Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Tim Terbaik Dakwah

Posted by Farid Ma'ruf pada April 3, 2015

Di dunia kerja, bukan suatu hal yang aneh ketika terjadi, satu lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan, diperebutkan oleh ratusan atau bahkan ribuan pelamar.

Semua pelamar itu :

1.      Sudah memenuhi syarat administrasi (misalnya : ijazah S1 di jurusan tertentu dan IPK minimal nilai tertentu, punya surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian, berbagai sertifikat, dll).

2.      Setelah lolos seleksi admnistrasi, beberapa calon terbaik dipanggil untuk tes wawancara.

3.      Setelah lolos tes wawancara, masih ada tes psikologi, juga tes kesehatan.

4.      Dan mungkin masih ada tes-tes lain, tergantung kebijakan perusahaan.

Akhirnya, perusahaan mendapatkan calon pegawai dengan spesifikasi terbaik : pintar sesuai bidang yang dibutuhkan, sehat fisiknya, sehat mentalnya, baik kelakuannya.

Tapi itu belum tentu dianggap cukup. Perusahaan seringkali masih harus mengirim karyawannya untuk diikutkan training-training sehingga kualitas karyawannya makin baik lagi.

Perusahaan juga mempunyai manager personalia yang senantiasa memantau dan meningkatkan kualitas para pegawai. Jika ada pegawai yang diketahui sering datang terlambat, tidak menjalankan amanah pekerjaan dengan baik, atau bahkan mencuri inventaris perusahaan, maka perusahaan tidak akan ragu-ragu untuk memecat pegawai tersebut.

Ternyata, untuk urusan pekerjaan alias cari uang, perusahaan melakukan seleksi super ketat. Hanya orang berkategori “terbaik” saja yang boleh masuk menjadi tim di perusahaan.

Dakwah, tentu levelnya jauh di atas pekerjaan mencari uang.

Bekerja di perusahaan, bisa jadi pegawai hanya mengharapkan reward berupa gaji yang dibayarkan di awal bulan.

Sementara berdakwah,aktivisnya mengharapkan reward yang masanya sangat lama, yaitu balasan diakhirat.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika semua organisasi dakwah dalam merekrut anggota, melakukan proses yang melebihi proses di perusahaan.

Hanya orang-orang terbaik saja yang layak bergabung menjadi anggota organisasi dakwah. Sementara orang-orang bermasalah, mereka tidak dibidik menjadi anggota organisasi dakwah, tetapi menjadi obyek dakwah.

Tempat mengambil calon anggota organisasi dakwah, bisa di masjid-masjid, kampus-kampus ternama,sekolah-sekolah ternama, atau dimana saja tempat berkumpulnya orang-orang yang baik.

Organisasi dakwah tentu tidak tepat jika merekrut calon kader-kader dakwah justru di panti anak-anak nakal, di tempat remaja-remaja nongkrong, dan di tempat-tempat lain yang biasa sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang kurang baik kualitasnya. Akan tetapi, tentu tetap ada pengecualian. Jika di tempat yang kurang baik ternyata ada orang yang bersemangat untuk menjadi tim dakwah, dan ia bisa mengejar meningkatkan kualitasnya, tentu tidak perlu ditolak. Bisa diterima, karena manusia memang bisa berubah kapan saja. Seperti halnya Umar, dari menentang Islam menjadi pembela Islam. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: