Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Taat kepada Dokter vs Taat Kepada Allah

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 24, 2015

taat kepada dokterPernahkah sakit kemudian datang ke dokter?

Mungkin sudah berkali-kali. Bagaimana ketika dokter menyatakan anda menderita penyakit ABC. Dokter menyuruh anda agar menjauhi makanan tertentu. Menyuruh anda membeli obat tertentu, dan meminumnya 3 kali sehari. Dokter menyuruh anda menurunkan celana dalam kemudian menyuntik pantat anda. Lebih dari itu, bahkan dokter menyuruh anda untuk dioperasi dengan biaya yang banyak. Ketika dioperasi, badan anda dibedah oleh dokter.

Bagaimana reaksi anda?

Percaya dan taat. Percaya bahwa dokter benar karena dokter sudah ahli. Taat kepada dokter untuk menjauhi makanan tertentu. Taat kepada dokter untuk membeli obat dan meminumnya 3 kali sehari. Taat untuk disuntik. Bahkan taat untuk dioperasi.

Pertanyaannya, bagaimana terkait hubungan anda dengan Allah? Apa juga taat 100%?

Terbukti, banyak orang yang tidak taat kepada Allah.

Allah perintahkan manusia untuk sholat 5 waktu, masih banyak yang bandel, tidak mau sholat. Padahal disuruh dokter minum obat 3 kali sehari mau.

Allah perintahkan manusia menutup aurat, wanita berjilbab. Tapi ternyata masih banyak yang bandel, bahkan lebih banyak wanita yang bandel tidak berjilbab daripada yang taat dengan berjilbab. Padahal, ketika dokter perintahkan dia untuk menurunkan celana dalam kemudian disuntik, mau taat.

Allah perintahkan manusia untuk meninggalkan riba (bunga bank adalah riba), eh masih banyak yang bandel. Banyak alasan ini itu. Yang jadi pengusaha, hutang bank. PNS, hutang bank. Pedagang kecil pinggir jalan, juga hutang bank. Atau kalau tidak hutang bank, ya kredit ke koperasi simpan pinjam. Bahkan, banyak juga yang hutang ke bank plecit.  Padahal, kepada dokter ia taat untuk meninggalkan beberapa jenis makanan tertentu.

Allah melarang manusia berkhalwat dengan lawan jenis (dan pacaran itu kegiatannya banyak berkhalwat), eh masih banyak yang melanggar. Banyak sekali manusia yang pacaran. Padahal sudah jelas haramnya.

Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Coba dipikir, apakah dokter pasti benar?

Belum tentu. Dokter bisa salah. Bahkan banyak kejadian dokter yang salah.

Apakah ketika dokter menyuruh untuk meminum obat, kita juga bertanya : “Itu obat kandungan zatnya apa? Mengapa saya harus minum 3 kali sehari? Mengapa harus minum obat A satu butir? Obar B 2 kapsul? Pernah tanya? Kemudian dokternya menjawab : itu obat A mengadung zat abc sekian gram. Itu obat B mengandung obat xyz sekian gram. Pernah? Banyak orang yang tidak menanyakannya, tapi taat saja kepada dokter.

Disuntik juga sama. Apakah kita bertanya, itu zat yang disuntikkan kandungannya apa saja? Berapa miligram kandungan zat a-nya, zat b-nya, dlsb? Tidak. Langsung manut saja ketika dienjus dokter. Padahal sakit juga tuh kalau disuntik.

Bahkan operasi yang biayanya banyak, pun dilakoni. Manut juga ketika badan dibedah oleh dokter. Lha bagaimana jika itu dokter salah membedah? Pasien bisa meninggal. Dan itu sudah banyak kejadian. Tapi, faktanya, pasien manut saja tuh ketika masuk kamar operasi dan dibedah.

Tapi anehnya, kalau ada perintah Allah, pertanyaannya banyak. Tanya inilah, tanya itulah. Alasannya banyak dan macam-macam. Yang ini lah, yang itulah. Kakean pretingsing. Banyak cing-cong.

 

Padahal Allah itu pasti benar.

Perintah Allah pasti baik.

 

Sebenarnya, kita ini lebih percaya dokter atau Allah?

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Raih pahala dengan Like and Share :
FB.Com/FaridM
www.faridmaruf.wordpress.com
-Line : @fei2219s

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: