Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Kebiasaan-kebiasaan Terkait Nama yang Berpotensi Merugikan di Masa Mendatang

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 25, 2016

dispendukDi masyarakat, sering kita jumpai nama seseorang yang berganti. Atau berbeda antara nama panggilan dengan dokumen resmi. Bisa jadi memang keren. Tapi, tahukah kita potensi masalahnya? Berikut ini saya tuliskan contoh-contoh kebiasaan penggantian nama yang pernah saya temui.

  1. Nama Muda – Nama Tua

Di masyarakat Jawa, seringkali dikenal nama muda-nama tua. Nama tua biasanya mulai dipakai ketika menikah.

Misalnya seseorang namanya adalah Wiji. Ketika menikah berganti nama menjadi Tejo Suprapto.

Hal seperti ini bisa berpotensi merepotkan ketika tidak disertai perubahan dokumen terkait  secara menyeluruh. Misalnya : KTP, KK, Ijazah SD, Ijazah SMP, Ijazah SMA, buku nikah, dlsb.

 

  1. Istri Mengikuti Nama Suami

Di masyarakat Jawa juag biasa seorang istri berganti nama dengan nama suami dengan tambahan ibu atau nyonya. Misalnya seorang wanita bernama Yeni, menikah dengan Tejo Suprapto. Setelah menikah, nama Yeni hilang dan mungkin malah tidak/kurang dikenal. Justru nama yang dikenal adalah Ibu Tejo Suprapto, atau Nyoya Tejo Suprapto.

Hal seperti ini juga berpotensi merepotkan karena tidak ada dokumen kependudukan resmi atas nama Ibu Tejo Suprapto atau Nyoya Tejo Suprapto.

Lebih repot lagi ketika Tejo Suprapto ternyata berpoligami. Maka Nyoya tejo belum tentu Yeni.

Lebih repot lagi ketika Yeni bercerai dengan Tejo, kemudian menikah dengan Dono. Ia berubah nama lagi menjadi Nyoya Dono. Repot kan?

 

  1. Memakai Nama Alias

Tidak jarang juga ada sebagian orang yang memakai nama alias. Biasanya setelah menikah. Misalnya Wiji ketika punya anak bernama Fatih, maka mengganti nama menjadi Abu Fatih. Ketika berkenalan dengan orang-orang baru, ia mengenalkan diri dengan nama Abu Fatih (nama Wiji tidak dikenal). Undangan-undangan pun dikirim kepada nama Abu Fatih.

Suatu ketika, panitia pengajian di lain daerah mengundang Abu Fatih menjadi pembicara. Panitia pun membelikan tiket pesawat untuk orang bernama Abu Fatih. Sampai di bandara Abu Fatih dilarang masuk pesawat karena KTP yang ia miliki atas nama Wiji.

 

  1. Menggunakan Nama Palsu

Tidak jarang pula sebagian orang sengaja mengganti nama dengan nama lain. Mungkin nama yang dipandang lebih “keren” dan “kekinian”. Misalnya, nama Tejo diganti Irvan. Biar keren. Hal seperti ini juga bisa menimbulkan masalah ketika tidak ada dokumen resmi atas nama Irvan. Misalnya Tejo membeli kartu perdana. Ia registrasi sendiri dengan nama Irvan. Suatu ketika HP-nya hilang (termasuk simcard-nya). Ia pun datang ke kantor operator terkait untuk minta pergantian simcard dengan nomor sama. Petugas pun meminta KTP. Ternyata atas nama Tejo, padahal di data sistem namanya Irvan. Simcard pun terpaksa direlakan hangus karena tidak bisa diganti. Padahal, nomor tersebut bisa jadi sudah sangat terkenal untuk berbagai urusan.

 

Demikianlah beberapa kerepotan terkait kebiasaan penggunaan nama yang berubah-ubah. Saya sendiri memilih menggunakan nama asli dan konsisten demi menghindari kerepotan-kerepotan yang tidak perlu.

 

*Tulisan ini terinspirasi karena saya melihat sendiri kasus kerepotan ketika seseorang harus kesana-kemari demi mengurus suatu dokumen yang saling terkait, namun dalam beberapa nama terkait, ternyata namanya berbeda. Jika tidak terburu-buru, mungkin masalah tidak begitu besar. Tapi jika butuh cepat, maka ya berpotensi masalah besar.

(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: