Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Mengapa Jomblo Lebih Bahagia Dibandingkan Orang yang Menikah?

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 18, 2015

Jomblo gelisah lebih mulia daripada jomblo bahagiaHasil survey BPS menunjukkan bahwa orang yang jomblo (belum menikah) lebih bahagia daripada orang yang sudah menikah. Sementara itu, di dalam keluarga, kepala keluarga kalah bahagia dibadingkan pasangannya.

Survey memang belum tentu menunjukkan fakta asli suatu populasi. Namun anggap saja survey tersebut benar, maka akan kita dapati beberapa kemungkinan.

Pertama, mengapa laki-laki jomblo bisa lebih bahagia? Mari kita lihat fakta banyak laki-laki di Indonesia. Mereka banyak yang pacaran, bahkan gonta-ganti pacar. Aktivitasnya hanya bersenang-senang saja. Main kesana-kemari. Jika bosan dengan pacarnya, ia bisa ganti pacar lain. Jomblo pacaran tidak berpikir menafkahi pacarnya (mungkin hanya memberi beberapa hal, tapi bukan nafkah sehari-hari). Jomblo ini juga tidak berpikir menafkahi anak. Ia hanya  bersenang-senang dengan pacarnya. Tidak mengurus anak yang rewel, anak yang harus dimandikan, anak yang harus sekolah, dan lain sebagainya. Wajar jika ia merasa bahagia.

Kedua, mengapa laki-laki yang sudah menikah kurang bahagia dibandingkan jomblo? Mari kita lihat faktanya. Suami tentu harus menafkahi istri dan anak-anaknya. Beban hidup tinggi. Mencari pekerjaan sulit. Biaya sekolah tinggi. Biaya kesehatan tinggi. Wajar jika suami pusing menjalani kehidupan di sistem kapitalis sekuler ini.

Sangat penting diketahui, bahagianya jomblo yang pacaran itu hanya kebahagiaan semu. Itu hanya surga dunia. Padahal sebagai orang Islam, kita yakin ada surga di akhirat.

Surga dunia para jomblo pacaran, itu akan membuatnya masuk neraka yang menyengsarakan.

Sementara neraka dunia para suami yang pusing tujuh keliling dalam rangka menjalankan kewajibannya sebagai suami yang bertanggungjawab, akan membuatnya masuk surga di akhirat.

Sementara itu, para jomblo yang tidak pacaran karena taat kepada Allah, bisa jadi mereka resah dan gelisah. Tiap hari bertemu gadis-gadis cantik yang seksi menggoda. Atau bertemu dengan akhwat-akhwat berjilbab yang menggetarkan jiwa. Nafsu pun membara tapi penyaluran tidak ada. Mau menikah, belum siap. Mau menundukkan pandangan, tapi godaan selalu ada. Sudah puasa tapi tetap saja pikiran kemana-mana. Sudah ngaji tapi tetap saja bertemu “bidadari” yang menggoyahkan hati.

Dalam kasus seperti kejadian yang dijelaskan tersebut, jomblo gelisah lebih mulia daripada jomblo bahagia.

Anda di posisi mana?

(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: