Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Bisnis di Wilayah Abu-abu, Bolehkah?

Posted by Farid Ma'ruf pada Mei 21, 2014

projectorDalam dunia bisnis, dikenal dunia hitam dan dunia putih. Tapi, ternyata dalam dunia bisnis ada juga grey area, alias wilayah abu-abu.

Apa yang dimaksud dengan istilah-istilah di atas?

 

Bisnis dunia putih adalah bisnis yang jelas-jelas bolehnya.

Misalnya :

Bisnis berjualan jilbab, bisnis berjualan kerudung, bisnis berjualan madu, dan lain sebagainya.

Bisnis dunia hitam adalah bisnis yang jelas-jelas haramnya.

Misalnya :

Bisnis berjualan narkoba, bisnis berjualan film porno, bisnis berjualan wanita tuna susila, dan lain sebagainya.

 

Biasanya pembahasan orang berhenti di situ. Seolah-olah yang tidak hitam itu pasti putih. Benarkah demikian?

 

Oh, ternyata tidak. Ada grey area. Wilayah abu-abu, yang dalam kondisi tertentu bisa menjadi putih, tapi dalam kondisi lain bisa menjadi hitam.

 

Apa contohnya?

 

Saya beri contoh dari pengalaman saya sendiri.

Tahun 2008 saya membeli projector dengan brightness/lumens 2000 ANSI (lumayan bagus lah di masa itu). Di zaman itu, masih jarang orang yang mempunyai Projector. Sewa pun mahal. Tarif sewa per jam sekitar Rp75.000. Dua jam pemakaian berarti Rp150.000. Jika dalam sehari bisa disewa dua kali saja, masing-masing dua jam, berarti sehari bisa dapat pemasukan Rp300.000. itu hanya dari satu buah projector. Bagaimana jika punya dua, tiga, atau empat?

 

Tanpa promosi apapun, cukup banyak juga yang menyewa projector saya. Waktu itu saya tidak promosi karena memang membeli projector niatnya untuk saya pakai sendiri. Waktu itu saya mengadakan program training remaja di masjid-masjid. Saya sendiri yang mengisi training-training tersebut. Kendalanya, sewa projector harus ke Kota Jogja (jauh). Harus ambil dan segera dikembalikan. Terlambat mengembalikan berarti dianggap masa sewa diperpanjang. Jelas repot banget, dan mahal banget. Padahal training untuk remaja masjid itu gratisan, tombok malah.

 

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk membeli projector saja, saya pakai sendiri. Nah, ketika saya membawa-bawa projector itu otomatis menjadi banyak yang tahu, dan bertanya boleh disewa tidak? Saya jawab boleh-boleh saja.

Maka, banyak juga remaja-remaja yang menyewa projector saya. Ketika disewa untuk pengajian, tentu tidak masalah. Tapi belakangan saya tahu, ternyata ada juga yang menyewa untuk acara :

  1. Nonton film bareng (biasanya di malam minggu atau liburan).
  2. Nonton sepak bola bareng.
  3. Dan acara-acara lain yang menurut saya bukan acara yang Islami.

Mengetahui fakta ini, saya pun memutuskan untuk tidak menyewakan ke orang lain, kecuali teman sendiri, digunakan untuk acara pengajian/acara yang tidak melanggar ajaran agama.

Ketika menyewakan untuk teman pun, tarifnya juga murah banget. Hanya sekitar Rp15.000 – Rp20.000/jam (padahal tarif normalnya Rp75.000/jam). Tarif yang sudah murah itu pun kadang-kadang juga tidak dibayar. He he he….

 

Mari kita kaji fakta kasus saya di atas.

Apa hukum menyewakan projector? Tentu jawabannya adalah : mubah/boleh.

Bisnis dunia hitam atau dunia putih? Tentu jawabannya adalah : dunia putih.

Tapi, ternyata bisa menjadi berwarna putih itu ketika orang yang menyewa adalah orang yang paham syariah. Jadinya putih. Tapi ketika disewa oleh orang yang tidak paham syariah, bisa menjadi hitam. Tentu ini jika kita sudah tahu untuk apa orang tersebut menyewa. Tetapi jika tidak tahu, ya hukumnya tetap boleh.

 

Sekarang coba kita berhitung. Lebih banyak mana pengguna yang hitam atau putih? Di alam kapitalisme ini, sebagian besar ternyata hitam. Yang putih jarang-jarang.

 

Oleh karena itu, bisnis di alam kapitalisme ini membuat banyak bisnis yang aslinya putih menjadi abu-abu atau bahkan menjadi hitam.

Contoh :

1. Bisnis webdesign.

Ini bisnis putih. Tapi akhirnya bisa menjadi hitam jika klien adalah :

Bank konvensional, koperasi simpan-pinjam, MLM, sekolah (umum), kampus (umum), dll.

 

2. Bisnis menyewakan ruko.

Ini aslinya juga bisnis putih. Tapi akhirnya busa menjadi hitam jika penyewa menggunakannya untuk berbisnis :

Jualan baju-baju yang tidak Islami (rok, kaos, dll tapi dipakai di luar rumah), kantor asuransi, bisnis sablon tapi sablonnya tidak Islami, dll.

 

3. Bisnis percetakan.

Ini aslinya juga bisnis putih. Tapi coba kita cek. Lebih banyak mana order cetakan yang Islami dengan yang tidak Islami? Bagaimana jika ada orderan mencetak buku karangan orang JIL? Bagaimana jika ada orderan mencetak poster/baliho acara pentas seni tutup tahun sebuah sekolah (yang tentu acaranya tidak Islami, ada pentas band, dll)?

 

4. Bisnis persewaan alat-alat presentasi

Ini juga bisnis putih. Tapi bagaimana jika penyewa adalah leader MLM yang menggunakannya untuk promosi MLM?

 

5. Dan masih banyak sekali contohnya.

 

Oleh karena itu, bermimpi bisa kaya-raya dalam sistem kapitalisme memang impian yang tidak mudah. Area bisnis kita sempit karena sistem tidak mendukung. Jadi, orang kaya-raya yang hidupnya benar-benar Islami, mungkin juga hanya sedikit.

 

Jadi, banggalah menjadi orang yang hidup serba kekurangan (jauh dari kaya-raya) ketika sebenarnya kita mampu meraih uang banyak, tapi karena abu-abu, maka kita tinggalkan.

 

Pilihlah calon suami yang miskin karena konsisten memegang syariah, daripada calon suami yang kaya-raya, tapi bisnisnya abu-abu tapi kena tarikan ke hitam semua.

 

Marilah kita tidak menikmati sistem kapitalisme yang tidak kondusif ini. Mau menjadi Abdurrahman bin Auf abad 21? Tegakkan khilafah dulu deh….

(www.faridmaruf.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: