Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Perang Opini dalam Peperangan

Posted by Farid Ma'ruf pada November 17, 2015

Ketika Khilafah Islam berperang dengan Spanyol yang dipimpin Raja Roderick, pasukan Islam terdiri dari beberapa bagian. Ada pasukan Arab, ada pasukan Ber Ber (suku di Afrika utara yang sudah ditaklukkan), dan pasukan Julian, yaitu pasukan dari Spanyol sendiri. Dari 12.000 pasukan di pihak khilafah Islam, 5.000 diantaranya adalah pasukan Julian dari Spanyol. Pasukan Islam di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad ini berperang melawan pasukan Spanyol yang jumlahnya mencapai 100.000. Luar biasanya, pasukan Islam bisa menang.

Bergabungnya Julian dan pasukannya terbilang unik. Mereka justru orang-orang Spanyol yang membantu pihak khilafah. Ini membuktikan berhasilnya opini bahwa pasukan Islam datang bukan untuk menjajah Spanyol, tapi untuk membebaskan Spanyol dari kekejaman Raja Roderick.

Perang opini memang lazim terjadi dalam berbagai perang besar. Ketika Amerika Serikat menyerang Irak, AS membangun opini bahwa serangan ini adalah untuk membebaskan rakyat Irak dari kediktatoran rezim Saddam Hussein. Kita bisa menyaksikan di tayangan media, ketika pasukan AS masuk ke Baghdad, mereka disambut tarian kegembiraan (sebagian) rakyat Irak. Patung Saddam Hussein pun dirobohkan sendiri oleh rakyat Irak. Pasukan AS adalah pasukan penyelamat bagi mereka.

Rezim Saddam Hussein memang kejam. Sebagian kekejaman rezim ini penggambarannya bisa kita saksikan dalam sebuah film yang terinspirasi kisah nyata berjudul The Devil’s Double. Menceritakan kisah Latif Yahia, seorang militer Irak yang direkrut paksa menjadi “dobelan/kembaran” Uday bin Saddam Hussein. Latif melihat berbagai kekejaman Uday yang membuatnya menjadi muak dan ingin melarikan diri.

Begitu juga dalam perang dunia kedua. Pasukan AS menyebarkan ribuan atau mungkin jutaan pamflet ke wilayah Jerman. Mereka menyebarkan opini bahwa AS tidak memerangi Jerman. Tetapi memerangi Hitler NAZI. Damai dengan Jerman, Yes. Damai dengan NAZI, NO. Itu isi opini mereka. AS mencoba memecah keberpihakan rakyat Jerman terhadap penguasanya. Dalam perang dunia kedua juga pernah terjadi “libur perang”. Ini terjadi ketika ada ribuan rakyat sipil yang terjebak di sebuah kota tempat perang berkecamuk. Akhirnya kedua pasukan yang berperang berhenti dalam tembak-menembak untuk memberikan kesempatan penduduk sipil mengungsi.

Dalam perang opini seperti ini, maka perang fisik tentu utamanya ditujukan kepada instalasi-instalasi militer penting. Sementara serangan terhadap sipil tentu diminimalisir. Ini tujuannya untuk mendukung opini bahwa perang bukan untuk menjajah negara yang diperangi. Juga tentu untuk melemahkan kekuatan pasukan musuh.

Serangan dengan target sipil seringkali bukannya melemahkan pihak musuh, tetapi justru memperkuat kekuatan musuh. Rakyat sipil yang tadinya mungkin tidak begitu peduli dengan perang, tidak begitu mendukung penguasa di negaranya, bisa menjadi bangkit semangatnya bergabung dengan militer untuk membalas serangan. Ini akan memperkuat kekuatan musuh.

Sangat berbeda jika sipil tidak menjadi target serangan. Bahkan diopinikan bahwa pasukan penyerang membantu rakyat sipil. Kekuatan musuh akan melemah dan akhirnya roboh.

Oleh karena itu, serangan dengan target sipil dalam peperangan sebenarnya adalah sangat aneh. Sulit masuk logika. Apalagi serangan tersebut sama sekali tidak memperlemah kekuatan militer negara yang diserang. Bahkan justru membuat musuh makin kuat dan melakukan serangan balik.

Dalam beberapa perang besar, justru muncul adanya teori konspirasi dalam mengorbankan rakyat sipil. Misalnya sebelum seranagn AS ke Afghanistan yang dikuasai Taliban. Didahului dengan adanya serangan ke gedung WTC di AS. Pihak AS menuduh bahwa Al Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden di Afghanistan sebagai pihak yang bertanggung jawab. Beberapa analisis muncul bahwa sesungguhnya AS sengaja mengorbankan ribuan rakyat sipil di WTC sebagai alasan untuk menyerang Afghanistan.

Contoh lain ketika pemerintah AS enggan bergabung dalam kancah perang dunia kedua khususnya dalam perang melawan Jerman. Sementara banyak pihak yang sangat ingin agar AS bergabung melawan Jerman. Maka kejadian ditembaknya kapal AS oleh Jerman menjadi salah satu alasan yang digunakan untuk AS memerangi Jerman. Sementara itu, ada dugaan bahwa sesungguhnya AS sengaja mengorbankan kapalnya tersebut agar ditembak Jerman. (Farid Ma’ruf)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Raih pahala dengan Like and Share :
FB.Com/FaridM
www.faridmaruf.wordpress.com
-Line : @fei2219s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: