Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Bahaya Pencitraan yang Berlebihan

Posted by Farid Ma'ruf pada April 7, 2015

Membangun citra positif memang baik. Tapi jika berlebihan sehingga membuat orang lainover estimate, justru bisa berakibat kurang baik.

Sebagai contoh adalah sebagai berikut :

1. Pencitraan sebagai pengusaha sukses.

Mungkin karena ingin dikenal sebagai pengusaha yang sukses, seseorang membangun citranya sebagai pengusaha. Sebenarnya bisnisnya belum besar, tapi orang lain menilai besar. Konsekuensi berikutnya, ia akan dikira sebagai orang kaya.

Biasanya, orang kaya akan didatangi oleh orang-orang yang minta sedekah, minta sumbangan, minta pinjaman alias utang, dan sejenisnya. Jika ia memang orang kaya beneran, maka ia bisa memberikan sedekah, sumbangan, juga utangan. Tetapi karena ia tidak kaya, maka semua permintaan akan dia tolak. Akibatnya pandangan orang bisa berubah. Bisa jadi justru akan dinilai sebagai orang yang irit, pelit, dan medhit.

2. Pencitraan sebagai orang pintar.

Mungkin karena sering mempublish tulisan-tulisan yang bagus (padahal sebenarnya hanyacopy paste), akan membuat seseorang dikira pintar. Konsekuensinya, ia akan mendapatkan banyak pertanyaan tentang suatu masalah. Sayangnya, ia tidak bisa menjawabnya. Akibatnya, pandangan orang justru bisa berubah. Ia akan dianggap sebagai orang yang cuek, tidak mau membantu persoalan orang lain.

3. Pencitraan sebagai akhwat cantik.

Mungkin karena ingin mendapatkan jodoh yang keren, seorang akhwat ketika taaruf sengaja memberikan fotonya yang terlihat sangat cantik. Bisa terlihat lebih cantik daripada aslinya karena fotografernya canggih, kameranya bagus, dan sedikit diedit dengan bantuan software. Padahal aslinya tidak cantik-cantik amat.  Si ikhwan yang menerima biodata pun senang bukan kepalang karena calon istrinya cantik banget. Tapi ternyata si ikhwan over estimate. Istrinya ternyata tidak cantik-cantik amat. Akhirnya rumah tangga menjadi kurang mesra karena si ikhwan merasa kecewa. Sebenarnya ia kenal akhwat lain yang lebih cantik, tapi karena tergoda foto akhwat lain yang kelihatannya lebih cantik, ia memilih akhwat lain. Eh, ternyata justru lebih cantik akhwat lain yang sudah ia kenal sebelumnya secara langsung.

Cukup tiga contoh saja yang saya berikan. Sebenarnya ada banyak contoh-contoh lain yang bisa kita gali. Intinya, pencitraan yang berlebihan justru membuat orang lain menilai melebihi aslinya. Dalam banyak kasus, itu justru merugikan. Oleh karena itu, membangun citra positif hendaknya sesuai dengan fakta yang dicitrakan. Jika mau mencitrakan diri sebagai ahli IT, itu berarti ia memang ahli IT. Pencitraan hanya sebagai sarana pengenalan. Jika mau mencitrakan diri sebagai pengusaha, itu berarti ia memang pengusaha. Pencitraan dilakukan sebagai sarana untuk mengenalkan diri dan bisnisnya sehingga bisa memperbesar bisnis. Apa diri anda, itulah citra diri anda. Tidak kurang, juga tidak lebih. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: