Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Acara Walimahan, Kesalahan Berulang

Posted by Farid Ma'ruf pada Agustus 1, 2016

“All things are created twice; first mentally; then physically”.– Stephen Covey

 

Banyak acara pernikahan zaman sekarang yang sangat melanggar syariah Islam. Walaupun penyelenggara adalah tokoh Islam. Miris. Acaranya campur baur laki-laki dan perempuan, juga ada penyanyi perempuan berbusana minim menyanyi di panggung. Masyarakat mungkin sudah menganggap hal tersebut wajar.

 

Sementara itu, sebagian umat Islam yang sudah sadar syariah, tidak mau pesta model seperti itu. Maka si anak gadis yang sudah “ngaji” pun ingin acaranya Islami. Diantaranya, tempat tamu laki-laki dan perempuan dipisah.

 

Namun seringkali, hal tersebut tidak ia rencanakan matang. Acara walimahan ia serahkan sepenuhnya kepada panitai (dari keluarga atau masyarakat). Kemudian menjelang acara ia USUL/MEMINTA agar lokasi dipisah. Panitia pun tidak mau karena dianggap tidak lazim. Akhirnya, si akhwat hanya bisa PASRAH.

 

Dimana salahnya?

Nah, ternyata si akhwat tadi tidak membuat perencanaan detail. Harusnya ia membuat rencana detail tentang acaranya. Perencanaan tersebut kemudian ia sampaikan kepada bapak/walinya. Tentu targetnya harus disetujui. Perencanaan ini tidak harus menunggu ada calon suami ya. Bisa jadi perencanaan ini disampaikan LIMA TAHUN sebelum pernikahan. Tentu calonnya juga belum ada. Mengapa harus jauh hari? Tentu karena menjelaskan sebuah rencana yang tidak lazim di masyarakat bukanlah perkara mudah. Perlu menjelaskan dalil-dalilnya, contoh-contohnya, juga meyakinkan dalam aspek konsekuensi sosialnya.

 

Jika sudah sefrekuensi dengan ayah/wali, maka transfer berikutnya adalah kepada panitia. Kali ini tentu dilakukan ketika sudah dekat waktunya, ketika sudah ada calon suami. Caranya, bukan dengan meminta tolong kepada masyarakat secara PASRAH BONGKOKAN. Tetapi dengan strategi sebagai berikut :

Pertama, menyampaikan bahwa anak gadis alhamdulillah sudah dilamar seorang pemuda, dan akan segera akad nikah.

Kedua, keluarga sudah membuat rancangan acara dan rancangan kepanitiaan.

Ketiga, rancangan acara adalah sebagai berikut (jelaskan dengan gamblang). Titik kritisnya : Di sini yang punya gawe adalah keluarga. Maka acara model apapun, ya terserah keluarga. Mau disetting seperti apa, tempatnya seperti apa, ya itu hak prerogratif keluarga. Siapapun (termasuk Pak RT, Pak Dukuh, sampai Pak Lurah pun) tentu tidak punya hak dan tidak bisa mengintervensi.

Keempat, rancangan kepanitiaan adalah sebagai berikut (jelaskan). Titik kritisnya adalah : Panitia tidak harus hanya dari satu sumber yaitu dari masyarakat sekitar saja, tapi bisa dikombinasikan dengan keluarga dan teman di organisasi dakwah. Sesuaikan posisi kepanitiaan dengan latar belakangnya.

Kelima, susun dan deklarasikan susunan kepanitiaan. Ada SC dan OC. Panitia SC adalah dari keluarga inti (akhwat yang akan menikah adalah anggota SC, sementara ketua SC adalah ayah/wali). Sementara panitia OC adalah kombinasi dari : keluarga besar, masyarakat sekitar, dan teman di organisasi dakwah. Tentu saja ada ketua panitia, sekretaris, bendahara, koordinator seksi, dlsb. Berikan job description masing-masing panitia. Konsekuensinya, siapapun tidak bisa mengintervensi kepanitiaan (walaupun dia Simbah, Pak Dhe, Budhe, Pak Lurah, dlsb). Kalau bukan panitia, ya manut saja. Sementara, panitia juga dibatasi kewenangannya sesuai posisinya di dalam kepanitiaan. Panitia OC tidak berhak mengubah rancangan yang sudah dibuat panitia SC. Jika konsep dari SC adalah tempat tamu laki-laki dan perempuan adalah terpisah, maka ketua OC dan siapapun tidak berhak mengganti dengan mencampurnya.

Keenam, bikin time schedule dan monitoring.

Dan seterusnya (maaf tidak saya jelaskan detail). Prinsipnya sesuai standard kalau kita mengurus kepanitiaan. Sama persis kok. Hanya beda acara saja.

 

Nah, jadi jika anda sekarang adalah mahasiswi semester 1, dan anda berencana menikah 5 tahun lagi (setelah lulus kuliah), maka sekarang adalah saat yang tepat untuk merancang dan mempresentasikan rancangan anda kepada ayah/wali anda. Jangan menunggu waktu kritis baru disampaikan.

 

Tidak merencanakan berarti merencanakan kegagalan.

Tidak ada keteraturan di dunia ini yang mendadak mak bedunduk ada sendiri. Semua pasti ada rancangannya.

 

Terakhir, sebelum anda protes “Ah, teori, prakteknya susah”. “Anda kan tidak mengalami”, dlsb. Perlu saya sampaikan bahwa saya pernah menemui hal mirip seperti di atas. Dari pihak keluarga sudah membuat rancangan lengkap. Ada rancangan acara detail, juga susunan panitia detail. Rancangan detail tersebut dibuat dalam buku panduan yang cukup tebal. Buku panduan panitia tersebut dicopy sebanyak panitia. Ketika keluarga tersebut mengundang masyarakat sekitar untuk rapat panitia persiapan pesta pernikahan, buku tersebut dibagikan. Masyarakat yang menjadi panitia pun HO OH saja (tidak ada seorang pun yang protes). Sadar bahwa acara model apa pun, ya terserah keluarga. Masyarakat ini membantu apa yang diminta keluarga tersebut.

 

Update :

Hari pernikahan tentu adalah salah satu hari paling membahagiakan dalam hidup kita. Ada yang menyebutnya sebagai Ratu Sehari. Namun tidak jarang saya saksikan, ada beberapa pasangan aktivis dakwah yang nampaknya justru tidak bahagia di hari tersebut. Apa sebabnya? Karena di hari-hari menjelang pesta pernikahan, ia bersitegang dengan keluarga dan masyarakat. Ia ingin pesta pernikahan yang Islami (misalnya tempat tamu laki-laki dan perempuan dipisah), tapi keluarga dan masyarakat menolak. Kebahagiaan pun sirna berubah menjadi ketegangan dan haru biru “perjuangan”.

Tentu hal tersebut tidak perlu terjadi jika sejak jauh hari (misalnya lima tahun sebelumnya) sudah ada komunikasi yang baik dengan ayah/wali dan keluarga. Menyamakan frekuensi bukan perkara mudah. Ketika pihak-pihak utama sudah sefrekuensi, maka akan lebih mudah dan lebih terasa membahagiakan.

 

http://www.faridmaruf.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: