Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

JAIM (Part 02)

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 14, 2014

nongkrongSuatu ketika saya sholat di sebuah masjid yang saya belum pernah sholat di situ (kebetulan saya ada acara di dekat masjid tersebut, kemudian sholat di masjid terdekat). Ketika saya wudlu, muadzin nampak sengaja menunggu saya. Setelah selesai wudlu, ia meminta secara khusus agar saya menjadi imam. Hmmm. Jujur saya heran. Kenal saja tidak, kok mendadak diminta menjadi imam. Saya tanya, imam yang biasanya dimana? Dia jawab “belum datang.” Saya pun mencoba berpikir, mengapa saya yang diminta? Oh, mungkin ini karena baju saya. Saya memakai baju batik lengan panjang dan celana panjang biasa (bukan celana jeans), sementara jamaah yang lain hanya memakai kaos, atau celana jeans. Tampang wajahnya juga sepertinya “kurang sejuk”. Pantes.

Di kesempatan yang lain, saya antar anak periksa di rumah sakit negeri. Seperti biasa, antrian sangat banyak. Petugas juga sangat kalah keramahannya daripada rumah sakit swasta. Tidak sedikit kami temukan petugas yang membentak-bentak pasien/keluarga pasien. Tapi, ternyata kami dilayani dengan cukup ramah. Bicaranya juga sopan banget. Berkali-kali seperti itu, tanpa kami tahu sebabnya. Saya dan istri hanya main tebak-tebakan saja, mengapa sih kok banyak pasien dibentak-bentak petugas, perawat, bahkan termasuk dokternya sekalipun. Sementara kita kok tidak?

Suatu ketika, ada kesempatan ngobrol dengan petugas rumah sakit. Terungkaplah sebabnya. Ternyata saya dikira seorang Kyai dari pondok pesantren tertentu, yang mana petugas tersebut pernah nyantri di sana. Oalah, pantesan ramah banget. Entah mengapa ia bisa mengira seperti itu, tapi yang jelas, istri saya selalu memakai jilbab rapi, sementara saya juga memakai baju yang relatif sopan, tidak urakan.

Dua kasus di atas mungkin bisa menjadi contoh hal-hal positif gara-gara pakaian dan sikap.

Berikutnya, contoh sebaliknya.

Suatu ketika saya diminta mengisi ceramah di sebuah masjid. Saya datang tepat waktu, sebelum adzan. Saya pun duduk di barisan depan. Waktu itu saya hanya memakai baju biasa (bukan baju koko, bukan sorban), tanpa peci, dan hanya memakai celana panjang biasa (bukan sarung). Tampilan mirip jamaah biasa. Beberapa saat kemudian, masjid-masjid lain sudah iqomah. Saya lihat beberapa orang tampak tolah-toleh dengan gelisah. Sepertinya mereka mencari seseorang, tapi tidak mereka temukan. Akhirnya,  sholat diimami oleh salah seorang takmir. Saya pun menjadi sadar bahwa memakai baju yang “berbeda” ternyata penting. Oleh karenanya, di kesempatan lain, saya usahakan tidak memakai baju biasa. Minimal baju koko/batik, peci, dan rapi. Dan berhasil. Takmir langsung mempersilakan saya menjadi imam sholat dan mengisi ceramah.

Tadi siang, selesai antar paket di kantor pos, saya duduk di parkiran. Saya sedang mengirim nomor resi pengiriman ke pembeli. Biasanya saya mengirim sambil duduk kursi di dalam Kantor Pos. Tapi tadi saya sengaja mengirim sms sambil duduk di luar, di parkiran. Tiba-tiba datanglah ibu-ibu. Dengan tetap duduk di atas sepeda motor, ibu itu berteriak memanggil saya dengan tidak sopannya. Mengira ibu itu butuh bantuan, saya pun bergegas menghampirinya. Ternyata ia bertanya, “Apakah gaji ke-13 sudah bisa diambil?”. Saya pun menjawab : “Tidak tahu Bu. Coba tanya saja ke petugas di dalam.” Ibu itu melanjutkan : “Mas, biasanya tukang parkir itu tahu lho gaji sudah bisa diambil atau belum.” Oh, saya baru sadar. Ternyata saya dikira tukang parkir. Dasar ibu-ibu. Tapi, mendengar gaya bicara saya yang mungkin berbeda, tampaknya ibu itu mulai sadar. “Oh, lha dimana to Mas tukang parkirnya.” Saya jawab saja : “Sedang keluar Bu.” Tadi saya memang hanya memakai jaket lawas, kaos, dan sandal (walau bukan sandal jepit). Tapi mungkin posisi duduk saya yang menempati tempat yang bukan semestinya yang membuat ibu itu salah sangka.

Dari cerita-cerita di atas, apa sih maksud sebenarnya ditulisnya catatan ini?

Jadi begini. Ada satu kalimat berbahasa Jawa (entah apa namanya) yang berbunyi :

Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.

Ajining diri saka lathi kurang lebih maksudnya adalah berharganya seseorang itu tergantung ucapannya.

Sementara ajining raga saka busana kurang lebih maksudnya adalah berharganya seseorang itu dari cara dia berbusana. Berpakain sopan, bisa membuat lebih dihormati. Berpakaian tidak sopan, maka membuat orang lain tidak menghargai.

Tentu saja, kalimat berbahasa Jawa tersebut tidak sepenuhnya benar. Manusia tidak bisa dinilai sekedar dari ucapannya dan pakaiannya. Bisa saja ada orang yang kesannya bicaranya kasar, tetapi ternyata itu benar menurut Islam. Bisa jadi juga, ada orang yang pakaiannya mungkin dianggap tidak sopan, tetapi itu juga benar menurut Islam.

Sebaliknya, bisa jadi ada orang yang bicara sopan, padahal itu tidak Islami. Atau berpakaian yang oleh masyarakat dianggap sopan, tetapi itu melanggar syariah Islam.

Namun di sini, saya hanya ingin bilang bahwa cara berbicara dan tata-cara berbusana itu penting untuk diperhatikan. Terlebih bagi orang yang mengaku sebagai aktivis Islam atau orang yang aktif di organisasi dakwah.

Jangan beralasan karena nilai syakhsiyah Islamiyah seseorang itu tidak bisa dinilai dengan melihat pakaiannya, cara bicaranya, terus bertingkah “sembarangan”. Kemana-mana pakai celana jeans, dipadukan dengan kaos bertema “sangar” (revolusi), dilengkapi sandal jepit lawas. Rambut juga gondrong. Memang sih, itu tidak dosa (walau juga tidak berpahala). Juga tidak bisa dijadikan alat penilaian apakah orang tersebut baik atau tidak. Tapi, bukankah itu bisa kontraproduktif terhadap organisasi dakwah Islam? Apalagi sambil kebal-kebul menebar asap rokok. Atau beralasan mau tampil apa adanya (tidak mau sok alim), tidak mau berkperibadian ganda, dan alasan-alasan lainnya.

Cobalah kita pikirkan. Orang biasanya melihat dari tampilannya dulu, dilanjutkan dengan tutur katanya, dilanjutkan dengan isi apa yang disampaikannya. Jangan sampai belum apa-apa sudah dibenci duluan. Gara-gara tampilan yang urakan dan cara berbicara yang tidak sopan. (www.faridmaruf.wordpress.com)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: