Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Sepuluh Belokan Kehidupan

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 22, 2014

jalan-surgaPernah bertemu teman lama yang berubah drastis? Misal teman SMA yang dulu hobinya pacaran, kongkow di mall. Tapi sekarang menjadi aktivis Islam, tidak pacaran tentu saja, dan sering pengajian di masjid? Atau kasus sebaliknya, teman SMA yang dulu itu rapi berjilbab, menjaga pergaulan, tapi sekarang jilbabnya dilepas, dan punya pacar?

Jika kita pernah menemukan kasus yang mirip-mirip contoh di atas, berarti kita telah menemukan orang-orang yang berbelok jalan hidupnya. Ada orang yang berbelok dari jalan buruk menuju jalan yang baik, tapi ada pula orang yang berbelok dari jalan baik beralih ke jalan yang buruk.

Allah berfirman :

Faalhamaha fujuroha wataqwaha

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”

(TQS. Asy-Syam : 8)

Manusia itu ditunjukkan dua jalan, yatu jalan yang buruk dan jalan yang baik. Kapan saja manusia bisa beralih dari satu jalan menuju jalan yang lain.

 

Dalam tulisan kali ini, kita akan membahas belokan dari jalan baik beralih ke jalan buruk.

Dimanakah titik-titik rawan belokan tersebut? Berikut ini saya mencoba mendatanya.

 

Pertama, belokan pendidikan.

Ada orang yang sebelumnya sudah cukup semangat mengkaji Islam. Ia diterima di sebuah institusi pendidikan yang cukup bergengsi, bahkan setelah lulus biasanya juga langsung dapat pekerjaan. Sayangnya, di tempat dia dia belajar tersebut, tidak diizinkan memakai busana muslimah yang syar’i. Pilihannya hanya dua : terus bersekolah di situ dengan menanggalkan jilbabnya, atau terus berjilbab tapi terpaksa harus keluar dari sekolah bergengsi tersebut. Pilih mana?

Kedua, belokan pacar.

Belokan pacar terjadi ketika seseorang yang sudah ada semangat mengkaji Islam, tetapi ia belum cukup kuat. Ketika di dunia bebas ia menemui fakta bahwa hampir semua orang pacaran, akhirnya ia pun terpengaruh. Maka berbeloklah dia dari jalan ke-Islaman beralih ke jalan pacaran.

Ketiga, belokan pekerjaan.

Belokan pekerjaan itu misalnya seseorang yang sebelumnya semangat menghadiri acara-acara ke-Islaman. Tetapi ketika diterima di dunia kerja, ia menjadi sibuk sekali dengan pekerjaannya. Mengaji pun akhirnya hanya di sela-sela waktu, dan di sisa-sisa tenaga. Sampai akhirnya tidak sempat lagi mengaji Islam.

Ada pula orang yang sebelumnya semangat mengaji Islam, tetapi ketika ia bekerja di sebuah institusi tertentu, oleh atasannya ia tidak boleh mengaji kecuali dalam forum-forum pengajian tertentu yang ditentukan atasannya (padahal pengajian yang ditentukan tersebut kurang bermutu). Daripada dipecat, akhirnya ia memilih pengajian yang kurang bermutu.

Keempat, belokan pengangguran.

Ini kebalikan dari belokan pekerjaan. Belokan ini bisa saja dialami oleh seseorang yang sudah lulus kuliah, bergelar sarjana, dari kampus ternama, tapi melamar kerja dimana-mana tidak diterima. Akhirnya ia malu. Sementara teman-temannya yang tidak pintar-pintar amat, hanya sekolah di SMK, setelah lulus langsung kerja di pabrik, sudah menikah, sudah punya anak. Sementara ia sendiri yang ketika kuliah habis uang banyak, masih nganggur, dan tentu saja tetap jomblo, apalagi nggandeng anak; tentu tidak. Malu… Akhirnya, memilih berhenti mengaji saja.

Kelima, belokan orang tua.

Ada orang tua yang ketika anaknya pacaran dan suka dolan, justru senang-senang saja. Tetapi ketika anaknya rajin ngaji, tidak pacaran, ditambah jilbaban, langsung heboh. Anaknya dihalang-halangi untuk mengaji. Jilbaban yang syar’I justru dicurigai. Padahal ketika pakai kerudung mini, justru diapresiasi. Anak yang tidak kuat, dengan alasan taat kepada orang tua, bisa jadi justru meninggalkan pengajian keislaman, tidak taat lagi kepada Allah.

Keenam, belokan jodoh.

Seseorang sebelum menikah bisa jadi aktif di organisasi dakwah. Tetapi ketika menikah, justru itu menjadi titik balik bagi dirinya.  Ada akhwat yang berubah menjadi tidak dakwah karena mendapatkan suami yang ora nggenah. Ada juga ikhwan yang setelah menikah justru terhadap istri dan mertuanya berposisi takut dan kalah.

Ketujuh, belokan bisnis.

Ini bisa terjadi karena bisnisnya bisa jadi kurang syar’I, tetapi hasilnya menggiurkan. Jika ia berganti bisnis, belum tentu bisa mendapatkan keuntungan seperti yang ia peroleh sekarang. Akhirnya, daripada kurang mendapat uang, ia tinggalkan saja ngajinya.

Kedelapan, belokan modal bisnis.

Di masa sekarang ini, banyak pengusaha yang modal bisnisnya dari perbankan, dan itu riba. Tidak hanya pengusaha besar, pedagang bakso pinggir jalan saja modalnya dari bank. Karena riba itu sudah menjeratnya, maka ia pun berbelok dari jalan taqwa beralih ke jalan maksiat.

Kesembilan, belokan profesi.

Apa jadinya jika seorang aktivis, berhasil menggeluti profesi yang bergengsi, dipuja banyak orang, tapi ternyata dalam aspek teknis profesinya, terjadi pelanggaran-pelanggaran syariah? Misalnya : ada ikhtilat. Jika ia orang yang kuat, maka ia akan atur agar teknis dalam profesinya bisa sesuai syariat, walau resikonya ia menjadi berkurang ordernya. Tapi jika ia kurang kuat, maka ia takut mensyariahkan aspek teknis profesinya. Akibatnya, ya selamat tinggal dakwah.

Kesepuluh, belokan faktor X.

Belokan faktor X adalah belokan dimana seseorang bisa berubah tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Ia yang sebelumnya semangat Islamnya, mendadak tidak semangat. Sebelumnya sangat terikat dengan syariat, eh mendadak suka melanggar syariat. Belokan ini bisa jadi adalah belokan misteri.

 

Demikianlah sepuluh titik rawan dalam kehidupan kita. Semoga Allah menjaga kita agar tetap lurus di jalan yang benar, dan tidak berbelok kemana-mana. Aamiin. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: