Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Mak Comblang Mal Praktik

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 28, 2016

Barusan baca postingan teman FB tentang seorang akhwat yang ditipu mentah-mentah oleh seorang ikhwan. Akhwat tsb adalah akhwat yang ngaji, berjilbab tentunya. Ia tidak pacaran. Taaruf Islami dengan dibantu Ustadz yang menjadi perantara/mak comblang (mc). Ikhwan tersebut tampilan luarnya nampak Islami. Banyak hafalan ayat Al Qur’an. Imam sholat di masjid. Namun ternyata kelakuan aslinya tidak Islami. Bahkan melakukan dosa besar.

MC yang hanya kenal luarnya saja si ikhwan pun berlepas tangan. MC juga tertipu oleh ikhwan gadungan tersebut.

 

Teman yang posting SS curhatan seorang akhwat via WA tersebut pun menambahkan bahwa, jika seorang akhwat hendak menerima lamaran, hendaknya jangan menyerahkan sepenuhnya proses kepada MC atau pihak ketiga. Si akhwat tersebutlah yang akan menikah, bukan MC. Dan jika terjadi hal-hal buruk, si akhwat tersebut pula yang akan menanggung dampak beratnya, bukan si MC.

 

Di sini saya tidak akan membahas tentang akhwatnya. Tapi MC-nya. Mal praktik memang banyak terjadi. Dokter mal praktik (dalam mengobati pasien), orang tua mal praktik (dalam mendidik anak), dan ada pula MC mal praktik (dalam membantu perjodohan).

 

Seseorang yang mengaku “dokter” yang memasang plakat “mengobati segala macam penyakit seperti : jantung, ginjal, diabetes, wazir, darah tinggi, darah rendah, keputihan, dlsb (panjang pokoknya)”, bisa jadi bukan dokter hebat. Tapi “dokter” ngawur.

 

Seseorang yang menikah di usia sangat muda, kemudian segera punya anak, tidak bisa dijamin sebagai orang tua hebat. Bisa jadi ia orang tua ngawur.

 

Seseorang yang menjadi Mak Comblang (MC) dan telah menjadi perantara/membantu perjodohan banyak ikhwan akhwat, belum tentu MC hebat. Sangat mungkin ia MC ngawur.

 

Dalam segala urusan, carilah orang yang kompeten untuk membantu anda. Mereka yang ngawur memang belum tentu berniat jahat. Sangat mungkin niatnya baik. Tapi kita sendiri yang harus selektif dalam memilih seseorang untuk menyerahkan suatu urusan.

 

“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya”

(HR. Bukhari).

 

(28 Desember 2016; Farid Ma’ruf)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: