Farid Ma'ruf

Dunia Teknologi, Sastra, dan Dakwah

Rindu Kampung Akhirat

Posted by Farid Ma'ruf pada 25/05/2018

Orang-orang yang bertaqwa tidak memandang dunia sebagai tujuan akhir. Dunia ini tempat dan waktu untuk beramal sholeh.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

(yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,

dan gadis-gadis remaja yang sebaya,

dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta.

Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,

(TQS. An Naba ayat 31-36)

 

Sementara itu, ada sebagian orang yang justru menjadikan dunia ini sebagai tujuan. Mereka dustakan ayat-ayat Allah.

Di akhirat mereka akan menyesal. Saking menyesalnya, mereka merasa sebaiknya dahulu menjadi tanah saja. Karena siksaan di neraka yang amat sangat dahsyat. Dan mereka harus tinggal di dalamnya, suatu tempat yang tidak ada nikmatnya sama sekali. Mereka tidak mendapatkan minuman kecuali hanya air mendidih dan nanah.

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah“.  (TQS An Naba ayat 40).

 

Saudara-saudaraku, Allah sudah mengingatkan kita. Semua perbuatan kita di dunia ada balasannya. Allah Maha Adil. Allah tidak pernah salah.

 

Visi akhirat ini sangat penting agar kita tidak salah jalan di dunia.

Apalah arti harta, pangkat, dan jabatan, jika itu justru menjauhkan kita dari jalan Allah.

Jadikanlah harta, pangkat, dan jabatan itu untuk berjuang di jalan Allah.

 

Harta yang dikumpulkan puluhan tahun sampai setinggi gunung, Allah bisa mengambilnya kembali dalam sekejap saja tanpa sisa.

 

Pangkat dan jabatan yang tinggi, yang membuat manusia merasa jumawa, tinggi hati, sok kuasa, ancam sana, ancam sini, plithes sana, plithes sini, maka Allah bisa saja mengambil pangkat dan jabatan itu dalam sekejab saja. Dan membalikkan posisi manusia tsb menjadi lemah, tidak punya kuasa apa-apa, sementara orang yang sebelumnya lemah, berganti menjadi penguasanya.

Jangan menunggu malaikat Izrail menjemput baru bertaubat, karena itu sudah terlambat.

Belajarlah dari kisah Fir’aun.

Fir’aun penguasa yang super kuasa, tapi tidak mau taat kepada Allah. Padahal sudah datang kepadanya petunjuk Allah melalui lisan mulia Nabi Musa.

Apa respon Fir’aun?

Nasihat baik-baik itu ia tolak.

Bahkan ia mempersekusi dan menganiaya Nabi Musa dan pengikutnya.

Dan ketika sudah dalam kondisi sakaratul maut, Fir’aun mengatakan :

Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (TQS Yunus ayat 90).

Apakah taubatnya Fir’aun diterima?

Allah mengatakan :

Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (TQS Yunus ayat 91).

Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah Swt menerima taubat seorang hamba, selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya.” (HR. Tirmizi).

 

Yuk menuju ketaatan kepada Allah.

Bertaubat sekarang.

Ya sekarang !

Detik ini juga.

Bukan besok.

Bukan nanti.

Tidak ada tapi, tapi, tapi.

 

*Nasihat dan pengingat untuk diriku sendiri.

Farid Ma’ruf (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: