Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Buta Hati

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 23, 2017

Beberapa hari yang lalu, seusai sholat magrib di Masjid Diponegoro Balai Kota Yogyakarta, saya dan istri berkendara melewati jalanan yang agak gelap. Saya melihat ada keramaian orang-orang menenteng semacam parcel lebaran. Isinya mungkin beras dan parcel. Uniknya, puluhan orang yang bergerombol di pinggir jalan tersebut membawa tongkat dan berjalan tertatih-tatih. Oh rupanya, mereka adalah kaum tuna netra. Usia mereka beragam. Ada yang muda, ada yang tua. Raut wajahnya menampakkan kegembiraan membawa paket parcel tersebut. Walau tentu mereka tidak bisa melihat wujud parcel tersebut.

Seketika itu juga, saya merasa bersyukur bahwa kedua mata saya bisa bekerja dengan normal. Bahkan berkacamata pun tidak. Suatu nikmat dari Allah yang mau tidak mau harus disyukuri. Betapa beratnya kehidupan saudara-saudara kita yang tuna netra sehingga tidak bisa melihat. Mereka buta. Berangkat ke lokasi pembagian parcel pun saya yakin menjadi perkara yang sangat sulit. Bagaimana caranya berangkat dari rumah menuju lokasi tujuan? Bahkan, undangan pun jika tertulis di kertas undangan, atau di teks pesan singkat semacam WA, tidak akan bisa mereka baca. Belum lagi untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka bisa bekerja? Tentu sangat sulit.

 

Sementara itu, berbagai hal yang bagi mereka sangat sulit tersebut, bagi kita yang kedua matanya normal, sangat mudah kita lakukan. Sesuatu yang jelas nyata, cetho welo-welo ketok moto bagi kita, bagi mereka itu sesuatu yang tidak mudah diiidentifikasi. Mungkin mereka butuh waktu untuk bertanya kepada orang lain, atau menggunakan indera yang lain untuk mengidentifikasinya. Tapi itu pun bukan perkara mudah. Belum tentu di dekatnya ada orang yang bisa ditanyai.  Belum lagi jika ada orang tapi ternyata tidak jujur. Misalnya, mereka diberi uang Rp100ribu. Bagi kita yang normal, sangat mudah mengidentifikasi uang Rp100ribu. Tapi bagi mereka? Mungkin harus dengan meraba-raba, kemudian bertanya kepada orang lain yang terpercaya yang memberitahu mereka. Bagaimana jika dibohongi? Disebut itu hanya uang Rp10ribu? Bahkan mereka pun tidak akan tahu, atau setidaknya terlambat menyadari jika dibohongi.

 

Kemudian saya berpikir lagi. Buta mata itu memang sesuatu yang sangat tidak nyaman. Bahkan bisa mudah celaka, misalnya menabrak, terjatuh di lubang, dan lain sebagainya. Tapi, ada kebutaan lain yang jauh lebih berbahaya. Apa itu? Buta Hati.

 

Ada perkara-perkara yang bagi orang yang punya iman dan taqwa, sesuatu itu mudah dikenali. Itu halal, itu haram, itu baik, itu buruk, dan lain sebagainya. Tapi, ada sebagian orang yang ternyata tidak mudah mengenalinya, walaupun bagi kita, sesuatu itu sangat nyata, cetho welo-welo ketok moto buruknya. Tapi bagi mereka, entahlah. Mereka tidak bisa memahami bahwa itu buruk. Bahkan walau mereka punya gelar berderet. Bahkan bagi mereka yang mengaku lama belajar agama, mengaku ilmu agamanya tinggi. Sesuatu yang buruk itu kelihatan baik bagi mereka, sementara sesuatu yang baik itu kelihatan buruk bagi mereka.

 

Hidayah memang tidak murah. Hidayah harus dicari. Kita harus bersyukur jika hati kita bisa melihat. Ini baik, itu buruk. Ini halal itu haram. Sesuatu yang baik kita ambil, yang buruk kita tinggalkan. Sesuatu yang halal kita ambil, sesuatu yang haram kita jauhi. Tapi bagaimana dengan mereka yang buta hati? Mereka yang buta hati bisa mencela kebaikan dan menyanjung keburukan.

 

Kesusahan karena buta mata ternyata jauh lebih kecil daripada kesusahan karena buta hati. Buta mata di dunia, tapi jika tidak buta hati, insya Allah akan selamat di akhirat. Sementara tidak buta mata tapi buta hati, maka celakalah nasibnya di akhirat. Celaka….

 

Bersyukurlah jika kita diberi Allah kedua mata yang normal, dan hati yang normal juga, yaitu hati yang memiliki iman dan taqwa. Bukan hati yang buta.

 

Sebagai penutup tulisan ini, mari kita renungkan bait-bait nasyid berbahasa Malaysia berikut ini. Saya sudah hafal lagu nasyid ini sejak sekitar 20 tahun yang lalu ketika masih SMA. Tapi saya benar-benar merasa tersentuh oleh isinya dalam beberapa hari ini, yaitu ketika melihat fenomena buta mata dan buta hati. (www.faridmaruf.wordpress.com)

 

Buta Mata

 

Buta mata tak nampak jalan di dunia

Kerana tidak nampak cahaya

Tidak tahu ke mana hendak dituju

Ke hilir atau ke hulu

 

Selamatlah di dunia fana ini

Bila mana mata tidak buta

Melalui pengalaman diri

Kerana jalan itu sudah biasa

 

Ada pedoman yang menunjuk kita

Tongkat di tangan membantu jua

Boleh jadi orang simpati yang membawa

Tapi jika buta hati menderita

 

Tidak nampak jalan menuju ke akhirat

Negeri yang kekal abadi

Tidak diukur… tidak diukur dengan masa

Tidak ada kawan yang dapat membantu

 

Tiada pengalaman yang memastikannya

Tiada pedoman yang menunjuk kita

Tidak ada yang pasti menolong kita

Dalam kegelapan terjun ke neraka

 

Menderita ke negeri yang abadi

Tidak kembali ke dunia lagi

Tiada gunanya penyesalan diri

Oleh itu banyakkanlah amal dan bakti

 

Nadamurni & Puteri Arqam-Buta Mata ( Eye Blind )

 

Link nasyidnya di sini :

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: