Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Belajar dari Sayur Terong

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 8, 2014

Oleh : Farid Ma’ruf

terongFaridM.Com — Sebelum menikah, saya sangat tidak suka makan terong. Jika ada berbagai pilihan menu makanan, maka terong selalu saya hindari. Alasannya : terong terlihat agak menjijikkan, dan rasanya sangat tidak enak. Setiap melihat masakan terong, rasanya sudah hilang selera makan.

Setelah menikah, saya sangat suka makan terong masakan istri saya. Jika ada berbagai pilihan menu makanan, maka terong sering saya pilih. Alasannya : terlihat menarik dan rasanya enak. Selera makan juga tinggi, bahkan tidak sabar ingin segera makan.

Mengapa bisa demikian?

Ternyata masakan terong yang saya temui sebelum menikah berbeda dengan masakan terong yang saya temui setelah menikah, khususnya terong yang dimasak istri saya.

Walaupun sama-sama terong, tapi jika dimasak dengan cara yang berbeda, disajikan dengan cara yang berbeda, bisa menghasilkan respon yang berbeda. Masalah yang ada di sini tentu bukan di terong yang dimasak, tetapi masalah berada pada si pemasak.

Pemasak terong yang tidak enak, dia tidak mampu menyajikan masakan terong dalam tampilan dan cita rasa yang menyenangkan.

Sementara istri saya, dia mampu menyajikan masakan terong dalam tampilan yang menarik, cita rasa yang menyenangkan, serta menggugah selera makan.

Begitu juga kita dalam menyampaikan Islam.

Boleh jadi kita mendapatkan respon negatif ketika menyampaikan ajaran agama Islam. Mungkin pengajian yang kita isi pesertanya sedikit, sepi, itupun mayoritas ngantuk. Lama-lama bubar. Peserta pengajian pun tidak berubah, tidak meningkat pemahamannya, juga ketaqwaannya. Sebelum ikut pengajian mereka tidak berjilbab, dan setelah ikut pengajian juga tetap tidak berjilbab. Sebelum ikut pengajian mereka pacaran, dan setelah ikut pengajian ternyata juga tetap pacaran. Semangat belajar Islam mereka juga tidak meningkat. Islam dianggap sebagai ajaran yang mempersulit diri, kuno, dan membosankan.

Menemui masalah seperti ini, kita jangan buru-buru menyimpulkan bahwa orang yang kita dakwahi sebagai orang yang tidak suka Islam. Kita harus introspeksi. Kesalahan di kita atau di mereka? Kalau agama Islam, sudah pasti benar.

Bisa jadi, kita hanya kurang canggih saja dalam menyampaikan ajaran Islam kepadanya sehingga, baginya ajaran Islam itu terlihat salah, menjijikkan, dan tidak enak. Mengapa kita tidak mencoba berkreasi bagaimana teknik penyampaian yang nyaman disimak, bagaimana alur materi yang mudah dipahami, bagaimana tampil sebagai pembicara yang good looking, bukan tampilan sangar dan medeni, bagaimana tutur kata yang enak didengar, bukan tutur kata yang membuat orang sakit hati, dan lain sebagainya.

Tukang masak yang baik, ia tidak mudah menyalahkan obyek yang dimasak. Ia juga tidak mudah memvonis bahwa orang yang makan selera makannya rendah. Tukang masak yang baik ia akan berpikir keras bagaimana agar masakannya enak sehingga masakannya digemari banyak orang. (www.faridm.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: