Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Bahaya Pembelokan Perjuangan Penerapan Syariah Islam

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 6, 2015

Memperjuangkan tegaknya syariah Islam di bawah naungan khilafah Islamiyah hukumnya wajib, tepatnya wajib kifayah. Namun, saat ini masih banyak orang yang belum menyadarinya. Wajar jika masih banyak umat Islam yang sibuk pada perkara-perkara lain. Bukan tidak mungkin bahwa memang ada skenario dari orang-orang yang benci kepada Islam dalam upaya pembelokan agar umat sibuk pada perkara-perkara lain sehingga tidak memperjuangkan penegakan khilafah.

Pembelokan apa saja itu? Kami mencoba mencatat beberapa contoh.

Pertama, pembelokan pada perkara-perkara haram. Umat Islam dibuat sibuk dengan berbagai kegiatan yang sebenarnya hukumnya haram. Contoh : pesta hura-hura di malam tahun baru, gencarnya opini pacaran, dan masih banyak lagi. Pembelokan pada perkara haram ini nampaknya sangat dominan sekarang ini. Saya pernah bertanya kepada siswa-siswa bimbingan belajar yang saya isi. Satu kelas saya tanya, siapa yang punya pacar atau ingin punya pacar. Ternyata semuanya pacaran atau ingin punya pacar. Ini salah satu bukti bahwa pembelokan perjuangan sukses di kalangan pelajar. Pelajar-pelajar yang hobinya pacaran dan seks bebas, tentu tidak akan memperjuangkan penerapan syariah Islam.

Kedua, pembelokan pada perkara-perkara makruh. Diopinikan bahwa suatu perbuatan yang sebenarnya hukumnya makruh, tetapi seolah-olah dianggap keren. Contohnya adalah : iklan rokok. Diopinikan bahwa merokok itu keren. Wajar jika banyak umat Islam yang dengan sadar “membakar” uangnya. Sebulan bisa ratusan ribu rupiah melayang. Coba jika uang tersebut diinfakkan untuk perjuangan, tentu lebih dahsyat. Orang yang tidak merokok tentu juga lebih berpotensi sehat sehingga siap menerima berbagai amanah dakwah. Berbeda dengan perokok berat. Ditugasi amanah-amanah dakwah yang sifatnya fisik, mungkin tidak akan kuat. Apalagi jika besok saatnya ada panggilan jihad, bisa “menggok” di tengah jalan.

Ketiga, pembelokan pada perkara-perkara mubah. Sasaran dari pembelokan ini adalah orang-orang yang ada kesadaran tentang keterikatan pada hukum-hukum Islam. Pembelokan pada perkara haram dan makruh tidak mempan pada mereka ini. Oleh karena itu, mereka diarahkan pada perkara-perkara mubah. Contoh: umat dibuat sibuk pada hobi-hobi yang mubah. Misalnya : pembuatan klub-klub sepeda motor. Orang-orang yang hobi otak-atik sepeda motor dibuat sibuk dengan perkara modifikasi sepeda motor, touring, dan berbagai tetek-bengek masalah sepeda motor. Waktu dan uang yang dikeluarkan untuk hobi ini pun besar. Bisa ratusan ribu bahkan jutaan rupiah per bulan, hanya untuk modifikasi dan accessories sepeda motor, yang secara langsung tidak berhubungan dengan dakwah.

Ada juga yang dibuat sibuk dengan memelihara binatang-binatang peliharaan. Berbagai hobi memelihara binatang diopinikan dan difasilitasi. Ada yang sibuk memelihara burung. Uang ratusan ribu rupiah melayang hanya untuk membeli burung yang indah suaranya atau indah warnanya. Ada juga yang sibuk memelihara hamster. Waktu pun banyak terbuang percuma untuk mengurusi hamster-hamsternya. Ada juga yang sibuk memelihara kucing. Uang ratusan ribu rupiah per bulan bisa melayang untuk urusan perkucingan. Mulai dari biaya makanan sehari-hari, salon, hingga kesehatan kucing. Bahkan ketika kucing sakit pun, harus mondok di rumah sakit hewan. Tentu, mengurusi binatang dengan bertanggung jawab adalah baik. Tetapi, cobalah dihitung. Berapa waktu yang terbuang untuk mengurusi binatang peliharaan? Berapa uang yang tersedot untuk biaya perawatan binatang peliharaan? Bagaimana jika waktu dan uang yang tersedot untuk mengurusi binatang peliharaan dialihkan saja untuk perjuangan? Tentu akan jauh lebih bermakna, serta mempercepat tegaknya khilafah.

Keempat, pembelokan pada perkara-perkara sunnah. Sasaran dari pembelokan ini adalah orang-orang Islam yang sudah tinggi semangat Islamnya. Mereka yang tinggi semangat Islamnya, tentu tidak akan mau sibuk pada perkara-perkara mubah, apalagi haram.

Untuk orang-orang seperti ini, harus dibelokkan agar sibuk pada perkara-perkara sunnah (atau diklaim sunnah). Hal itu harus dibuat heroik sehingga mereka merasa sudah berjuang habis-habisan dan layak masuk surga. Beberapa contohnya adalah :

Kampanye habis-habisan tentang ibadah-ibadah sunnah, misalnya sholat dhuha, sholat tahajud, dan lain sebagainya. Tentu hal-hal tersebut bagus. Tetapi ketika hanya kampanye hal tersebut, tetapi dengan melupakan yang wajib, maka berbahaya juga. Ada juga yang sibuk mengajak orang agar rajin sholat awal waktu berjamaah di masjid. Itu tentu juga bagus juga. Tetapi jika kemana-mana hanya itu yang dilakukan (sementara perkara wajib yaitu perjuangan penegakan khilafah tidak dilakukan), maka itu tentu juga berbahaya. Harusnya, selain kampanye pada ibadah-ibadah sunnah, harus pula dibarengi dengan perjuangan penegakan khilafah.

Dalam urusan berpakaian, memakai jubah (mungkin agar mirip pakaian Nabi). Sibuk kampanye jenggot, celana congklang. Dalam urusan makanan, sibuk kampanye makan dengan tiga jari dan dalam satu nampan.

Dalam urusan kesehatan, sibuk kampanye bekam, tahnik, madu, habbatussauda, dan lain sebagainya. Pokoknya apapun penyakitnya, obatnya adalah bekam, madu, dan habbatussauda. Inilah pengobatan ala Nabi. Kalau obat-obatan kimia (sintetis), vaksin, dan sejenisnya adalah obat-obatan dari kafir barat. Bisa jadi, orang-orang tersebut di atas sudah merasa berjuang untuk Islam habis-habisan, seraya menentang kafir barat. Padahal, khilafah tidak mereka perjuangkan.

Pembelokan pada perkara-perkara sunnah (atau diklaim sunnah) inilah salah satu pembelokan yang berbahaya tapi tidak disadari. Umat Islam dibuat sudah merasa berdakwah dan berjuang untuk Islam, padahal sebenarnya ada pembelokan. Memang, mengajak pada ibadah-ibadah sunnah itu bagus (dan memang perlu), tetapi jangan sampai lupa pada perkara wajib yaitu perjuangan penegakan khilafah.

Kelima, pembelokan pada perkara-perkara wajib tapi tidak semua kewajiban. Kita paham bahwa perkara-perkara yang wajib dalam Islam itu banyak. Sebagai muslim, tentu kita harus melakukan semua kewajiban tersebut. Ini berbeda dengan perkara-perkara sunnah. Dalam perkara-perkara sunnah, kita tidak harus mengambil semua. Kalau tidak bisa melakukan semua kesunnahan, ya lakukanlah sebagian kesunnahan, jangan ditinggalkan semua. Sementara dalam urusan kewajiban, harus dijalankan semua.

Pembelokan dalam perkara wajib adalah dengan cara membuat umat Islam hanya sibuk pada kewajiban-kewajiban tertentu saja, tetapi dengan melupakan kewajiban yang lain yaitu perjuangan penegakan khilafah. Contohnya : umat Islam dibuat sibuk pada hal-hal yang ada dalam rukun Islam saja. Seolah-olah, jika sudah melakukan apa-apa yang ada dalam rukun Islam, maka sudah cukup untuk masuk surga. Jika seseorang sudah berhaji, maka itulah puncaknya kenikmatan Islam. Padahal, penegakan khilafah tidak ada dalam rukun Islam, juga rukun Iman. Selain itu, tanpa adanya khilafah, sangat banyak kewajiban-kewajiban dalam Islam yang tidak bisa dijalankan. Contoh : jihad (ofensif), hukum potong tangan bagi pencuri, jilid atau rajam bagi pezina, pelarangan riba, penerapan sistem ekonomi Islam, penerapan sistem pendidikan Islam, dan lain sebagainya. Itu semua membutuhkan adanya khilafah. Tanpa khilafah, hanya menjadi setumpuk teori tanpa praktek.

Demikianlah beberapa pembelokan perjuangan penerapan syariah Islam. Kita harus waspada agar kita tidak terbelokkan sehingga lupa atau tidak sempat memperjuangkan tegaknya khilafah. Idealnya adalah : kita melakukan semua kewajiban, semua kesunnahan, dan sedikit saja kemubahan, serta meninggalkan yang makruh dan haram. Tapi jika tidak bisa semua, maka jangan sampai ada kewajiban yang kita tinggalkan, walaupun hanya satu kewajiban saja. Perkara-perkara yang tidak wajib, maka diposisikan secara proporsional. Sebagai penegasan (agar tidak disalahpahami), perkara-perkara mubah dan sunnah itu boleh dikerjakan, bahkan diopinikan juga silakan. Apalagi yang wajib. Tetapi maksud utama dari tulisan ini adalah, jangan sampai hal-hal mubah dan sunnah tersebut membuat kita lupa pada urusan wajib yaitu penegakan khilafah.

Semoga bermanfaat. (www.faridmaruf.wordpress.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: