Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Beberapa Pertanyaan Logika dalam Film G30S PKI

Posted by Farid Ma'ruf pada September 30, 2015

coverTahukah film horor yang paling menakutkan sepanjang sejarah?
(setidaknya sejarah hidup saya). Film ini telah berhasil membuat teror mental terpanjang di masa kecil saya. Bahkan membuat saya berkali2 bermimpi buruk. Dulu jika melihat film ini, kadang sambil nutup mata dan telinga, juga ndepis ketakutan. Apalagi ketika ada adegan wanita anggota Gerwani mengucapkan : “Darah itu merah Jenderal !” Sambil ia mengambil silet, kemudian …. (nggak usah dilanjutin, ntar anda pingsan). Ini kalimat yang paling membuat bulu kuduk mengkirik. Ini kalimat paling nggegirisi. Begitu juga musik backsound film ini. Benar-benar mencekam.

Itulah film G30S PKI yang dulu ditayangkan secara rutin tiap tanggal 30 September malam di TVRI.
Film ini juga mencetak rekor dalam film yang saya tonton berulang2 (entah sudah berapa kali, mungkin sudah puluhan kali saya tonton). Baik di Bioskop (pertama menonton), TVRI, maupun di komputer/laptop.

Tapi menurut saya, film ini menyisakan banyak pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Misalnya :
1. Kudeta militer biasanya membunuh kepala negara, atau minimal menawan/memenjarakan kepala negara yang dikudeta. Dalam film ini tidak. Malah para pemberontak laporan kepada Presiden Soekarno yang tetap dalam kondisi baik-baik saja. Ini tentu perlu pembahasan lebih mendalam. Apa alasannya?

2. Perwira militer yang memberontak, lazimnya akan membawa pasukannya. Tapi, Brigjend Soeparjo yang pangkatnya paling tinggi dalam gerakan, juga menjadi salah satu tokoh penting kudeta, malah baru ikut rapat intensif di akhir-akhir (waktu mendekati) 30 September 1965. Cukup janggal, ia hanya sendirian. Dimana anak buahnya? Brigadir Jenderal tidak mengerahkan pasukannya? Pasukan yang bergerak justru Cakrabirawa dan pasukan Batalyon 530 Brawijaya, Batalyon 454 Diponegoro, dan beberapa pasukan lain yang jumlahnya tidak signifikan, dan tentu bukan di bawah komandonya.

3. Ketika Brigjend Soeparjo ke Istana Negara untuk laporan kepada Presiden Soekarno (melaporkan kudeta kepada kepala negara yang dikudeta), ternyata Presiden Soekarno justru tidak ada. Ia dikabarkan berada di Halim. Aneh, padahal Letkol Untung sebagai kepala operasi kudeta adalah komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Mengapa pengawal presiden tidak tahu dimana presiden? Jika sudah tahu presiden tidak di Istana Negara, mengapa Brigjend Soeparjo mencari ke sana? Nampaknya ia kurang informasi?

4. Ada adegan pasukan Yon 454 dan Yon 530 yang merebut dan menjaga instalasi komunikasi (RRI, Telkom) yang merupakan corong penting gerakan, ketika diserbu pasukan RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edi Wibowo, ternyata sudah tidak ada di tempat. Cukup janggal. RRI yang merupakan sarana vital tetapi mengapa ditinggalkan begitu saja? Di film ini tidak dijelaskan sebabnya (tetap menjadi misteri bertahun-tahun dalam benak saya). Ternyata sebabnya sepele, menurut beberapa artikel, pasukan pemberontak tidak diberi nasi bungkus. Jadi dari tanggal 1 Oktober dini hari mereka merebut RRI dan Telkom, mereka tidak mendapatkan kiriman konsumsi dari panitia konsumsi. Lapar deh. Karena lapar, akhirnya mereka mletho begitu saja. Mereka  akhirnya gabung ke Kostrad lagi. Kudeta ini dipertanyakan keseriusannya dalam persiapan. Mengapa konsumsi pasukan tidak disiapkan? Walaupun mereka batalyon elit, tentu tetap butuh makan.

(Bicara hal lain, jika membuat acara, jangan lupa siapkan seksi konsumsi ya. Itu penting banget. Level pasukan elit saja bisa meninggalkan tempat gara-gara nggak ada konsumsi. Apalagi orang sipil. He he he…..)

Tapi kalau dianalisis lebih serius, ini bisa jadi karena pasukan itu sendiri yang kebingungan. Garis komando tidak jelas. Karena pasukan elit yang perang gerilya saja bisa, tentu nggak akan mudah mundur gara-gara lapar. Selain itu, bisa jadi mereka ini sebenarnya juga tidak paham arah gerakan, juga belum diideologisasi dengan paham komunis. Hanya ikut perintah komandan saja.

5. Mayjen Soeharto sebagai pangkostrad tidak masuk dari daftar penculikan. Ini menimbulkan pertanyaan, tetapi dalam film tiddak dikupas lebih dalam. Hanya ada kalimat dari Syam yang mengatakan bahwa tidak akan menambah daftar orang yang diculik. Padahal, posisi beliau sangat penting ketika Mayjend Ahmad Yani tidak ada. Mengapa bisa demikian?

Itulah beberapa pertanyaan terkait logika dalam film ini. Saya tidak mengomentari fakta sejarahnya.

*Ini hanya tulisan seorang Sufi (Suka Film). Data-data yang dipertanyakan logikanya menggunakan data dari film tersebut. Saya bukan ahli sejarah, juga bukan ahli teori kudeta. Kalau ada isi yang salah, mohon dikoreksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: