Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

“Afwan, Ana Belum Siap…”

Posted by Farid Ma'ruf pada November 8, 2013

cintaku-cintakitaSetelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan, seorang ikhwan mulai percaya diri untuk menghadap ustadz pembimbing halqahnya.

“Ustadz, saat ini saya sudah lulus S1. Pekerjaan tetap alhamdulillah juga sudah ada. Insya Allah Ana sudah siap menempuh bahtera rumah tangga. Mohon bantuan ustadz untuk mencarikan jodoh untuk Ana ya. Sekiranya istri ustadz kenal dengan akhwat yang kira-kira cocok dengan Ana, mohon dibantu proses taaruf.”

Sang Ustadz yang menerima permohonan tersebut gembira. Bukankah membantu peserta halqahnya adalah perbuatan mulia? Apalagi ini mau membantu untuk menyempurnakan separuh agama dari ikhwan dan akhwat yang sama-sama bervisi-misi dakwah. Jelas peluang mendapat pahala yang besar.

“Baik Akhi, insya Allah Ana bantu. Apakah Akhi sudah membuat biodata lengkap dengan fotonya?” tanya sang ustadz.

“Sudah Ustadz.” Jawab si ikhwan sambil menyerahkan beberapa lembar kertas biodata beserta foto yang menurutnya paling ganteng dan gagah.

“Baik, ini sudah cukup. Besok kalau ada akhwat yang mau taaruf, insya Allah Ana kabari antum.” Jawab sang ustadz.

Baik tadz, Ana pamit dulu. Doakan lancar ya Tadz.” Kata si ikhwan sambil pamit undur diri.

Sang ustadz pun segera berdiskusi dengan istrinya. Akhwat mana yang dipandang sudah siap menikah dan kira-kira cocok untuk si ikhwan.

Akhirnya jatuhlah pilihan pada seorang akhwat yang juga sudah lulus S1, usia sedikit lebih muda, dan dari daerah yang tidak terlalu jauh dari si ikhwan.

Awalnya proses lancar. Si akhwat senang-senang saja ketika mendapatkan informasi tentang si ikhwan, baik gerak dakwahnya, riwayat pendidikannya, sampai pekerjaannya. Si ikhwan juga sama. Ia senang mendapat kesempatan taaruf dengan akhwat yang bukan hanya aktivis dakwah, tapi juga cerdas secara akademik, dan cantik secara fisik. Proses ini dikawal ketat oleh sang ustadz beserta istrinya. Si ikhwan dan si akhwat tidak diberi kesempatan langsung untuk berkomunikasi. Semua harus melalui sang ustadz dan istrinya.

Setelah proses awal dirasa cukup, maka si ikhwan mulai berani untuk lanjut menjatuhkan khitbah. Ia pun segera menyampaikan niatnya kepada sang ustadz agar diteruskan kepada si akhwat. Di sini gelagat aneh mulai terjadi. Si akhwat tidak bersegera memberi jawaban. Kalau ditanya, jawabannya selalu : “masih dipertimbangkan, masih konsultasi sama orang tua”, dan alasan-alasan lainnya. Namun setelah dikejar-kejar, akhirnya muncul juga jawaban : “Afwan ya ustadzah (jawaban diampaikan via istri sang ustadz). Ana masih agak bimbang nih. Sepertinya Ana masih belum siap untuk menikah sekarang. Ana juga mungkin mau lanjut kuliah dulu saja. Jadi tidak usah lanjut khitbah saja. Afwan ya ustadzah.”

Si ikhwan pun kecewa. Kalau memang belum siap nikah, mengapa dulu mau taaruf? Mengapa tidak bilang sejak dari proses-proses awal? Si ikhwan protes-protes ke ustadznya. Ustadznya pun bingung mau menjawab apa. Akhirnya ia kasih nasihat :

“Tenang Akhi. Masih ada beberapa akhwat lain yang insya Allah siap nikah. Antum proses dari awal lagi dengan akhwat lain ya?” Bujuk si ustadz sambil menenangkan ikhwan binaannya tersebut.

Proses dengan akhwat lain pun dimulai. Sama seperti proses sebelumnya, awalnya lancar, tapi ketika amau dikhitbah, jawabannya selalu “Afwan, Ana sebenarnya belum siap nikah.”

Akhwat pertama, belum siap. Mau kuliah lagi.

Akhwat kedua, belum siap. Belum direstui orang tua.

Akhwat ketiga, belum siap. Masih harus menyekolahkan adik-adiknya.

Si ikhwan pantang menyerah….

Akhwat keempat, belum siap. Keluarga belum menerima dakwah dengan baik.

Sang Ustadz mulai frustasi.

Akhwat kelima, belum siap. Ingin kerja dulu membantu orang tua.

Si ikhwan dan sang ustadz sama-sama frustasi.

“Bagaimana in Ustadz? Sudah lima akhwat taaruf sama Ana. Kok kelima-limanya selalu menjawab belum siap ini bagaimana?” Si ikhwan menumpahkan kekesalannya.

“Sabar Akhi. Jangan menyerah dulu. Kita kan tidak boleh berputus asa. Antum perbanyak ibadah dan doa, semoga kali ini akan berhasil.” Sang ustadz mencoba menenangkan ikhwan binaannya yang sudah super duper galau.

Skenario terbaik pun akhirnya dipersiapkan oleh sang ustadz dan istrinya. Kali ini tidak langsung diproseskan. Tapi dicari dulu akhwat yang kira-kira mau sama si ikhwan, terus ditanya-tanya dulu. Kalau sama ikhwan ini mau tidak? Data lengkap si ikhwan pun dibuka dulu kepada si akhwat, dan si akhwat dibujuk-bujuk agar mau. Dan, sukses. Si akhwat mau nikah sama si ikhwan. Alhamdulillah. Sang Ustadz dan istrinya lega. Akan selesai juga “teror” dari si ikhwan yang tiap hari menanyakan terus proses taarufnya.

Sang ustadz pun segera memanggil si ikhwan. “Akhi, alhamdulillah sudah dapat akhwat lagi yang siap nikah. Insya Allah ini akhwat yang baik, dan sudah menjawab kalau ia benar-benar siap menikah dan bersedia menikah dengan antum.” Sang Ustadz menjelaskan dengan semangat.

Si ikhwan pun wajahnya langsung berseri-seri. Dengan semangat 45 ia ambil biodata si akhwat yang masih dipegang sang ustadz.

Lembar demi lembar bodata ia baca dengan kagum. Prestasi akademik mantap, aktivitas organisasi top, hafalan Al Qur’an banyak, ibadah sunnah mantap, keluarga berada, sudah lama dibina dalam halqah. Wow, benar-benar tidak ada cela.

Sampailah sang ikhwan ke halaman terakhir. Di sana ada tiga buah foto si akhwat. Satu buah foto close up, satu buah foto seluruh badan, dan satu buah foto ketika bersama bapak-ibunya di rumah. Si ikhwan bingung.

“Bagaimana Akhi? Mantap?” Suara sang ustadz memecah kesunyian setelah sekitar 15 menit si ikhwan sibuk membaca berlembar-lembar biodata di tangannya.

Si ikhwan tambah bingung. Tiba-tiba lidahnya kelu. Ia mendadak gagap untuk menjawab. Ada rasa kurang enak dalam hatinya. Ia lihat-lihat lagi foto-foto si akhwat. Tapi justru hati makin galau.

“Bagaimana Akhi? Lanjut prosesnya?” Sang ustadz bertanya kembali

Si ikhwan lemas. Keringat dingin mulai bercucuran, tangannya juga berubah menjadi dingin. Ia menunduk lama tanpa berani menatap ustadznya. Pikirannya melayang ke proses-proses sebelumnya, dari akhwat 1,2,3,4,dan 5.

Mendadak si ikhwan mendapat inspirasi. Ia mulai mengangkat kepada dan berani membalas tatapan ustadznya. Hmmm. Jadi ini to rahasia mengapa lima akhwat sebelumnya menolaknya. Ia akhirnya sadar dan paham mengapa selalu ditolak. Ternyata masalah fisik. Iya, FISIK. Sepertinya memang malu untuk mengungkapkannya, tapi itulah faktanya.

“Bagaimana Akhi?” Sang Ustadz tidak bosan bertanya.

“Ehem-ehem. Uhuk-uhuk.” Si ikhwan mengawali jawaban dengan berdehem-dehem dan batuk beberapa kali.

“Begini Ustadz….

Setelah Ana pikir-pikir lagi, mempertimbangkan beberapa alasan di sana-sini.

Ana pikir, ana sebenarnya belum siap menikah sekarang Ustadz.

Ana tiba-tiba muncul keinginan untuk melanjutkan kuliah lagi. Dan Ana juga mau mencoba memapankan pekerjaan Ana. Posisi jabatan di kantor, masih level paling bawah Ustadz.”

Sang Ustadz pun mendadak lemas…. (www.faridm.com)

*Kisah ini hanya fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama ataupun karakter, itu hanyalah kebetulan yang tidak disengaja.

Pelajaran :

1. Proses awal, jangan langsung tukar-menukar biodata lengkap. Jika salah satu sudah terlihat tidak mau, tidak usah dilanjutkan proses. Bikin sakit hati saja.

2. Kalau sudah ditolak, tidak usah protes-protes. Terima saja dengan lapang dada (walau hati peddih jendral !).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: