Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Mengapa Banyak Laki-laki Takut Berpoligami?

Posted by Farid Ma'ruf pada November 26, 2014

POLIGAMI-INDAHMasalah poligami sering menjadi bahan perbincangan. Berbagai macam pernak-pernik masalah poligami dibicarakan. Salah satunya adalah, mengapa banyak laki-laki yang tidak mau menolong janda beranak banyak dengan menikahinya. Tidak jarang ada kata-kata negatif yang dilontarkan kepada para laki-laki yang nampak mampu berpoligami tetapi tidak berpoligami. Para pencaci membandingkan dengan kondisi para sahabat nabi atau di zaman kejayaan Islam dimana banyak laki-laki berpoligami, dan tidak ada masalah dalam perkara menafkahi.

Sejujurnya, saya tidak tahu mengapa banyak laki-laki yang takut berpoligami. Saya belum pernah mensurvei, juga belum pernah menemukan survei atau penelitian tentang hal tersebut. Tapi bisa jadi, ini karena masih banyaknya masyarakat yang berpaham salah.

Diantara paham salah tersebut adalah, ketika ada seorang janda yang memiliki anak (misalnya saja tiga anak), maka laki-laki yang menikahinya harus pula menafkahi anak-anaknya. Padahal yang benar tidak begitu. Ketika seorang laki-laki menikahi seorang janda, maka tanggungjawab laki-laki tersebut hanya kepada si janda tersebut. Anak-anak si janda bukan tanggung jawab ayah tirinya, tetapi tanggung jawab wali-walinya.

Jika kita coba simulasikan dengan hitung-hitungan, perbandingannya cukup mencolok. Misalnya saja kita pakai perhitungan minimalis. Untuk menghidupi seorang istri butuh biaya Rp500ribu/bulan. Sementara untuk menghidupi seorang anak adalah Rp500ribu/bulan. Biaya hidup untuk dirinya sendiri Rp500ribu/bulan. Jika seorang laki-laki mempunyai seorang istri dan tiga orang anak, maka kebutuhannya adalah sebagai berikut :

Kebutuhan dirinya=Rp500.000

Kebutuhan istrinya=Rp500.000

Kebutuhan anak-anaknya @Rp500.000 x 3=Rp1.500.000

Total =Rp 2.500.000

Jika laki-laki tersebut menikah lagi, simulasinya sebagai berikut :

Kebutuhan istri keduanya=Rp500.000 (kebutuhan non tempat tinggal)

Kontrak rumah Rp6.000.000/tahun. Berarti per bulan =Rp500.000

Total kebutuhan untuk istri kedua =Rp1.000.000

Jika digabung dengan kebutuhan-kebutuhan untuk istri pertama dan anak-anak dari istri pertama, maka hanya butuh Rp2.500.000 ditambah Rp1.000.000. total =Rp3.500.000.

Cukup sedikit bukan? Pengusaha kecil-kecilan saya pikir sudah banyak yang mampu. Dengan penghasilan Rp4.000.000 perbulan saja, masih sisa.

Akan tetapi, kondisi di atas hanya bisa terjadi jika wali-wali si anak dari janda adalah orang-orang yang paham syariah. Jika para walinya tidak paham, maka yang terjadi ya seperti praktek yang selama ini terjadi.

Janda beranak, maka anak-anak si janda menjadi tanggungan ayah tirinya. Ini tentu saja hitungannya menjadi lain.

Coba kita simulasikan.

Kebutuhan istri keduanya=Rp500.000 (kebutuhan non tempat tinggal)

Kontrak rumah Rp6.000.000/tahun. Berarti per bulan =Rp500.000

Kebutuhan anak-anak tirinya @Rp500.000 x 3=Rp1.500.000

Total Rp2.500.000.

Jika digabung dengan keluarga dari istri pertama, maka :

Rp2.500.000 ditambah Rp2.500.000 = Rp5.000.000.

Jauh lebih besar bukan?

Padahal perhitungan di atas masih memakai perhitungan minimalis. Bagaimana jika memakai perhitungan yang tidak minimalis? Misalnya enam anak kuliah semua, satu anak kebutuhan perbulan Rp2.000.000 x 6 = Rp12.000.000. jika hanya menguliahkan anaknya sendiri, cukup Rp6.000.000 saja untuk anak-anak.

Jadi, marilah lebih bijak dalam berbicara. Jangan menuduh yang bukan-bukan kepada laki-laki yang belum mau berpoligami. Bisa jadi karena masih banyak PR yang harus dibereskan.  Coba bayangkan. Di masa sekarang, ada seorang laki-laki menikahi seorang janda beranak tiga. Laki-laki  tersebut hanya mengurusi istri keduanya saja, sementara anak-anak tirinya tidak ia urusi. Kira-kira, apa komentar masyarakat? Bisa jadi akan dicaci-maki habis-habisan. Anda mau?

Membandingkan kondisi sekarang (era kapitalisme) dengan zaman penerapan syariah Islam itu tidak tepat. Tidak apple to apple. Di masa penerapan syariah Islam, para wali sadar tentang kewajibannya menafkahi anak-anak si janda. Jika tidak mau mengurusi, maka tentu negara akan memaksa para wali untuk mengurusinya. Jika para walinya tidak ada (misalnya sudah syahid semua), maka baru negara akan turun tangan menafkahi.  Makanya, #YukNgaji. #YukMikir. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: