Farid Ma'ruf

Dunia Teknologi, Sastra, dan Dakwah

Merdeka itu Harus Bisa Bersopan Santun

Posted by Farid Ma'ruf pada 17/08/2017

Rabu, 16 Agustus 2017 yang lalu, di depan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, saya berpapasan dengan rombongan wisatawan mancanegara berkulit putih. Ada satu kejadian yang cukup menarik perhatian saya. Seorang wisman (laki-laki) turun dari sepeda motor Gojek yang ia tumpangi. Usai turun, ia tidak segera pergi. Tetapi ia menghadap ke arah driver Gojek (dari sisi kiri sepeda motor). Ia menundukkan kepala dan badan, kedua tangan ke depan, wajah cerah berseri, bibir tersenyum, sambil mengucapkan : “Terima kasih, thank you”.

Mengucapkan terima kasih dan bersopan santun memang sudah sepantasnya dilakukan. Baik kepada orang yang dari sisi sosial, usia, ilmu, dll. Lebih tinggi, setara, ataupun lebih rendah. Sopan santun tidak hanya kepada yang lebih saja, sementara kepada yang setara atau lebih rendah boleh tidak sopan dan tidak tahu terima kasih.

 

Wisman tersebut memberikan contoh kepada kita tentang menghargai orang lain dan berterima kasih. Walaupun bisa jadi ia adalah warga negara yang negaranya jauh lebih maju daripada Indonesia. Secara sosial, driver Gojek mungkin juga bukan status pekerjaan yang dianggap tinggi. Tapi bukan berarti itu menghalanginya untuk menghargai dan berterima kasih.

 

Nah, sudah semestinya pula kita juga bisa. Apalagi jika kita sudah mengklaim sebagai bangsa yang ramah, bersopan santun, sekaligus religius. Coba kita perhatikan sekitar kita. Sudah kah menghargai orang lain dan berterima kasih menjadi kebiasaan? Ataukah justru sebaliknya? Sering menganggap rendah orang lain yang tidak mentereng status pekerjaan dan status sosialnya? Kepada orang yang status sosialnya dianggap lebih rendah pelit memberikan senyuman? Tidak mau mengucapkan terima kasih? Susah berwajah cerah berseri?

 

Jangan sampai kita merasa merdeka, tetapi sebenarnya terjajah oleh hawa nafsu sendiri. Salah satu ciri penampakannya, ya merendahkan orang lain. Merasa dirinya tinggi, lebih layak dihormati. Padahal, manusia itu semuanya sama. Sama-sama hamba. Yang membedakan adalah ketaqwaannya.

 

Termasuk juga, merasa merdeka kemudian diartikan bebas, boleh berbuat apa saja tanpa dibatasi. Itu salah. Merdeka itu ya taat. Bebas untuk berbuat baik, tapi terhambat untuk berbuat jelek. Bukan bebas berbuat buruk, dan perbuatan baik dilarang-larang. Itu namanya dijajah. (Catatan 17 Agustus 2017; www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: