Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

PHP itu Puedddiiihhh Jendral

Posted by Farid Ma'ruf pada November 26, 2015

Bagaimana perasaan anda jika ada kejadian sebagai berikut?

Ayah anda butuh uang Rp400 juta untuk biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya. Memang tidak mendesak, masih tahun depan. Tapi sudah pasti butuh.

Karena tidak ada uang cash, maka diputuskan untuk menjual tanah saja.
Tanah itu dulunya dibeli dengan harga Rp100 juta. Dulu yang menjual memang sedang butuh uang. Dan waktu itu lokasinya dinilai kurang strategis. Tapi seiring perjalanan waktu, harga tanah naik menjadi Rp400 juta. Cocoklah dengan kebutuhan.

 

Maka berdatanganlah para calon pembeli. Ada yang menawar Rp300 juta, Rp325juta, Rp350juta, Rp400 juta. Bahkan ada yang mau membeli Rp500juta. Bedanya, penawar dengan angka Rp400juta ke bawah, sudah siap dengan uangnya. Jika ayah anda mau, sudah deal dan transaksi. Tapi karena ada yang berani membeli Rp500juta, ayah anda tertarik. Si penawar bilang :
“Saya mau beli tanahnya. Tapi 10 bulan lagi ya. Tolong jangan dijual kepada siapapun.”
Ayah anda tertarik dan mau. Toh butuh uangnya masih tahun depan.

10 bulan kemudian, ayah anda menghubungi orang tersebut. Menanyakan bagaimana rencana pembelian tanahnya. Calon pembeli tersebut menjawab dengan enteng :
“Maaf, tidak jadi. Saya sudah dapat tanah lain yang lebih bagus dengan harga lebih murah.”

Ayah anda pun buru-buru menghubungi para penawar lainnya. Mulai dari orang yang menawar Rp400 juta sampai penawar paling kecil. Ternyata semua menjawab sama : “Maaf, sudah beli tanah di tempat lain.”

Menemui kondisi demikian, kira-kira, bagaimana perasaan ayah anda? Atau bagaimana perasaan anda?

Nah, kira-kira hampir sama pula ilustrasi kejadian di atas dengan pemuda yang main “tembak” gadis padahal belum siap nikah.
“Kamu akan saya nikahi. Tolong jika ada pemuda lain yang melamar, jangan diterima. Saya nikahi kamu 3 tahun lagi, setelah saya lulus kuliah dan dapat pekerjaan.”

Si gadis pun komitmen. Setiap ada pemuda yang datang, ia tolak lamarannya. Ia merasa sudah dilamar pemuda lain.

Lha kalau si pemuda komitmen dengan omongannya, mungkin tidak akan terjadi gegeran. Tapi bagaimana jika sudah ditunggu-tunggu, eh ternyata batal. Si pemuda ternyata dapat gadis lain yang lebih menarik. Padahal si gadis sudah terlanjur bertambah tua 3 tahun.

(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: