Farid Ma'ruf

Dunia Teknologi, Sastra, dan Dakwah

Generasi Rindu Islam

Posted by Farid Ma'ruf pada 17/06/2018

Generasi Z (usia 18 – 21 tahun) di Indonesia menganggap bahwa agama paling penting. Jumlahnya mencapai 93%. Demikianlah hasil survey Varkey Foundation pada 2017 yang lalu di 20 negara.

Seperti kita tahu, generasi Z ini sangat akrab dengan yang namanya gadget, smartphone, internet, media sosial, kanal video online, dan sejenisnya.

Dengan kata lain, inilah salah satu indikasi keberhasilan para juru dakwah dalam membina masyarakat khususnya untuk segmen generasi muda.

Generasi Z ini bisa mengambil kesimpulan bahwa agama adalah faktor penting tentu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Tapi tentu melalui proses penerimaan informasi agama (baca dakwah) kemudian masuk di alam pemikiran mereka. Kemudian diambillah kesimpulan tersebut oleh mereka.

Data ini kemungkinan tidak akan membuat senang mereka yang berpaham sekuler (yang menginginkan agama hanya boleh berada di ranah individu saja, tidak boleh dibawa ke ranah lain seperti ekonomi dan politik). Bagi kaum sekuler, agama adalah persoalan privat, tidak boleh dibawa-bawa ke ranah lain misalnya kebijakan politik. Sebagai contoh memilih pemimpin karena faktor agama, itu termasuk yang menurut kaum sekuler tidak benar.

Oleh karena itu, sangat mungkin Indonesia akan digempur dengan serangan pemikiran yang lebih dahsyat lagi. Tujuannya agar bangsa Indonesia ini mau meninggalkan faktor agama (kecuali hanya untuk masalah privat saja). Jangan sampai agama khususnya Islam menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Maka wajar jika muncul monsterisasi syariah Islam. Diopinikan bahwa jika Indonesia ini diatur dengan syariah Islam secara kaffah, maka akan muncul perpecahan, percekcokan, kerusuhan, peperangan, dan berbagai hal buruk lainnya. Bahkan pihak yang menginginkan syariah Islam diterapkan di Indonesia bisa dilabeli dengan tuduhan radikal, intoleran, dan anti kebhinnekaan.

Benarkah menerapkan syariah Islam berarti mengundang perpecahan, percekcokan, kerusuhan, ataupun peperangan? Benarkah menginginkan penerapan syariah Islam berarti radikal, intoleran, dan anti kebhinnekaan?

Tentu saja tidak. Rasulullah saw telah menerapkan syariah Islam di Madinah dan wilayah-wilayah lainnya yang berhasil dikuasai kaum muslim. Pada waktu itu diterapkan hukum-hukum Islam untuk mengatur masyarakat. Apakah berani menuduh beliau dengan tuduhan-tuduhan buruk seperti di atas? Kalau berani, ya tentu super kurang ajar namanya.

Oleh karena itu, para juru dakwah di Indonesia tidak boleh berhenti. Peperangan opini masih terus berlangsung dan mungkin semakin keras. Para juru dakwah harus semakin semangat menjelaskan kepada umat bahwa Islam adalah agama yang benar. Bahwa meyakini dan menerapkan Islam adalah bukti ketundukan kita kepada Allah, dan hal inilah yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Justru menerapkan paham yang selain Islam akan membuat manusia tidak bahagia baik di dunia maupun di akhirat. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Sumber infografik : https://katadata.co.id/grafik/2018/05/23/generasi-z-indonesia-anggap-agama-paling-penting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: