Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Mewaspadai Menyusupnya Paham Liberal di Balik Maraknya PAUD

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 18, 2015

paudBapak-Ibu kerja dulu.

Nanti pulang jemput aku.

 

Dua kalimat di atas adalah penggalan lagu anak-anak PAUD Islami di Bantul, Yogyakarta. Suatu penggalan lirik yang kemudian mengusik hati saya.

Adanya sekolah-sekolah untuk anak-anak usia dini atau dikenal dengan nama Pendidikan Anak Usia Dini bisa terkait dengan paham liberal yang sekarang gencar diopinikan media di Indonesia. Hal ini karena orang tua khususnya ibu memasukkan anaknya ke PAUD dengan tujuan sebagai penitipan anak. PAUD yang digabung dengan penitipan anak (pagi sampai sore) memungkinkan seorang ibu bekerja di luar rumah dan tidak terbebani masalah pengasuhan dan pendidikan anaknya selama dia bekerja.

 

PAUD sangat berbeda dengan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) yang sudah dikenal sebelumnya. TPA tujuannya untuk mengenalkan anak secara dini kepada Al Qur’an. Murni tidak ada motif sebagai tempat penitipan anak. TPA pun lazimnya diselenggarakan di sore hari. Ada yang diselenggarakan seusai sholat Ashar, ada pula yang usai sholat Maghrib. PAUD populer belakangan, khususnya setelah sekitar tahun 2000-an.

 

Ada opini dari dunia barat yang dimasukkan ke negeri-negeri Islam tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan. Diantara isi opini tersebut adalah perlunya perempuan mandiri, tidak bergantung kepada suami secara ekonomi. Perempuan yang bergantung kepada suami dikhawatirkan akan mengalami penindasan dari suami, tetapi tidak berani menuntut cerai. Perempuan pun selamanya akan terjajah laki-laki yaitu suaminya sendiri. Oleh karena itu, perempuan harus mandiri. Perempuan harus menuntut ilmu setinggi-tingginya, sejajar dengan laki-laki, dan mampu bekerja mencari nafkah sendiri, sama dengan laki-laki. Jika perempuan mengalami penindasan dari suami, maka ia akan dengan mudah bercerai dari suaminya, tanpa khawatir masalah ekonomi.

 

Akibat dari opini tersebut sudah bisa kita rasakan saat ini. Para perempuan banyak yang ikut bekerja mencari nafkah. Kaum laki-laki pun harus berebut dan bersaing dengan para perempuan yang secara nyata banyak merebut lapangan pekerjaan yang seharusnya diisi para laki-laki. Efek sampingnya, pengasuhan dan pendidikan anak menjadi terkurangi bahkan terganggu. Para ibu yang bekerja ini menitipkan anaknya di tempat penitipan anak atau PAUD.

 

Di sini memang ada ironi. Hukum bekerja bagi perempuan secara umum adalah mubah (walaupun dalam kasus-kasus tertentu bisa tidak mubah). Sementara pengasuhan, pendidikan anak, pengaturan rumah tangga adalah kewajiban baginya. Mengapa para perempuan justru melakukan sesuatu yang mubah, seraya meninggalkan/mengurangi kewajibannya? Dampak kerusakan yang ada,  muncullah anak-anak yang kurang kasih sayang. Salah satu yang tergolong ekstrim adalah ibunya pergi berangkat bekerja ketika anak masih tidur. Sementara ketika ibunya pulang, si anak sudah tidur. Anak pun menjadi nakal, kurang pendidikan agama.

 

Oleh karena itu, sudah semestinya PAUD ini kida dudukkan dengan benar. PAUD bukan sarana bagi ibu untuk meninggalkan/mengalihkan kewajibannya. PAUD harusnya menjadi taman belajar Al Qur’an yang mampu membantu para ibu yang mungkin ilmunya terbatas. PAUD bukan untuk mendukung program sekularisasi Indonesia, tetapi harusnya menjadi bagian dari Islamisasi Indonesia.

 

Di posisi bagaimanakah kita dalam mendudukkan PAUD?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: