Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Birokrasi Taaruf

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 6, 2016

Birokrasi Taaruf

 

Kesadaran untuk taat syariah warga di negeri ini cukup banyak peningkatan. Salah satunya adalah kesadaran untuk menikah tanpa pacaran. Meski tidak bisa dipungkiri, remaja yang pacaran juga masih amat sangat banyak sekali. Kalangan yang sadar syariah ini nampaknya memang bukan lahir ujug-ujung begitu saja. Tapi hasil dari proses pembinaan berbagai organisasi dakwah Islam di tanah air. Wajar jika kalangan yang anti pacaran biasanya juga merupakan anggota atau simpatisan organisasi dakwah.

 

Menikah tanpa pacaran memang menjadi arus baru. Sayangnya, tidak jarang sebagian orang masih salah dalam aspek-aspek lainnya. Misalnya taaruf yang tidak sempurna, walimahan yang masih ikhtilat, dan masih banyak lagi.

 

Dalam tulisan singkat kali ini, saya bermaksud sedikit menyingggung masalah taaruf yang dalam pandangan saya masih menyisakan banyak masalah. Benar, pacaran itu haram. Aktivitas yang sesuai syariah itu taaruf. Taaruf ini bukan berarti beli kucing dalam karung, tetapi proses yang jelas dengan hasil yang jelas pula. Nah, tidak jarang saya temukan suami istri yang kehidupan rumah tangganya nampak ada masalah. Selidik punya selidik, kalau dirunut, ternyata proses taarufnya saya nilai bermasalah. Apa masalahnya? Bisa jadi banyak. Namun kali ini saya hanya akan singgung satu masalah saja, yaitu tidak adanya birokrasi taaruf.

 

Birokrasi taaruf? Istilah apalagi itu? Jangan mengada-ada dalam masalah agama ya!

Tenang dulu. Maksud saya begini. Tadi di depan sudah saya singgung bahwa pelaku menikah tanpa pacaran biasanya adalah hasil binaan berbagai organisasi dakwah. Mereka ada pembina yang mengajari mereka untuk paham syariah, juga mengawasi mereka agar selalu taat syariah. Ketika merasa sudah paham syariah dan mempraktikkan masalah taaruf, tidak jarang taaruf melalui orang yang sebenarnya tidak begitu kenal. Sebut saja MC “sukses”. Disebut MC sukses karena memang sudah banyak yang ia bantu taaruf dan sukses menikah. Namun, sebenarnya MC ini tidak benar-benar kenal dengan kedua pasangan yang ia bantu. Alias ya coba-coba saja. Kalau mau ya alhamdulillah. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Cara seperti ini saya sebut jalur samping. Tidak jarang juga ada jalur tembak langsung. Tentu tidak haram, tapi menurut saya, resikonya jauh lebih besar daripada melalui birokrasi taaruf.

 

Apa itu birokrasi taaruf?

Begini. Misalnya seorang ikhwan Jogja bernama Bejo ingin mencari calon istri. Ia tertarik kepada seorang akhwat Magelang bernama Tuginah. Bejo mengenal Tuginah dari pertemanan di Facebook. Ada beberapa alternatif Bejo dalam proses taaruf dengan Tuginah.

 

Pertama, Tembak Langsung.

Bejo mengirim pesan pribadi (inbox) kepada Tuginah. Ia utarakan maksudnya untuk taaruf dan khitbah. Tuginah melihat profil dan postingan-postinga si Bejo. Nampaknya Islami. Ia pun mau menerima lamaran si Bejo. Boleh saja sih cara ini, tapi resikonya besar. Bagaimana jika ternyata si Bejo ini ikhwan gadungan? Bagaimana jika ternyata si Bejo ini hanya alim di sosmed saja? Di dunia nyata error? Bagaimana jika ternyata Bejo ini masih pengangguran? Atau memang benar si Bejo ini anggota organisasi dakwah, tapi masih banyak kekurangan. Resikonya besar kan? Jadi, cara tembak langsung ini tidak saya rekomendasikan. Bahkan anda patut sangat waspada jika ada ikhwan yang main tembak langsung.

 

Kedua, Jalur Samping.

Bejo meminta tolong kepada Gendro, temannya seorang simpatisan organisasi dakwah di Magelang. Teman itu ia kenal ketika sama-sama hadir dalam acara pengajian akbar suatu waktu. Akhirnya dibantulah proses taaruf dan sukses menikah. Bahagia? Cukup besar resiko tidak bahagia. Gendro tidak benar-benar kenal dengan Bejo. Memang benar Bejo ini anggota organisasi dakwah yang sama. Ia juga aktif di berbagai kegiatan. Tapi bagaimana track record si Bejo, tentu Gendro tidak tahu secara mendalam. Bagaimana jika ternyata Bejo ini dari keluarga broken home? Bagaimana jika Bejo ini secara finansial masih sangat kekurangan? Bagaimana jiia si Bejo ini ternyata sering tidak bayar infak bulanan? Bagaimana jika ternyata si Bejo ini sering tidak masuk pengajian rutin mingguan? Jadi, jalur samping ini juga tidak saya rekomendasikan. Bahkan anda patus sangat waspada jika ada ikhwan yang mengajak taaruf via jalur samping.

 

Ketiga, Jalur Birokrasi Taaruf

Sebelum kita membahas birokrasi taaruf, kita bahas dulu birokrasi pada umumnya. Kita mungkin pernah berurusan dengan birokrasi pemerintahan. Mungkin ketika mengurus KTP, surat nikah, atau izin usaha. Bagaimana prosesnya? Tidak jarang orang berkomentar :

“Dipersulit. Dipong-pong kesana kemari”. Dan komentar senada lainnya. Bahkan sampai ada yang komentar : “Jika bisa dipersulit, mengapa harus dipermudah?”

Contoh saja ketika mengurus izin usaha. Kita akan dipaksa melakukan proses yang tidak sederhana, misalnya :

  1. Akta Notaris.
  2. Persetujuan dari pemilik lokasi usaha. Ini misalnya jika kita menyewa rumah/gedung (bukan tempat milik kita sendiri).
  3. Persetujuan/izin dari tetangga dari 4 penjuru mata angin. Persetujuan ditandai dengan tanda tangan bermaterai, juga foto kopi KTP. Proses ini tentu tidak mudah jika usaha/bisnis yang dilakukan memang bermasalah (mengganggu tetangga). Inilah filter pertama. Pemerintah ini memastikan bisnis yang dilakukan tidak mengganggu tetangga sekitar dan berpotensi konflik di masa depan.
  4. Persetujuan dari Ketua RT.
  5. Persetujuan dari kepala Dusun.
  6. Persetujuan dari Kepala Desa/Lurah.
  7. Persetujuan dari Kantor Kecamatan.
  8. Persetujuan dari badan Lingkungan Hidup.
  9. Izin dari Dinas Perizinan.
  10. Dan masih bisa banyak lagi, tergantung izin di bidang usaha apa.

Wow, banyak sekali ya…

Tapi ya itu memang harus dilalui agar mendapatka izin usaha.

 

Dalam kasus taaruf,Bejo meminta tolong kepada ustadznya untuk mecarikan calon istri (jika memang Bejo tidak punya pandangan sama sekali mau melamar siapa). Atau jika ia memang ada pandangan untuk taaruf dengan Tuginah, maka ia minta tolong kepada ustadznya untuk memproseskan. Di sisi lain, Tuginah juga melakukan hal yang sama.

 

Ustadz terdekat yang secara rutin mengajarnya untuk taat syariah, juga rajin membimbingnya, tentu tahu luar dalam si Bejo.

Misalnya :

Apakah Bejo rajin berangkat kajian rutin mingguan? Dalam satu tahun, berapa kali ia absen? Berapa kali ia terlambat? Tentu ustadznya sangat mengetahuinya.

Apakah Bejo rajin membayar infak wajib organisasi dakwah? Jika bayar, berapa infaknya?

 

Jika ustadzya menilai Bejo adalah ikhwan yang baik dan siap menikah, tentu ustadznya akan memprosesnya bertaaruf. Tapi jika Bejo ternyata kurang baik (misalnya sering bolos pengajian), infaknya terlalu kecil, sering tidak bayar infak, dan lain sebagainya, maka tentu ustadznya tidak akan memproses Bejo bertaaruf sekarang. Itu beresiko. Kasihan akhwatnya, bisa menjadi korban mal praktik si Bejo.

 

Ketika ustadz terdekat si Bejo (ini ibarat Pak RT), maka struktur pengurus organisasi dakwah di atasnya akan melakukan proses berikutnya Proses mulus ke atas sampai struktur organisasi dakwah di Magelang yang melakukan proses serupa.

Jadi, jalur birokrasi ini jauh lebih aman. Proses tentu juga akan dikawal dengan baik.

 

Apakah memang birokrasi taaruf ini sebaiknya menjadi program resmi setiap organisasi dakwah? Tentu tidak. Ini hanya side job saja bagi pengurus organisasi dakwah. Organisasi dakwah tetap harus fokus pada tujuan organisasinya, bukan justru mengurusi pernikahan anggotanya. (www.faridmaruf.wordpress.com, Facebook.com/FaridM)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: