Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Proposal dan Bukti Kesiapan Nikah

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 8, 2017

Dulu waktu taaruf tahap ketiga, saya mengirimkan biodata yang wujudnya ada kemiripan dengan proposal kegiatan. Sekedar info, taaruf tahap pertama saya tidak membuat biodata. Saya hanya bilang kepada para “relawan” yang tanpa saya minta sudah pada rajin bergerilya mencarikan calon istri : -+ “Kalau mau mencarikan calon, ya ceritakan saja deskripsi saya seperti apa yang anda lihat/nilai tentang diri saya. Kalau ada akhwat yang tidak mau, tidak perlu bilang kepada saya. Kalau ada akhwat yang mau, dan anda nilai baik untuk saya, silakan bilang kepada saya.” Dengan demikian, saya tidak mau repot dengan sakit hati gara-gara lamaran ditolak. Wegah berurusan dengan itu. Saya mau maunya nolak aja, nggak mau ditolak. Wkwkwk…

 

Biodata tersebut ada isinya yang menggambarkan kondisi aktual ditambah perencanaan dalam wujud yang realistik (bukan wujud awang-awang). Intinya, hal-hal krusial yang semestinya calon istri tahu, baik kondisi aktual maupun perencanaan masa depan, termuat di biodata tersebut. Biodata asli 100% menulis sendiri ya, bukan copas kalimat motivasi gitu. Kondisi aktual berisi deskripsi yang secara tidak langsung sebenarnya memuat “keunggulan kompetitif”. Ibarat jualan barang, ya deskripsikan keunggulan barangnya apa. Misalnya jika jualan tas, ya deskripsikan keunggulan tasnya. Misalnya : tas ini terbuat dari bahan yang aman dipakai (tidak berbahaya), awet (tidak mudah sobek), model trendy, dan lain sebagainya. Intinya kalau kemudian ada orang menolak membeli tas, itu kemungkinan hanya ada dua sebab, yaitu : pertama, dia tidak butuh tas. Kedua, dia tidak punya uang yang cukup.

 

Sekian waktu setelah menikah, saya bertanya kepada istri saya. Apa alasan dulu menerima lamaran? Ternyata salah satu aspeknya adalah : sistematika. Katanya (kurang lebih), kalimat-kalimat saya bahasanya sistematis. Menunjukkan kalau orangnya ada alur berpikir dan nampak ada kesiapan. Berbeda dengan calon yang lain.

 

Dalam kasus lain (waktu sebelumnya), tanpa meminta, saya pernah juga disodori biodata seorang akhwat. Dalam waktu 5 menit, biodata tersebut langsung saya “glethekke” dan nggak saya perhatikan lagi. Apa alasannya? Karena biodata super singkat tersebut tidak membuat saya tertarik sama sekali. Mulai dari biodata yang hanya ditulis di kertas sobekan buku, tulisan singkat hanya memuat nama, tempat lahir, nama ortu, dan sejenisnya, dan fotonya juga tidak menarik. Nah, ternyata membuat biodata yang menarik itu tidak gampang.

 

Oleh karena itu, karena kami sering juga dimintai tolong mencarikan calon (suami-istri), kemudian dititipi biodata. Membaca kalimat-kalimat dalam biodata, kadang saya terus menilai sejauh mana kesiapan si penulisnya. Memang sering berujung prihatin. Bahasanya kurang menunjukkan kesiapan. Bahkan mendeskripsikan dirinya sendiri pun saya nilai gagal. Apalagi menuliskan keunggulan dirinya.

 

Pelajaran :

  1. Jika ada ikhwan merasa : “Kok akhwatnya pilih-pilih?”.

Komentar : Memilih calon memang harus selektif, harus pilh-pilih. Tidak asal diterima begitu saja.

 

  1. Jika ada akhwat merasa : “Kok ikhwannya pada nggak berani datang melamar?”

Komentar : Itu tentu karena ikhwannya paham bahwa datang melamar itu berarti harus siap. Bukan berani datang karena modal nekat.

 

Semoga bermanfaat. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: