Farid Ma'ruf

Dunia Teknologi, Sastra, dan Dakwah

Kuterima Engkau dengan Basmalah

Posted by Farid Ma'ruf pada 27/10/2018

Demikian bunyi kalimat judul poster pengajian yang aku lihat dari status WA seorang teman. Tema tersebut mengingatkan saya pada judul buku karya M. Fauzil Adhim yang populer sekali beberapa tahun yang lalu. Bisa jadi, buku fenomenal ini menjadi salah satu faktor pendorong keinginan nikah muda khususnya di kalangan aktivis dakwah.

Tapi tema kajian tersebut nampaknya dibalik. Penulis buku tersebut laki-laki sehingga judulnya juga bergaya laki-laki. Menceritakan kisah si penulis yang nikah muda dengan segala macam lika-liku perjuangannya.

Sementara tema pengajian ini nampaknya dari sisi perempuan. Wajar karena memang pengajian untuk muslimah. Setelah saya lihat nama ustadzahnya, loh kok kenal. Ternyata tertulis nama istri saya sebagai pembicaranya. : )

Apa sih maksudnya kuterima engkau dengan bismillah? Saya belum sempat bertanya ke istri saya. Kalau penasaran, datang saja ke acaranya besok pagi.

Di sini saya akan berbagi masalah sudut pandang saja. Saya pernah dengar ada seorang teman yang bilang : “Wong lanang menang milih, wong wedok menang nolak.” Maksudnya : Laki-laki memang memilih, perempuan menang menolak. Menunjukkan bahwa laki-laki bebas menentukan ingin menikah dengan siapa saja yang ia sukai, sementara perempuan tidak bisa bebas memilih. Ia hanya menunggu saja siapa yang akan melamarnya. Tapi ketika ada pemuda yang sudah melamarnya, ia bisa menolak jika memang tidak suka.

Benarkah harus begitu?

Menurut saya, tidak.

Boleh saja dibolak-balik.

Perempuan yang memilih, laki-laki yang menolak juga bisa.

Ada kejadian seperti ini. Seorang perempuan diam-diam menaruh hati kepada seorang pemuda. Tentu saja perempuan tersebut merasa tidak pantas untuk menyatakan terlebih dahulu keinginannya. Jadi ia pasif saja menunggu lamaran si pemuda. Namun ternyata sang pemuda harapan tidak juga kunjung melamar.

Sampai akhirnya datanglah lamaran dari seorang pemuda. Sayangnya, lamaran itu datang dari pemuda lain. Bukan pemuda yang ia idolakan. Si perempuan akhirnya menerima lamaran pemuda tersebut dan menikahlah mereka.

Apa yang terjadi kemudian?

Rumah tangga mereka rusuh, gaduh.

Di ambang perceraian.

Nah, apakah hal tersebut harus terjadi? Mengapa si perempuan tidak mengajak saja pemuda yang ia harapkan untuk menikah? Bukankah hal tersebut diperbolehkan?

Ada lagi perempuan yang punya rasa kepada seorang pemuda. Tapi ia tidak utarakan. Hanya saja, ia suka memancing percakapan dengan pemuda tersebut. Jika pemuda tersebut menanggapi hanya karena ingin ramah saja, maka si perempuan hanyalah menunggu harapan kosong. Ketika si pemuda kemudian melamar perempuan lain, si perempuan tersebut hanya bisa bersedih. Di sisi lain, memancing percakapan jika tidak pada tempatnya, juga bisa berpotensi menjadi perbuatan dosa.

(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: