Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Sebelum Khitbah, Lihatlah Dulu

Posted by Farid Ma'ruf pada November 9, 2013

jilbab-biru“Tadz, saya insya Allah sudah siap nikah. Tolong bantu carikan akhwat ya tadz!” Seorang ikhwan yang baru saja diterima kerja mengajukan permintaan kepada ustadznya. “Siap,” jawab sang ustadz.

Sang ustadz dan istrinya kemudian mencari akhwat yang diperkirakan cocok untuk si ikhwan. Tidak lupa, istri ustadz menyampaikan kepada si akhwat informasi umum tentang si ikhwan. Si akhwat menyatakan bersedia proses lanjut.

Sang ustadz pun kemudian memberikan beberapa informasi umum tentang si akhwat kepada si ikhwan. Si ikhwan pun mempelajarinya lebih lanjut di rumah.

Minggu depannya, sang ustadz bertanyaa kepada si ikhwan :

“Bagaimana, sudah dipelajari biodatanya? Kira-kira cocok tidak?” Tanya sang ustadz.

“Sepertinya cocok tadz. Tinggal saya perlu tahu akhwatnya yang mana ya?” Jawab si ikhwan.

“Baik, begini saja. Besok Ahad pagi kan kebetulan kita ada cara pengajian di Masjid Diponegoro. Besok si akhwat akan berangkat pengajian juga. Jadi antum bisa lihat akhwatnya seperti apa.” Kata sang ustadz.

“Baik tadz”, jawab si ikhwan.

Hari Ahad pun tiba, si akhwat juga berangkat bersama seorang temannya.

“Akhi, lihat ke arah sana!” Seru sang ustadz memanggil si ikhwan. “Itu akhwatnya.” Terang sang ustadz setengah berbisik.

Dengan sedikit malu-malu, si ikhwan memandang ke arah yang ditunjuk sang ustadz. Ada dua akhwat sedang berjalan beriringan. Akhwat yang satu memakai jilbab biru, akhwat satunya memakai jilbab coklat. Selama beberapa saat si ikhwan memandang ke arah akhwat yang ditunjuk tersebut. Akhwat yang cantik sekali. Nampak anggun mempesona dengan jilbabnya. Si ikhwan terus memandang sampai akhirnya kedua akhwat tersebut menghilang di balik tembok masjid.

“Akhi, antum kan sudah melihat akhwatnya. Coba antum pertimbangkan ya. Besok kasih jawaban ke saya!” Sang ustadz memberi pengarahan. “Baik Tadz.” Jawab si ikhwan.

Hari berikutnya, si ikhwan datang ke rumah sang ustadz.

“Bagaimana? Sudah dipertimbangkan? Sudah ada keputusan?” Tanya sang ustadz.

“Sudah tadz.” Jawab si ikhwan. “Setelah saya pertimbangkan dari berbagai sisi, termasuk setelah melihat si akhwat, saya makin mantap untuk mengkhitbah si akhwat.”

“Baiklah kalau begitu. Insya Allah akan kami sampaikan kepada akhwatnya.”

Ternyata akhwatnya mau menerima khitbah si ikhwan, sehingga kemudian sang ustadz dan istrinya mengatur jadwal pertemuan untuk keduanya.

Kali ini si ikhwan dan sang ustadz langsung datang ke rumah si akhwat. Agendanya, bertemu si akhwat dan bapaknya. Targetnya, perkenalan lebih lanjut.

Ketika si akhwat keluar, si ikhwan kaget. Lho, kok …..?

Tanpa berlama-lama, si ikhwan sudah pamit minta pulang.

“Kok cepet-cepetan kenapa Akhi? Sudah dirasa cukup taarufnya?” Tanya sang ustadz yang merasa keheranan, sambil ngobrol di trotoar yang menuju rumah sang ustadz.

“Afwan tadz. Sepertinya saya kemarin salah lihat.” Jawab si ikhwan.

“Salah lihat bagaimana? Bukannya hari Ahad kemarin antum sudah lihat langsung?” Sang ustadz mulai gemes.

“Saya maunya sama akhwat yang kemarin berjilbab biru tadz,” si ikhwan menjelaskan maksudnya.

Sang Ustadz : “POK” (Tepok jidat kenceng banget).

“Ada apa Tadz?” Si ikhwan kaget.

“Akhwat yang pakai jilbab biru itu….

ISTRI SAYA…..!!!!!”

GUBRAK (si ikhwan pingsan)

(www.faridm.com)

*Cerita ini fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita dan karakter, itu hanyalah kebetulan belaka.

Pelajaran :

Sebelum khitbah, lihatlah dulu. Baca penjelasannya di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: