Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Berangkat Beramal Baik atau Tidak, Tergantung Hati

Posted by Farid Ma'ruf pada Mei 22, 2015

stasiun_tugu-jogjaPernahkah kita minta izin atau tidak berangkat dalam suatu kegiatan yang baik? Misalnya ada undangan pengajian, rapat dakwah, kegiatan dakwah, dan sejenisnya? Pernah? Atau sering? Apa alasannya? Sakit? Tidak ada kendaraan? Sedang ada tugas kuliah?

 

Kalau saya boleh membuat klaim, maka sesungguhnya alasan-alasan itu hanya menyumbang 1% saja. Sementara 99% itu adalah niat di hatinya. Artinya, mau berangkat atau tidak, sudah ada jawabannya di hati sejak awal. Faktor eksternal seperti hujan deras, tidak ada kendaraan, sakit, dan lain sebagainya 99% hanyalah faktor penghambat, tetapi bukan penyebab tidak jadi berangkat.

 

Tidak percaya?

Coba bayangkan situasi berikut.

 

Anda seorang ikhwan yang belum menikah, tapi sudah sangat ingin menikah, sudah mampu menikah. Anda mengenal seorang akhwat yang cantik jelita tiada tara, mempesona luar biasa, baik kecerdasannya, keaktifannya, juga keterikatannya pada Islam. Wajar jika anda amat sangat ingin menikahinya. Anda pun mengajaknya taaruf, kemudian mengkhitbahnya.

 

Jawaban si akhwat : “Terima kasih. Saya akan diskusikan dulu masalah ini dengan ayah saya. Semoga ayah saya menyetujui lamaran antum.” Selama belum ada jawaban, anda berharap-harap cemas. Anda mengira bahwa jawaban si akhwat sangat tergantung dengan setuju atau tidaknya ayah si akhwat.

 

Dalam masa penantian yang membuat hati galau tersebut, tiba-tiba pada jam 8 malam anda menerima telepon dari seseorang.

“Apa benar ini dengan Nak Ikhwan?” Suara seorang bapak-bapak terdengar di ujung telepon.

“Benar Pak. Ini siapa ya?” Jawab anda bingung.

“Saya Muhammad Ihsan, ayah Fitri.” Keterangan lanjutan ini membuat anda langsung deg-degan. Fitri adalah akhwat yang anda lamar.

 

“Begini. Saya baru saja pulang dari luar kota. Posisi saya sekarang di Stasiun Tugu Jogja. Di sini hujan deras sekali. Saya tidak bisa naik taksi atau angkot. Kebetulan dompet saya dicopet dalam perjalanan. Apa Nak Ikhwan bisa menjemput saya?”

Anda langsung bingung. Situasi sudah malam. Hujan deras sekali. Anda tidak punya mobil. Sepeda motor tidak ada jas hujannya. Uang pun sedang tidak ada sama sekali. Selain itu, anda masih agak sakit pusing dan badan agak demam. Stasiun Tugu jaraknya 20KM dari rumah anda.

 

Pertanyaannya adalah :

Apakah anda akan berangkat menjemput ayah si Fitri?

 

Dugaan kuat saya, anda akan berangkat menjemputnya. Ada masalah. Anda tidak punya uang, anda tidak punya mobil, anda masih agak sakit, kondisi pun hujan deras.

 

Masalah-masalah itu memang faktor penghambat, tapi bukan penyebab anda menjadi tidak berangkat. Masalah-masalah itu akan anda selesaikan. Tidak punya uang? Cari pinjaman. Tidak punya mobil? Cari pinjaman mobil, atau sewa di rental mobil. Tidak bisa nyopir? Sewa sopir. Agak demam? Minum paracetamol. Beres kan?

 

Sekali lagi pertanyaan,

Apakah anda akan berangkat menjemput ayah si Fitri?

(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: