Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Menaati Allah Tanpa Banyak Cing-Cong

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 15, 2013

no-animals-harmedKetika Nabi Ibrahim mendapat perintah menyembelih anaknya sendiri, anak yang sebelumnya sangat dinantikan kehadirannya, sangat dicintai, beliau tentu bisa memilih; antara “menyelamatkan” anaknya (yang berarti melanggar perintah Allah) atau menaati perintah dengan menyembelih anaknya.

Dilihat dari sudut pandang apapun (pandangan manusia), tentu perintah tersebut :

1. Bertentangan dengan akal sehat.

Coba pikir, akal sehat mana yang bisa merasionalkan penyembelihan anak sendiri.

2. Bertentangan dengan hati nurani.

Coba bertanyalah kepada hati nurani anda. Apakah ada manusia normal yang akan tega menyembelih anaknya sendiri? Kecuali orang tersebut adalah orang yang tidak waras yang telah kehilangan akal sehat dan tidak berhati nurani.

3. Bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

Tiap manusia punya hak hidup. Tidak boleh dibunuh, apalagi dibunuh dengan sangat kejam yaitu dengan cara disembelih. Lebih jauh lagi, ada negara yang melarang menyembelih sapi dengan cara konvensional karena dianggap menyiksa binatang. Bertentangan dengan perikebinatangan.

Bahkan kalau kita lihat film-film Hollywood yang ada adegan menyiksa atau membunuh binatang, biasanya di akhir film ada tulisan pernyataan: The American Humane Association claimed that “no animals were harmed during the actual filming”

Jadi, kalau menyembelih anak sendiri, tentu bisa dikatakan sebagai perbuatan super duper amat sangat biadab sekali.

 

4. Dan lain-lain masih banyak alasan untuk menyalahkan aktivitas menyembelih anak sendiri yang sama sekali tidak ada kesalahan.

Lantas, bagaimana sikap Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail?

Ternyata beliau tidak memperhatikan hal-hal tersebut di atas.

Setelah turun perintah Allah tersebut, Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya,

“Maka tatkala anak itu telah sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: hai anakku, sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu” (TQS ash-Shaffat [37]: 102).

Sungguh sikap ayah yang luar biasa.

Dan luar biasa pula tanggapan anaknya, yaitu Nabi Ismail. Beliau menyambut perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail as dengan penuh kesabaran. Bahkan, Nabi Ismail pun mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan:

“Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (TQS ash-Shaffat [37]: 102)

Setan dalam rupa seorang lelaki tua segera memanfaatkan kesempatan dengan menggoda Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar agar mengabaikan perintah Allah itu, Ibrahim yang tahu bahwa lelaki tua itu adalah setan, segera mengusirnya.

Tiga kali beliau digoda setan, dan tiga kali pula beliau melempari setan dengan batunya. Dalam ibadah haji, ada aktivitas melempar jumrah yang merupakan peringatan terhadap kejadian ini.

Luar biasa ketaatan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Apapun perintah Allah, laksanakan. Tidak peduli pertimbangan-pertimbangan lain.

Semestinya, begitu pula sikap kita dalam menghadapi perintah-perintah Allah dan larangan-larangan Allah. Pokoknya, taat 100% tanpa kompromi, walaupun itu bertentangan dengan pikiran kita, perasaan kita, aturan hidup di wilayah kita, adat istiadat, budaya, HAM, dan lain sebagainya.

 

Bukankah Allah telah berfirman :

… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS Al-Baqarah: 216).

Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita ngenyel terhadap perintah dan larangan Allah, walaupun kita tidak menyukainya.

Mungkin banyak perempuan yang keberatan dan tidak suka memakai jilbab karena dianggap bisa menghambat pekerjaan, dipandang aneh masyarakat, dlsb. Tapi karena itu wajib, harusnya tetap harus dipakai.

Mungkin banyak remaja yang gelisah jika dilarang pacaran. Bagi mereka, pacaran itu menyenangkan, dan sesuai jiwa remaja. Tapi karena hal itu haram, maka harusnya dijauhi sejauh-jauhnya.

Mungkin banyak orang yang sok pintar dengan mengatakan bunga pinjaman itu benar, bahkan membodoh-bodohkan orang yang menolak bunga pinjaman. Tapi karena bunga pinjaman adalah riba yang hukumnya haram, harusnya dijauhi juga.

Allah lebih tahu daripada kita. Apakah masih mau membangkang terhadap perintah Allah? (www.faridm.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: