Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Dakwah Tidak Harus Profesional, Boleh Amatiran Saja

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 27, 2015

profesional vs amatirSeringkali saya mendengar ada pernyataan bahwa dakwah harus dilakukan dengan profesional. Dakwah tidak boleh dilakukan dengan amatir. Apakah dakwah memang sebaiknya dilakukan dengan profesional? Tidak harus. Mengapa? Simak alasannya sebagai berikut.

Profesional itu berarti suatu pekerjaan dikerjakan sebagai suatu profesi. Qimahnya madiyah. Targetnya mendapatkan keuntungan materi.

Contoh :

Fotografer profesional. Berarti orang tersebut menekuni pekerjaan sebagai seorang fotografer. Ia melakukan pekerjaan tersebut sebagai cara mencari uang atau mencari nafkah.

Kebalikannya adalah fotografer amatir. Berarti ia melakukan pekerjaan sebagai fotografer bukan dalam rangka mencari keuntungan materi, tetapi hanya sekedar untuk kesenangan atau hobi. Jadi ia tidak mencari nafkah sebagai fotografer.

Di sini tidak hubungan bahwa sebuah pekerjaan profesional berarti pasti ahli, hasilnya baik. Sebaliknya, amatir bukan berarti jelek. Itu tidak ada hubungannya.

Akan tetapi, tentu lazim jika sebuah profesi itu ditekuni oleh orang yang ahli. Jika tidak ahli, tentu akan kalah dalam persaingan. Misalnya : Fotografer yang tidak ahli, hasil jepretannya jelek. Tentu jika ia berbisnis, tidak akan laku. Jika ia melamar pekerjaan, akan ditolak.

Sebaliknya, fotografer amatir. Ia tidak banyak syarat. Semua orang bisa menjadi fotografer amatir, selama ia memang suka dunia fotografi. Orang yang punya hobi fotografi, bisa jadi ia seorang ahli, hasil jepretannya bagus. Namun bisa pula ia tidak ahli, hasil jepretannya masih jelek.

Bagaimana kaitannya dengan dakwah profesional.

Juru dakwah memang ada dua macam :

Pertama, juru dakwah amatir. Ia melakukan aktivitas dakwah bukan karena untuk mencari keuntungan materi. Ia berdakwah karena kesadaran bahwa berdakwah adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan. Imbalan yang ia cari hanyalah pahala dari Allah. Juru dakwah seperti ini akan menyampaikan apa yang  perlu disampaikan kepada audiens, bukan apa yang diinginkan audiens.

Kedua, juru dakwah profesional. Ia melakukan aktivitas dakwah untuk mencari keuntungan materi, sebagai sarana mencari nafkah. Aktivitas ini tidak haram, bahkan termasuk aktivitas yang mulia. Akan tetapi, karena dakwah sebagai profesi ini sangat memperhatikan permintaan/selera pasar, maka tentu tidak bisa disamakan dengan dakwah yang tanpa tendensi mencari materi. Juru dakwah jenis kedua ini biasanya akan menyesuaikan dengan apa yang diinginkan audiens. Juru dakwah profesional lazim jika menerapkan tarif.

Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku bahwa pekerjaannya adalah dakwah, bisa jadi ia termasuk jenis kedua. Ia menjadikan dakwah sebagai sarana mencari nafkah, mencari uang. Jika ada permintaan mengisi pengajian dari beberapa masjid, bisa jadi ia akan memprioritaskan masjid yang biasanya memberikan amplop tebal. Masjid yang hanya memberikan 2M (Makasih Mas), bisa jadi tidak akan mendapatkan proritas untuk diisi.

Juru dakwah yang manakah anda? (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: