Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Salah Paham Menempatkan Pemahaman Tentang Dampak

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 16, 2015

Dampak PerbuatanOrang berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu biasanya karena pemahamannya tentang dampak perbuatan tersebut. Perbedaan antara satu orang dengan orang yang lain biasanya karena seberapa panjang dia bisa berpikir tentang dampak.

Contoh :

Pemuda 01 berpacaran dan berzina. Mengapa ia lakukan? Ia hanya berpikir dampak 30 menit ke depan, yaitu “enak”. Ia tidak berpikir dampak 9 bulan kemudian (bisa jadi menjadi buronan masyarakat), apalagi dampak di akhirat (siksa yang pedih).

Pemuda 02 berpacaran tapi tidak berzina (zina hakiki). Mengapa begitu? Ia tidak hanya berpikir dampak 30 menit ke depan yaitu “enak”, tapi juga berpikir dampak 9 bulan kemudian yaitu lahirnya anak yang tidak diinginkan. Tapi, ia tidak berpikir dampak di akhirat yaitu siksa yang pedih karena melakukan perbuatan mendekati zina.

Pemuda 03 tidak berpacaran dan tidak berzina. Mengapa begitu? Ia tidak hanya berpikir dampak 30 menit ke depan yaitu “enak”, tapi juga berpikir dampak 9 bulan kemudian yaitu lahirnya anak yang tidak diinginkan. Ia juga berpikir dampak di akhirat yaitu siksa yang pedih karena melakukan perbuatan mendekati zina. Oleh karena itu, ia tidak pacaran, apalagi berzina.

Salah paham menempatkan pemahaman tentang dampak di kalangan orang yang kurang paham agama, boleh jadi sesuatu yang mudah dipahami. Tetapi, salah paham menempatkan pemahaman tentang dampak di kalangan orang yang dipandang “mengerti” agama, tentu aneh.

Sebagai contoh :

  1. Kita melihat teman kita bermaksiat (misalnya : utang bank). Kita tentu wajib menasihatinya. Tapi kita khawatir kalau teman kita menjadi tersinggung, terus marah kepada kita. Akibatnya, kita tidak jadi menasihati. Ini tentu tidak benar.
  1. Kita ingin berbagi ilmu di sebuah forum obrolan santai dan tidak berguna. Tapi kita khawatir, jangan-jangan nanti orang mengira kita “keminter”. Akhirnya kita tidak jadi berbagi ilmu, tetapi justru larut dalam obrolan tidak bermanfaat. Ini kurang tepat.
  1. Kita baru saja membeli sepeda motor baru. Tujuannya, agar dakwah lebih efektif dan efisien daripada memakai sepeda motor lama. Tapi karena ada teman yang masih menggunakan sepeda motor lama, kita khawatir nanti dia sakit hati karena kepengen. Akhirnya, kita malah menggunakan sepeda motor lama. Akibatnya, macet di jalan, dan terlambat mengisi pengajian. Ini tentu tidak benar.

Oleh karena itu, mari kita tempatkan pemahaman tentang dampak ini dengan benar. Pikirkanlah dampak jangka pendek, jangka panjang, dan jangka panjang sekali. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: