Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Jenis-jenis Jatuh Cinta

Posted by Farid Ma'ruf pada Juni 27, 2014

Oleh : Farid Ma’ruf

 

azzam-annaJatuh Cinta adalah sebuah kecelakaan yang indah. Benarkah demikian? Menurut saya tidak. Jatuh cinta ya tetap kecelakaan, dan tentu tidak indah.

Jatuh cinta adalah kondisi ketika ada laki-laki atau perempuan yang mempunyai perasaan ingin memiliki karena terpesona dengan lawan jenisnya itu. Jatuh cinta bisa dalam kondisi saling mencintai, tapi bisa juga dalam kondisi bertepuk sebelah tangan. Dua kondisi ini belum tentu selalu berakhir indah. Walau sama-sama saling mencintai, ketika ada halangan-halangan, misalnya perbedaan agama, perbedaan status sosial, tidak disetujui orang tua, dan sebab-sebab lainnya, maka bisa membuat orang yang jatuh cinta tersebut frustasi, bahkan nekat bunuh diri. Sementara itu, cinta bertepuk sebelah tangan sudah jelas menyakitkan sejak dari awalnya.

Dilihat dari tingkatan jatuh cinta, maka jatuh cinta bisa kita bagi dalam empat jenis.

Pertama, Jatuh Cinta Level Rendah.

Orang yang jatuh cinta di level ini utamanya hanya melihat fisik obyek yang dijatuhi. Misalnya : faktor kecantikan dan faktor kekayaan. Laki-laki yang jatuh cinta di level ini, menomorsatukan faktor kecantikan perempuan yang dilihatnya, tanpa mempedulikan faktor-faktor lainnya. Cantik adalah nomor satu. Maka wajar jika ada kalimat Love at the First Sight atau Cinta Pada Pandangan Pertama. Ini mudah terjadi pada orang-orang yang hanya mengandalkan faktor fisik semata. Sudah sering terjadi, orang-orang yang jatuh cinta di level ini hanya akan merasakan nikmat di awalnya, tapi makin lama makin berkurang, dan akhirnya cintanya hilang sama sekali. Berubah menjadi percekcokan, perselingkuhan, dan ketidaksetiaan. Kalangan artis bisa menjadi salah satu contoh bahwa kecantikan, kegantengan, kekayaan ternyata tidak otomatis membuat orang bahagia.

 

Kedua, Jatuh Cinta Level Sedang.

Orang yang jatuh cinta di level ini tidak hanya memperhatikan faktor kecantikan semta, tetapi juga memperhatikan faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain yang diperhatikan biasanya adalah: sopan santun, tutur kata, keluwesan dalam bergaul, tata krama, dan lain sebagainya. Terlepas dari aspek apakah perempuan tersebut terikat total kepada syariah atau tidak.

Jatuh cinta di level ini juga masih belum membuat pelakunya selamat. Sopan santun, tata krama, itu bisa jadi sangat relatif. Sopan di sini, belum tentu sopan di sana. Orang yang sopan juga belum tentu paham agama. Maka masih berbahaya jika jatuh cinta hanya sampai level ini.

 

Ketiga, Jatuh Cinta Level Tinggi.

Orang yang jatuh cinta di kevel ini, selain memperhatikan faktor-faktor pada jatuh cinta level pertama dan kedua, ia juga memperhatikan faktor agama si perempuan yang ia jatuhi cinta. Bahkan faktor agama itu adalah nomor satu baginya. Kecantikan adalah faktor berikutnya. Oleh karena itu, orang yang jatuh cinta di level ini, ia tidak akan mudah sembarangan jatuh cinta ketika melihat gadis cantik, sopan, santun, lembut tutur katanya, dan bagus tata kramanya. Jika gadis tersebut tidak berjilbab, maka orang yang berada di level ini tidak akan jatuh cinta kepadanya.

Orang yang berada di level ini biasanya adalah orang yang sudah ikut forum-forum pengajian, aktif di kegiatan keislaman, aktif di remaja masjid, aktif di dakwah kampus, dan lain sebagainya.

Bisa jadi ia seorang ketua panitia kegiatan dakwah kampus yang jatuh cinta kepada sekretarisnya, seorang ikhwa  koordinator bidang jatuh cinta kepada akhwat anggota di bidang yang sama dengannya, dan lain sebagainya. Ketika saya masih aktif di kegiatan keislaman kampus, saya pernah mendengar istilah CBSA. Singkatan ini bukan bermakna Cara Belajar Siswa Aktif, tetapi bahasa plesetan. Maksudnya adalah : Cinta Bersemi Saat Aksi. Jadi interaksi antara ikhwan dan akhwat sesama aktivis dakwah kampus ternyata bisa menimbulkan benih-benih cinta diantara mereka. Salah satu kegiatan yang sangat memungkinkan untuk tumbuhnya benih cinta tersebut adalah ketika aksi. Bisa saja awalnya hanya bermula dari rapat koordinasi, dilanjutkan dengan komunikasi pasca rapat koordinasi, dan tumbuhlah benih cinta diantara mereka. Akhirnya, jatuh cinta beneran.

Mungkin anda mengira bahwa jatuh cinta level tinggi itu adalah jatuh cinta yang baik? Menurut saya tidak. Itu masih saja “jatuh cinta” yang berpotensi malapetaka. Tetap saja, walau seorang ikhwan aktivis dakwah kampus, ketikaa ia jatuh cinta kepada seorang akhwat sesama aktivis dakwah kampus, jika terlanjur cinta, itu bisa membuatnya membabi buta. Apapun akan ia lakukan agar akhwat yang ia cintai bisa ia dapatkan. Jika akhwat yang ia cintai diperkirakan akan “terpesona” dengan ikhwan yang pandai berorasi, pintar memimpin rapat, mempunyai jabatan ketua organisasi kampus, bisa jadi si ikhwan pun akan berusaha keras memenuhinya. Ia rebut kesempatan berorasi, ia rajin membuat rapat (dan ia sebagai pimpinan rapatnya), serta semangat luar biasa meraih jabatan ketua organisasi kampus. Untuk apa ia lakukan itu semua? Ikhlas berdakwah? Jangan-jangan keikhlasannya sudah tercampur dengan niat ingin membuat akhwat incarannya terpesona. Gawat kan?

Orang yang berada di level ini, bisa menjadi orang-orang yang “mendadak galau”. Sepertinya semangat tetapi ternyata mendadak melempem. Sepertinya meraih pahala besar, tetapi ternyata tidak ada nilainya gara-gara rusaknya niat.

 

Keempat, Jatuh Cinta Level Tertinggi (Perencana Cinta)

Orang yang jatuh cinta di level ini, ia memperhatikan semua faktor yang diperhatikan di level pertama, kedua, dan ketiga. Tetapi ada perbedaan utama. Orang di level ini adalah orang yang sangat berhati-hati. Ia tidak ingin “terjatuh” di saat yang tidak tepat dan di tempat yang tidak tepat. Ia senantiasa “berjalan” dengan hati-hati, sampai ia dalam posisi siap untuk “jatuh” atau lebih tepatnya “melompat menjatuhkan diri”.

Ia akan mencari “lokasi pendaratan” terbaik menurut pemikiranya, berdasar semua ilmu keislaman yang ia kuasai. Lokasi pendaratan tersebut bisa jadi menurut perasaannya kurang menarik. Tetapi menurut peikirannya, itu adalah lokasi pendaratan terbaik. Maka, dipilihlah lokasi tersebut.

Waktu pendaratan juga dipersiapkan sebaik-baiknya, tidak lebih awal (ketika dia belum siap), juga tidak terlambat. Tapi benar-benar pas, presisi.

Orang-orang yang berada di posisi ini sejatinya bukanlah orang yang “jatuh cinta” (tanpa rencana). Tetapi adalah orang-orang yang merencanakan cinta. Orang-orang yang berada di level ini juga cenderung lebih besar kemungkinan selamatnya, bahagia dunia akhirat. (www.faridmaruf.wordpress.com)

 

 

-bersambung-

*Jenis-jenis Jatuh Cinta adalah Bagian Kedua dari Kumpulan Tulisan : Merencanakan Cinta.

Ditulis dalam rangka peringatan pernikahan tahun ke-6

Tulisan selanjutnya berjudul : Mengapa Orang Bisa Jatuh Cinta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: