an atau As Sunnah, sesuatu itu tidak wajib. Jadi sesuatu itu pilihan saja (mungkin maksudnya mubah).

Baik, coba konsisten dengan alur tsb.

Apa hukum mendirikan pabrik tekstil? Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Rahasia Hidayah

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 8, 2017

Bagaimana perasaan kita jika mengetahui ada orang bergelar doktor, bahkan profesor, tapi ia justru tidak mau tunduk pada syariah? Bahkan menentangnya?

Bagaimana pula perasan kita jika mengetahui ada orang yang bodoh tanpa ilmu, tapi dengan garangnya menyerang syariah? Bahkan menentangnya?

Bagaimana pula perasaan kita jika mengetahui bahwa kedua jenis orang tersebut pernah bertemu dan didakwahi oleh ustadz-ustadz level top yang tinggi tsaqofahnya, tajam lisannya, dan ikhlas hatinya? Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Kuat Mental Walaupun Dibully

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 7, 2017

Bagaimana rasanya ketahuan berbicara tanpa ilmu di depan publik yang banyak? Bagaimana pula rasanya jika kemudian dibully ratusan ribu orang atau bahkan jutaan orang di media sosial?

Saya yakin, pasti malu dan sakit pakai banget.

Kita pun pernah mendapatkan berita bahwa orang yang dibully bisa depresi, kemudian bunuh diri. Ya bunuh diri, sampai mati. Mati beneran, bukan sekedar mematikan akun media sosial. Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Agama, Sumber Kebaikan atau Sebab Kekacauan?

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 4, 2017

Jika ada orang yang meyakini bahwa agama yang dianutnya adalah agama satu-satunya yang benar, yang akan menyebabkan kebaikan di dunia dan di akhirat, dan di saat yang sama ia meyakini bahwa jika ajaran agamanya tersebut diamalkan, maka masyarakat bahkan negerinya akan menjadi kacau, berpecah belah, bahkan rusuh dan rusak. Jika benar ada orang berpemikiran demikian, itu masuk nalar apa tidak ya? Alur logikanya bagaimana? Sesuatu yang baik, yang dijamin pasti benar oleh Sang Pencipta, justru menyebabkan kekacauan? Logis? Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Galau yang Tak Masuk Akal

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 4, 2017

Banyak orang yang galau ketika sudah lulus tapi belum juga punya pekerjaan.

Padahal, mati dalam keadaan menganggur itu tidak membuat masuk neraka.

 

Banyak orang yang galau ketika usia sudah 30 tahun ke atas tapi belum juga dapat jodoh.

Padahal, mati dalam keadaan jomblo itu tidak membuat masuk neraka. Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Merdeka untuk Taat, Bukan untuk Maksiat

Posted by Farid Ma'ruf pada Agustus 10, 2017

Rakyat negeri yang dijajah,

ia tidak akan bisa mudah untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

 

Mau sholat, sulit.

Mau belajar agama, sulit.

Bahkan penerjemahan Al Qur’an saja bisa dilarang. Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Rasa Malu

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 15, 2017

Jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu.” [HR. al-Bukhari]

Apa iya sih manusia beradab bisa tidak punya malu? Kalau binatang sih, bisa. Berbuat semaunya, sesuka hatinya. Itu binatang.

 

Kalau manusia?

Ternyata juga ada. Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Buta Hati

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 23, 2017

Beberapa hari yang lalu, seusai sholat magrib di Masjid Diponegoro Balai Kota Yogyakarta, saya dan istri berkendara melewati jalanan yang agak gelap. Saya melihat ada keramaian orang-orang menenteng semacam parcel lebaran. Isinya mungkin beras dan parcel. Uniknya, puluhan orang yang bergerombol di pinggir jalan tersebut membawa tongkat dan berjalan tertatih-tatih. Oh rupanya, mereka adalah kaum tuna netra. Usia mereka beragam. Ada yang muda, ada yang tua. Raut wajahnya menampakkan kegembiraan membawa paket parcel tersebut. Walau tentu mereka tidak bisa melihat wujud parcel tersebut.

Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Kalau ada Niat, Pasti ada Jalan

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 19, 2017

Dua hari ini, Kuliah Subuh saya terasa spesial. Karena dua hari berturut-turut, saya menyaksikan yang tidak biasa. Yaitu adanya jamaah yang menjadi peserta kuliah subuh tapi berkendara dengan kursi roda. Di masjid pertama, dia adalah bapak-bapak yang usianya mungkin sekitar 50 atau 60 tahun (belum begitu tua). Di mushola kedua, dia adalah ibu-ibu yang usianya mungkin juga sekitar 50 atau 60 tahun (belum begitu tua juga).

 

Bapak-bapak di masjid pertama, saya lihat cukup kerepotan ketika harus naik kursi roda. Sewaktu di dalam masjid, ia memang meninggalkan kursi rodanya di luar masjid, sehingga awalnya saya tidak tahu jika ia berkursi roda. Awalnya saya hanya bertanya-tanya, mengapa ada jamaah yang seperti menjauh. Apa tidak tertarik dengan kuliah subuh? Saya baru tahu jawabannya ketika kuliah subuh selesai dan jamaah pulang. Ternyata ia harus naik kursi roda yang ditinggal di halaman samping masjid. Saya lihat ada seseorang yang membantunya, dan mungkin mendorong kursi roda tersebut sampai rumah. Baca entri selengkapnya »

Posted in Renungan | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »