Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Deteksi Dini Belokan Kehidupan

Posted by Farid Ma'ruf pada Agustus 2, 2014

perempatanPernahkah kita mengenal seseorang yang sangat bersemangat di dalam dakwah, namun setelah sekian lama tidak berjumpa, kita terkaget-kaget karena ternyata ia tidak aktif lagi di dalam dakwah? Wajar kalau kita kaget, karena memang itu suatu belokan yang besar. Lebih kaget lagi jika ternyata ia tidak sekedar meninggalkan suatu organisasi dakwah, namun juga melakukan aktivitas maksiat yang demonstratif, misalnya:
1. Membuat forum yang mengundang banyak orang, tetapi forumnya ikhtilat, terjadi campur-baur antara peserta laki-laki dan perempuan, tanpa menampakkan design rencana pemisahan.
2. Iklan bisnis yang nyata-nyata menunjukkan bahwa bisnisnya tidak syar’i.

Melihat seseorang melakukan belokan besar, sudah tentu akan membuat kita kaget. Namun, sebenarnya seseorang tidak langsung melakukan belokan besar tanpa sebelumnya melakukan belokan kecil. Hanya saja, ketika seseorang melakukan belokan kecil, seringkali orang lain tidak menyadarinya. Bahkan si pelaku sendiri mungkin belum menyadarinya.
Apa sih belokan kecil tersebut?

Belokan kecil bisa jadi bukan sesuatu yang dianggap maksiat. Tetapi ia hanya sesuatu yang dianggap mubah saja. Namun sebenarnya, ketika seseorang sudah berlebihan dalam perkara mubah, itu sudah merupakan tanda bahwa ia orang yang bermasalah.

Beberapa contoh perkara yang dianggap mubah, padahal sebenarnya bermasalah.

Pertama, banyak membuang waktu untuk perkara mubah.
Bagi orang Islam, waktu itu sangat berharga. Jika hidup kita ini 60 tahun, untuk usia pra baligh 15 tahun, maka berarti usia kita yang bermakna (menentukan nasib di akhirat) hanya 45 tahun saja. Kita tidur 8 jam setiap hari, alias 1/3 hidup kita adalah untuk tidur. Itu berarti 15 tahun dari 45 tahun. Berarti 45 tahun dikurangi 15 tahun, tinggal 30 tahun. Berarti hanya 30 tahun saja waktu kita yang benar-benar berarti, tidak lama bukan?
Penggunaan waktu 30 tahun itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah digunakan untuk melakukan perkara-perkara yang wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram?
Muslim yang baik, tentu akan mengisinya dengan prioritas: mendahulukan yang wajib, sebagian sunnah, dan sebagian yang mubah. Ia akan menghindari perkara yang makruh, apalagi haram.
Untuk urusan yang wajib, ia akan habiskan waktunya untuk itu. Bisa jadi, perkara yang sunnah tidak bisa ia lakukan semua. Demikian juga yang mubah, tidak akan sempat banyak-banyak ia lakukan.
Oleh karena itu, jika ada seseorang yang rela menghabiskan banyak waktunya untuk perkara yang mubah, bisa jadi ia sudah sedikit berbelok.
Contoh:
Rela begadang berhari-hari untuk nonton sepak bola di televisi. Memang sih, itu mubah. Tetapi sebenarnya apakah kita sudah melakukan yang wajib, misalnya: membuat alur materi pengajian (yang kita dijatah sebagai pengisi)?

Rela dolan (jalan-jalan) kesana-kemari tanpa menunjukkan suatu target tertentu yang berkaitan dengan perkara wajib atau sunnah.

Dan masih banyak lagi.

Kedua, berlebihan dalam membeli barang-barang yang mubah.
Pernahkah kita melihat ada teman yang membeli handphone berharga jutaan, sementara dalam aktivitas sehari-harinya, ia sebenarnya cukup menggunakan handphone seharga ratusan ribu?
Akhirnya, fasilitas canggih di handphonenya tidak pernah ia gunakan. Lantas, untuk apa membeli handphone berharga jutaan? Menjaga gengsi? Mau sombong? Coba cek handphone kita masing-masing, jangan-jangan kita sudah termasuk orang yang berbelok.

Contoh lain, membeli kendaraan yang melebihi kebutuhan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin memiliki sepeda motor bebek sudah cukup. Tidak perlu membeli sepeda motor berharga puluhan juta yang ber-cc besar. Selain harganya mahal, bensinnya juga lebih boros, pajaknya juga lebih besar. Lantas, untuk apa sepeda motor mahal? Agar kelihatan lebih macho? Agar kelihatan keren?

Mungkin juga dalam kepemilikan mobil. Bisa jadi, sebuah keluarga cukup memiliki mobil seharga rp150 juta. Lantas, untuk apa membeli mobil seharga rp300 juta?

Mungkin juga dalam pembangunan rumah. Bisa jadi, sebuah keluarga cukup memiliki rumah dengan budget pembangunan rp150 juta. Lantas, untuk apa membangun rumah dengan biaya rp300 juta? Apalagi kalau sampai rp1 milyar. Untuk apa?
(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: