Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Pengalaman “Dipenjara” Panitia agar Tidak Ikhtilat

Posted by Farid Ma'ruf pada Maret 16, 2014

Oleh : Farid Ma’ruf

peserta masukTahun 2010 saya mengantar istri saya mengikuti acara Muktamar Muballighoh Nasional yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta. Acara ini diikuti ribuan muballighoh dari seluruh Indonesia. Sesuai dengan namanya, semua peserta adalah kaum perempuan.

Sampai di lokasi, seluruh peserta memasuki ruangan muktamar. Para pengantar yang rata-rata adalah para suami (banyak yang membawa anak balita) dilarang keras masuk. Kami pun “keleleran” dan kepanasan di lapangan luar. Kami pun pasrah saja, karena pengantar memang bukan peserta, tidak membayar akomodasi sewa ruangan, ataupun kontribusi lain. Pengantar ya pengantar. Tugasnya, mengantar istri (karena perjalanan sehari semalam sehingga harus ada suami/mahram yang mengantar), serta menjaga anak balita selama ibunya mengikuti acara. Panitia memang melarang membawa anak-anak masuk ruangan muktamar.

Beberapa waktu kemudian, setelah semua peserta muktamar (kaum perempuan) masuk ke lokasi muktamar, muncullah seseorang yang meminta bapak-bapak yang duduk lesehan di lapangan yang panas untuk masuk. “Apa benar boleh masuk? Bukannya acara khusus perempuan?” Itu pertanyaan yang muncul dari kami. Kemudian diberitahukan bahwa ini masuk ke ruangan yang berbeda. Seluruh laki-laki yang mengantar diminta masuk.

Kami pun beramai-ramai masuk ke ruangan tersebut. Ternyata memang ruangan yang berbeda dan cukup jauh dari ruangan untuk acara muktamar. Ada ratusan kaum laki-laki yang dikumpulkan disitu. Sebagian besar adalah para suami yang mengantar istri dan menjaga anak balita.

Sesampai di ruangan, kami terkejut. Di depan sudah ada spanduk/backdrop acara yang tampak serius. Tertulis (kalau tidak salah, jujur agak lupa persisnya) “Silah ukhuwah pejuang syariah dan khilafah”. “Lho, ada acara to?” Saya sebelum ke Jakarta memang sempat mendengar akan ada acara khusus, tapi tidak ada kepastian apakah ada, dan acaranya apa juga tidak tahu.

Beberapa menit kemudian masuklah beberapa pimpinan HTI. Diantaranya (seingat saya, mohon koreksi kalau ada yang salah): Ustadz Mustofa Ali Murtadlo, Ustadz Gus Juned, Ustadz Ismail Yusanto, Ustadaz Rohmad S. Labib, Ustadz M.R. Kurnia, dan Ustadz Abdullah Fanani. Ustadz Hafidz Abdurrahman tidak bisa hadir karena harus menjaga anak-anaknya di rumah (istrinya ikut acara muktamar). Sebenarnya Ustadz Rohmad S. Labib juga membawa anak-anaknya yang masih kecil-keci,  tapi ternyata beliau tangguh juga. Anak-anak bisa dibawa sambil beracara.

Di awal acara, Ustadz Mustofa Ali Murtadlo menjelaskan bahwa acara silah ukhuwah ini formatnya santai. Ini adalah acara silah ukhuwah keluarga besar HTI dari seluruh Indonesia yang pertama. Peserta boleh mengikuti acara sambil “momong” anak, jika capek boleh juga tiduran. Dalam acara ini, dijelaskan tentang capaian-capaian dakwah HTI di Indonesia. Juga ada tanya-jawab dengan peserta yang menyampaikan persoalan-persoalan dakwah di wilayahnya. Selama acara, seluruh peserta (laki-laki) dilarang keras keluar dari ruangan ini, termasuk anak-anak. Semua harus bertahan di dalam. Ruangan yang cukup besar (kapasitas sekitar 500 orang) ini memang sudah dilengkapi toilet. Panitia juga sudah menyiapkan makan untuk seluruh peserta yang hadir.

Alasan mengapa kami dilarang keras keluar ruangan adalah, di luar ruangan ini secara umum adalah untuk acara muktamar muballighoh yang pesertanya kaum perempuan. Jika ada laki-laki yang keluar dari ruangan ini (mungkin karena anaknya rewel) kemudian berjalan-jalan keluar menuju lokasi di sekitar acara muktamar muballighoh (zona akhwat), maka itu berarti ikhtilat. Padahal ikhtilat hukumnya haram.

Dengan kata lain, bisa dikatakan kami semua “dipenjara” di ruangan tersebut. Kami hanya boleh keluar jika acara muktamar muballighoh sudah selesai.

Inilah salah satu pengalaman saya yang sangat berkesan, karena :

Pertama, bisa bertemu syabab-syabab HTI dari berbagai wilayah di Indonesia. Bisa saling bertukar pikiran dan kangen-kangenan (ada banyak teman yang sudah lama tidak bertemu).

Kedua, bisa mengetahui perkembangan dakwah HTI di Indonesia. Ada banyak informasi menarik yang disampaikan dalam acara ini. Misalnya tentang upaya serius untuk mengontak para kyai yang tentu tidak mudah.

Ketiga, menunjukkan adanya panitia yang sangat serius menjaga sebuah acara dari A sampai Z, dari awal sampai akhir, agar semuanya tetap dalam koridor syariah. (www.faridm.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: