Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Hargai Pilihan Orang Lain, yang Bagaimana?

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 26, 2016

Seruan menghargapi pilihan orang lain seraya mengecam tindakan menyalahkan pilihan orang lain tentu sering kita dengar/baca.
Namun, apakah memang mudah?
Ternyata tergantung kasusnya.

Kasus 1.
Kita suka makan soto, teman suka makan bakso.
Dalam kasus model seperti ini, tentu mudah kita menghargai pilihan orang lain. Tidak akan timbul masalah.

 

Kasus 2.
Kita sedang makan soto. Di saat yang sama, di samping kita ada orang lain makan racun tikus.
Dalam kasus seperti ini, bisakah kita menghargai pilihan orang lain tersebut? Tentu kita lazimnya akan mengingatkan dia. Bahwa racun tikus itu berbahaya, bisa mengakibatkan sakit bahkan kematian. Tapi jika dia ngeyel, mungkin kita masih bisa cuek. Biar dia mati sendiri, toh saya tidak ikut mati.

Kasus 3.
Kita sedang makan soto. Di saat yang sama, di samping kita ada orang yang makan racun tikus sembari dia memasukkan racun tikus ke kuali wadah kuah soto yang dimakan banyak orang.
Dalam kasus seperti ini, bisakah kita menghargai pilihan orang lain tersebut? Gila jika kita membiarkannya. Pasti kita akan mencegah dia melakukan itu, dan menasihati dia atas perbuatannya. Ia bukan hanya membuat dirinya celaka, tapi juga mencelakakan orang lain.

Nah, mungkin contoh lain sbb agak mirip.
Kasus 1
Kita memilih punya istri satu, ada orang lain memilih punya istri dua.
Kita memilih sholat tarawih 8 rakaat. Ada orang lain memilih sholat tarawih 20 rakaat.

Dalam kasus model seperti ini, tentu mudah kita menghargai pilihan orang lain. Tidak akan timbul masalah.

Kasus 2.
Kita memilih agama Islam, tetangga sebelah memilih agama selain islam (kafir).
Ya tentu kita wajib mendakwahinya. Bahwa yang akan selamat hanyalah orang Islam saja. Tapi jika ia tidak mau dinasihati, ya biarlah. Toh ia sendiri yang akan masuk neraka.

Kasus 3.
Kita memilih ibadah Jumat di masjid. Di saat yang sama, ada panitia menggelar konser dangdut seronok dengan penyanyi telanjang. Bersifat terbuka di panggung, mengundang masyarakat umum untuk datang. Dalam kasus seperti ini, bisakah kita menghargai pilihan orang lain tersebut? Gila jika kita membiarkannya. Pasti kita akan mencegah dia melakukan itu, dan menasihati dia atas perbuatannya. Ia bukan hanya membuat dirinya celaka, tapi juga mencelakakan orang lain.

Mau nambah contoh2 lain?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: