Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Kita adalah Ujian Bagi Orang Lain

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 30, 2014

ujian-kertasSaya adalah ujian bagi anda.

Anda adalah ujian bagi saya.

Saya adalah ujian bagi teman saya.

Teman saya adalah ujian bagi saya.

Suami adalah ujian bagi istrinya.

Suami yang kurang pintar, kurang ganteng, penghasilan pas-pasan, maka menjadi ujian bagi istrinya, apakah istri mau taat kepada suaminya?

Istri adalah ujian bagi suaminya.

Ketika istri kurang cantik, nada bicara kurang halus, maka menjadi ujian bagi suaminya, apakah suami mau setia kepada istrinya, atau mencari perempuan lain?

Seorang aktivis dakwah yang berlatar belakang awam (bukan pesantren), ketika dia mengontak kyai, maka dia adalah ujian bagi kyai tersebut. Apakah kyai tersebut mau mendengarkan kebenaran dari seseorang yang “bukan siapa-siapa”?

Seorang aktivis dakwah yang kebetulan adalah mahasiswa dengan IP rendah dan tidak lulus-lulus, ketia dia mengontak kaum intelektual (dosen), maka dia menjadi ujian bagi si dosen. Maukah si dosen mendengarkan kebenaran dari si mahasiswa tidak berprestasi tersebut?

Seorang aktivis dakwah yang menjadi buruh kasar berstrata sosial rendah, ketika dia mengontak tokoh masyarakat yang disegani dan banyak pengikut, maka dia menjadi ujian bagi tokoh tersebut. Apakah si tokoh mau mendengarkan kebenaran dari orang yang mungkin tidak dianggap siapa-siapa oleh masyarakat?

Seorang aktivis dakwah yang yunior dan belum pintar, ketika dia mendapat amanah menjadi pemimpin, maka menjadi ujian bagi para seniornya, menjadi ujian bagi aktivis dakwah yang lebih pintar. Maukah yang senior dan pintar taat kepada yunior dan belum pintar?

Setiap orang ada ujian masing-masing. Setiap orang menjadi ujian bagi orang lain.

Ketika suatu kebenaran diemban oleh seseorang yang dianggap banyak kekurangan, maka orang cerdas dan rendah hati akan melihat apa yang dia emban, bukan pengembannya.

Ibarat kita menerima paket yang dibawa kurir Pos, maka kita tidak akan melihat apakah si kurir bajunya rapi atau dekil, pintar apa bodoh, tapi yang kita lihat adalah apa yang ia bawa? Siapa pengirimnya dan apa isinya? Bukan siapa yang membawa paketnya.

Sayangnya, banyak orang gagal melewati ujian ini.

Ketika ada aktivis dakwah yang kebetulan ada kekurangan, ia justru mencela apa yang didakwahkan aktivis tersebut. Ini namanya sesat pikir.

Ingatlah….!

Nabi Adam menjadi ujian bagi Iblis.

Iblis yang merasa lebih tinggi (karena diciptakan dari api) merasa gengsi untuk bersujud kepada Nabi Adam yang diciptakan dari tanah.

Iblis pun akhirnya diusir dari surga, dan nerakalah tempat iblis selama-lamanya.

Gengsi itu bisa menjadi malapetaka. Gengsi adalah perwujudan dari Gharizah Baqa’.

Oh ya, tambahan lagi.

Seorang Kyai besar pun menjadi ujian bagi para santri dan pengikut-pengikutnya.

Apakah para santri menjadi fanatik buta kepada kyai besar (apapun kata kyai dianggap benar), ataukah menjadi pengikut yang kritis?

*Renungan malam Jumat.  (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: