Farid Ma'ruf

Dunia Teknologi, Sastra, dan Dakwah

Pentingkah Calon Istri Cantik?

Posted by Farid Ma'ruf pada 29/06/2018

Ada screenshoot kalimat berikut ini yang beredar di media sosial :

Banyak ikhwan yang gembar-gembor siap ta’aruf…

Tapi begitu nazhor, liat wajah akhwatnya di bawah standar (menurutnya), langsung kuaaabooorrr…

Ternyata fitrah ikhwan tu tetap ingin akhwat jelita…

Ingin yang putih, imut, suruh aja nikah sama biji beras…

Ingin yang putih, tinggi, langsing, menyejukkan, suruh aja nikah sama kipas angin…

Betul?

= = =

 

Begitulah screenshoot yang saya lihat di media sosial.

Benarkah kecantikan memang bukan faktor yang penting?

Dalam hadits disebutkan :

Abû Hurayrah RA juga menuturkan bahwa Nabi SAW pernah
bersabda:
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena ecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung.”
(Muttafaq ‘alayhi)

Jadi, seorang pria disunnahkan untuk memilih wanita-wanita yang masih gadis dan diketahui bahwa ia seorang wanita yang subur. Kesuburannya dapat diketahui dari (kesuburan) ibunya atau bibinya baik dari pihak ayah atau ibunya. Seorang pria juga disunnahkan untuk memilih wanita yang agamanya baik; yang cantik sehingga ia dapat memelihara dirinya (dari dosa); serta memiliki garis keturunan yang baik, yaitu memiliki pangkal keutamaan, ketakwaan, dan kemuliaan.

Akan tetapi, semua itu bukan merupakan syarat, melainkan hanya sekadar anjuran dan keutamaan saja. Jika tidak dilakukan, maka seorang pria berhak memilih calon istri yang diridhainya, dan seorang wanita pun berhak memilih calon suami yang diridhainya.

Jelaslah bahwa faktor agama adalah perkara yang paling penting. Sementara faktor lainnya adalah anjuran saja. Merupakan pilihan masing-masing orang apakah ia akan menikahi wanita yang cantik atau tidak. Begitu juga para wanita. Perkara agama calon suami adalah perkara paling penting, sementara hal lainnya terserah si wanita itu sendiri. Boleh saja ia mencari yang ganteng, kaya, pintar, dan lain sebagainya.

Tentu saja dalam hal ini kedua belah pihak tidak perlu terlalu baper jika ditolak. Itu biasa saja. Melamar pekerjaan saja biasa ditolak, padahal hanya urusan pekerjaan. Seseorang yang ditolak dalam melamar pekerjaan bukan berarti ia tidak baik, mungkin saja hanya masalah selera si pemberi kerja dalam memilih pegawai.

Namun memang ada nasihat. Jika menolak lamaran seorang laki-laki misalnya karena kurang ganteng atau karena kurang kaya, tidak perlu disebutkan alasannya. Bilang saja belum cocok. Begitu pula jika seorang laki-laki tidak berniat meneruskan taaruf karena merasa si wanita kurang cantik, tidak perlu bilang alasannya. Cukup disampaikan belum cocok. Ini agar menjaga perasaan orang lain.

Tapi jika alasannya faktor agama (misalnya diketahui orang tersebut sering bermaksiat),  maka sampaikan saja terus terang alasannya kepadanya. Agar menjadi nasihat baginya untuk meninggalkan kemaksiatan. (www.faridmaruf.wordpress.com)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: