Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Copy Paste yang Bertanggung Jawab

Posted by Farid Ma'ruf pada Desember 14, 2013

blog yang bertanggungjawab menuiskan sumbernya

blog yang bertanggungjawab menuiskan sumbernya

Nada dering di HP saya berdering pelan. Pertanda ada pesan yang masuk dari salah satu group WhatsApp (WA) yang saya ikuti. Ternyata isinya sebuah pesan dari seseorang. Membaca isinya, saya merasa sedikit heran. Kok sepertinya pernah membaca. Saya pun cermati lebih seksama. Oh, ternyata ini memang tulisan saya, persis sama dengan tulisan yang dulu saya publish di blog pribadi saya.

Tulisan tersebut berbicara tentang kontroversi “Perlukah Kolom Agama di KTP Dihapus?”. Tulisan tersebut saya post di blog pribadi (www.faridm.com), note FB (www.facebook.com/faridmaruf1981), serta di forum Kaskus di sub forum humor. Memang saat itu saya tidak sempat berpikir panjang untuk membuat catatan serius, sehingga tulisan yang hanya saya buat dalam beberapa menit itu saya masukkan kategori humor saja.

Kepada teman yang mengirim tulisan di group WA, saya bertanya. Tahu tidak siapa penulisnya? Ternyata teman tersebut tidak tahu pasti. Ia justru mengira itu adalah tulisan orang lain (bukan tulisan saya) mengingat ia mendapatkannya dari suatu akun tertentu.

Iseng-iseng, saya buka facebook, serta cari di Google. Baru saya tahu, ternyata tulisan saya sudah banyak dicopy paste dimana-mana. Uniknya, banyak yang tidak menyebutkan sumbernya, sehingga seolah-olah itu adalah tulisan orang yang memposting. Namun ada juga blogger yang bertanggungjawab menuliskan sumber aslinya.

Saya tentu saja gembira tulisan saya bisa tersebar di banyak tempat. Itu berarti saya telah dibantu oleh banyak orang dalam menyebarkan tulisan-tulisan saya. Akan tetapi, menurut saya, alangkah baiknya jika tetap disebutkan sumbernya/penulis aslinya. Hal ini karena jika tidak menyebutkan, itu seolah-olah mengatakan bahwa tulisan tersebut adalah hasil karyanya, padahal bukan. Nah, di sini berarti telah berbohong. Padahal kita sebagai muslim tentu diajarkan tentang kejujuran.

Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita juga jujur mencantumkan sumber asli/penulis dari tulisan yang kita muat di blog kita. (www.faridm.com)

Keterangan :

Tulisan ringan saya/humor :

Perlukah Kolom Agama di KTP Dihapus?

A : “Bro, tahu belum? Ada wacana kolom agama di ktp mau dihilangkan lho.”

B : “Emang kenapa?  Katanya negara berketuhanan, kok malah ngilangin agama?”

A: “Katanya sih, kolom agama itu bisa mengakibatkan diskriminasi. Lagian agama juga urusan pribadi. Nggak usahlah dicantumin di KTP.”

B : “Nah, ntar ada juga orang yang ngaku mendapat perlakuan diskriminasi gara-gara jenis kelamin ditulis. Berarti kolom jenis kelamin juga harus dihapus dong. Laki-laki dan perempuan kan setara. ”

C : “Eh, jangan lupa. Bisa juga lho perlakuan diskriminasi terjadi karena usia. Jadi hapus juga kolom tanggal lahir.”

D : “Eit, ingat juga. Bangsa Indonesia ini juga sering fanatisme daerahnya muncul, terlebih kalau ada laga sepak bola. Jadi mestinya, kolom tempat lahir dan alamat juga dihapus.”

B : “Ada juga lho, perlakuan diskriminasi itu gara-gara nama. Misal nih, ada orang dengan nama khas agama tertentu misalnya Abdullah, tapi tinggal di daerah yang mayoritas agamanya lain. Bisa tuh ntar dapat perlakuan diskriminasi. Jadi kolom nama juga wajib dihapus.”

B: “Kalau status pernikahan gimana? Perlu ndak dicantumkan?”

A : “Itu harus dihapus. Nikah atau tidak nikah itu kan urusan pribadi masing-masing. Saya mau nikah kek, mau pacaran kek, itu kan urusan pribadi saya. Jadi kalau ada perempuan hamil besar mau melahirkan di rumah sakit, nggak usah ditanya KTP-nya, nggak usah ditanya sudah nikah belum, nggak usah ditanya mana suaminya. Langsung saja ditolong oleh dokter.”

D : “Sebenarnya, kolom pekerjaan juga berpotensi diskriminasi. Coba bayangkan. Ketika di ktp ditulis pekerjaan adalah buruh, kalau orang tersebut datang ke kantor pemerintahan, kira-kira pelayanannya apakah sama ramahnya jika di kolom pekerjaan ditulis TNI? Nggak kan? Buruh biasa dilecehkan. Jadi kolom pekerjaan juga harus dihapus.”

C: “Kalau golongan darah gimana? Berpotensi diskriminasi nggak?”

A : “Bisa juga. Namanya orang sensitif, apa-apa bisa jadi bahan diskriminasi.”

E : “Lha terus, isi KTP apa dong?

Nama : dihapus

Tempat tanggal lahir : dihapus

Alamat tinggal : dihapus

Agama : dihapus

Pekerjaan : dihapus

Status perkawinan : dihapus

Golongan darah : dihapus

Berarti, KTP isinya kertas kosong doang….”

A, B, C, D : (melongo)

==

Saya publish pada 06 Oktober 2013 di :

  1. https://www.facebook.com/notes/farid-maruf/perlukah-kolom-agama-di-ktp-dihapus/10151915427775907.
  2. http://www.kaskus.co.id/thread/525178a2fbca17a86700000b/perlukah-kolom-agama-di-ktp-dihapus/
  3. http://faridm.com/2013/10/06/perlukah-kolom-agama-di-ktp-dihapus/
  4. https://faridmaruf.wordpress.com/2013/10/06/perlukah-kolom-agama-di-ktp-dihapus/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: