Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Jabatan, Musibah atau Kehormatan?

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 13, 2014

Oleh : Farid Ma’ruf

 

liqo-nisaFaridM.Com — Tadi pagi, dalam suatu rapat yang sudah ditunggu-tunggu, seorang teman berkata, kurang-lebih:

“Saya sebenarnya tidak mengharapkan mendapatkan amanah ini. Bahkan membayangkan pun tidak pernah. Kalau boleh memilih, saya memilih untuk tidak diberi amanah ini. Jadi, ini adalah musibah buat saya.”

Seorang teman yang lain, yang juga pernah mendapatkan amanah serupa, berkomentar :

“Dulu saya juga mendapatkan musibah tersebut.” Dan seterusnya.

Amanah dakwah (jabatan) dianggap sebagai musibah. Ini sudah bukan hal baru lagi. Di dalam sejarah, sudah cukup banyak contoh orang-orang baik yang menolak jabatan.

Namun, ternyata ada teman lain yang mempunyai persepsi berbeda.

Dia berkata :

“Okelah, dalam hati kita mengatakan bahwa menerima amanah dakwah itu musibah. Tapi, mulut kita sebaiknya tidak mengatakan itu musibah.“

“Bagi saya, adalah sebuah kehormatan ketika saya mendapatkan amanah dakwah ini. Bagi ayah saya, sebuah kehormatan pula anaknya bisa menjadi salah satu pengurus di organisasi dakwah. Bagi anak saya, bisa jadi adalah kebanggaan ketika ayahnya menjadi pengurus di organisasi dakwah. Jadi, amanah dakwah ini merupakan kehormatan bagi seluruh keluarga saya.”

“Begitu juga Ust. Farid ini. Beliau ini bisa sangat menikmati amanah dakwah yang beliau dapatkan. Bahkan karena memegang amanah dakwah ini, beliau bisa memenangkan persaingan.” Pada kata terakhir tersebut, teman saya tertawa kecil.

“Hal ini penting sekali saya tekankan. Bahkan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani di dalam kitab Nizhamul Islam bab Tata Cara Mengemban Dakwan Islam mengatakan bahwa berdakwah itu harus dilakukan dengan gembira. Amanah yang kita terima ini adalah bagian dari dakwah. Jadi kita harusnya bergembira. Kalau sedih malah salah.”

Ternyata untuk menerima suatu amanah dakwah, bisa berbeda-beda sikap kita. Ada orang yang gembira ketika mendapatkan amanah dakwah, tapi ada juga yang justru sedih. Ada orang yang suka meminta diberi amanah dakwah, tapi ada juga orang yang menghindar dan sering menolak jika diberi amanah dakwah.

Semua sikap tersebut tentu ada alasannya. Menerima sebuah amanah dakwah, tetapi kemudian tidak menjalankannya dengan baik, atau mengabaikannya, maka akan menjadi penyesalan yang berat di akhirat.

Di sisi lain, menerima sebuah amanah dakwah, kemudian menjalankannya dengan optimal, maka akan menjadi mesin pahala dan membuat kita bisa berbangga di akhirat.

Agar lebih mudah membayangkannya, mari kita pakai pendekatan ala pedagang terlebih dahulu.

Bayangkan ada seorang pedagang warung bakso. Setiap hari ia mendapat laba Rp100.000. Berarti dalam sebulan Rp3.000.000. Itu dengan asumsi ia setiap hari berdagang, tidak libur.

Coba bandingkan dengan juragan bakso. Ia punya 30 cabang warung bakso. Setiap hari pekerjaan si juragan adalah mengkoordinir anak buahnya yang bertugas menjaga warung bakso. Setiap warung mendapatkan laba Rp100.000/hari, atau Rp3.000.000 per bulan. Laba tersebut ia bagi dua dengan anak buahnya. Berarti setiap hari si juragan bakso mengantongi laba Rp50.000 dari masing-masing warung bakso. Warungnya berjumlah 30 buah, berarti total dalam sehari, si juragan mengantongi laba Rp50.000 x 30 = Rp1.500.000. Dalam sebulan berarti Rp1.500.000 x 30 = Rp45.000.000. Ternyata, penghasilan sang juragan jauh di atas penghasilan semua anak buahnya.

Nah, bagaimana jika dalam organisasi dakwah. Misalnya kita menjadi anggota saja alias anak buah, dan tiap hari mendapat pahala Rp100.000 (agar lebih mudah membayangkannya, pahala saya gambarkan seperti uang, mohon jangan perdebatkan masalah ini). Dalam sebulan berarti mendapatkan pahala Rp3.000.000. Tapi, bisa jadi ada anak buah yang lebih rajin bekerja, misalnya sering mengisi pengajian, sering menyebarkan buletin dakwah, dan lain sebagainya. Maka wajar jika ada anggota lain yang bisa mendapatkan pahala Rp5.000.000, atau bahkan Rp10.000.000.

Sekarang bayangkan jika kita di posisi koordinator, misalnya mengkoordinir 5 orang anggota halqoh.

Jika masing-masing anggota halqoh mendapatkan pahala Rp3.000.000, maka kita sebagai koordinator bisa mendapatkan akumulasinya, yaitu Rp3.000.000 x 5 =Rp15.000.000, ditambah pahala kita sendiri Rp3.000.000. Berarti total koordinator mendapatkan pahala Rp18.000.000.

Lho, kok bisa begitu? Bisa. Masing-masing anggota halqoh bergerak atas dasar perintah kita, panduan kita, binaan kita. Berarti kita juga turut andil mendapatkan pahalanya, tanpa mengurangi jatah pahala untuk masing-masing anggota halqoh.

Ini dalilnya :

Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يُنْقِصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يُنْقِصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Siapa saja yang mengajak pada petunjuk maka untuknya pahala semisal orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa saja yang mengajak pada kesesatan maka atasnya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun (HR Muslim, Ahmad, ad-Darimi, Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Abu Ya’la dan Ibn Hibban)

Itu kalau kita hanya diamanahi satu kelompok halqoh, dan anggotanya hanya 5 orang. Sekarang bayangkan jika kita mendapat amanah mengkoordinir 50 orang. Berapa pahala kita?

Mari kita hitung :

Pahala masing-masing anggota halqoh =Rp3.000.000

Akumulasi 50 orang berarti Rp3.000.000 x 50 =Rp150.000.000.

Ditambah pahala kita sendiri Rp3.000.000, berarti total pahala kita sebagai koordinator adalah  Rp153.000.000. Wow, besar sekali bukan? Anggota tidak akan bisa mengalahkan koordinatornya dalam urusan pahala.

Bagaimana jika kita mengkoordinir 100 orang? Bagaimana jika 200 orang? Silakan anda hitung sendiri.

Oleh karena itu, jika ada kesempatan menjadi koordinator acara kebaikan, dan kita merasa mampu menjalankannya dengan baik, mengapa tidak kita ambil posisi tersebut? Mengapa kita tidak mau “rakus” dalam urusan pahala? Bukankah itu aneh?

Mungkin diantara kita ada yang masih beralasan :

“Saya kan tidak mampu menjalankan amanah itu?”

“Saya kan tidak kapabel, saya masih kurang ilmu dan pengalaman.”

“Saya tidak pandai mengatur orang.”

Dan lain sebagainya.

Alasan-alasan tersebut menunjukkan beberapa kemungkinan.

Pertama, kita memang orang yang kualitasnya rendah. Kedua, kita merasa berkualitas rendah. Tidak ada kemungkinan lain selain dua kemungkinan tersebut.

Untuk alasan pertama, bisa jadi itu karena kita memang orang yang malas, yaitu malas belajar untuk meningkatkan kualitas diri. Misalnya kita merasa kurang dalam ilmu manajemen, padahal ilmu manajemen itu bisa dipelajari di banyak tempat. Kita merasa kurang dalam ilmu retorika, padahal retorika juga bisa dipelajari. Dan lain sebagainya.

Untuk alasan kedua, itu bisa jadi karena kita orang yang selalu menilai rendah diri kita sendiri. Kita sering tersinggung ketika ada orang lain menilai rendah kualitas diri kita. Tapi bagaimana mungkin orang lain akan menilai tinggi kualitas diri kita kalau kita sendiri juga menilai rendah kualitas diri kita sendiri?

Marilah kita menjadi orang yang rajin belajar untuk meningkatkan kualitas diri, dan mari kita “rakus” dalam urusan pahala. (www.faridm.com)

Catatan :

Tanpa bermaksud mengurangi dan mengubah maknanya, beberapa bagian dialog telah saya edit.

*Ahad, 12 Januari 2014 (malam hari pasca badai di Bantul).

Catatan diselesaikan penulisannya pada pagi hari 13 Januari 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: