Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Malulah Pada Tempatnya

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 14, 2013

budaya-maluSeringkali manusia melakukan suatu perbuatan karena malu, walaupun perbuatan tersebut melanggar syariah.

Seringkali pula manusia malu melakukan sesuatu, walaupun sesuatu tersebut wajib menurut syariah.

Mana sebenarnya yang harus kita jadikan standard?

Mestinya kita malu jika tidak sesuai syariah.

Dan tidak perlu malu jika sesuai syariah.

Jangan dibolak-balik !

Contoh 01:

A : “Kamu pergi ke pasar kok tidak memakai jilbab? Bukankah itu wajib?”

B : “Malu ah, ke pasar kok pakai jilbab. Kayak pengajian aja. Ntar diledekin salah kostum.”

*

Contoh 02

Seorang laki-laki dapat undangan pesta pernikahan salah satu temannya yang kaya. Pesta diselenggarakan secara mewah di gedung yang megah pula. Di undangan ada gambar gentong (kotak uang sumbangan), yang merupakan simbol bahwa si pengundang tidak mau kado, maunya uang.

Laki-laki tadi bingung. Uang di kantong tinggal sedikit. Keluarga butuh makan. Terus bagaimana?

Mestinya, ia harus prioritaskan keluarganya, tapi ia malu jika tidak menyumbang di pesta pernikahan temannya. Malu juga jika hanya menyumbang sedikit, karena acaranya mewah. Akhirnya, ia paksakan mengisi gentong tadi dengan sebagian besar uangnya, keluarganya dikorbankan.

Harusnya, suami malu jika tidak bisa memenuhi nafkah keluarganya. Dan tidak perlu malu melenggang (lewat doang) ketika mengisi daftar hadir suatu pesta pernikahan. Apalagi acara yang mewah-mewah berlebihan. Itu orang memang sengaja buang-buang uang. Kita tidak usah menyumbang untuk acara mewah-mewah berlebihan.

*

Contoh 03

Seorang istri hamil. Sudah tentu, kehamilan tersebut harus diperiksakan ke dokter/bidan untuk diketahui sehat atau tidak. Diberi tambahan vitamin jika perlu, USG beberapa kali, melahirkan secara aman didampingi tenaga kesehatan yang ahli dan peralatan yang lengkap, dan seterusnya sesuai kebutuhan yang ditentukan dokter/bidan. Kamar usahakan yang VIP atau Kelas Utama, karena selain lebih nyaman, aurat juga lebih terjaga. Jangan di kelas 3 yang seringkali kurang bisa menjaga aurat.

Tapi, periksa kesehatan tentu butuh biaya. Sementara kita tahu, di negara kita ini, urusan kesehatan belum sepenuhnya digratiskan. Hanya gratis/diskon untuk kalangan tertentu saja, yaitu PNS dengan Askesnya, serta warga miskin dengan Jamkesmasnya (atau jamkesda), serta khusus kehamilan, ada Jampersal dengan seluruh syaratnya (yang tidak nyaman bagi banyak orang).

Di sisi lain, di kampung tersebut ada adat kebiasaan. Usia kehamilan tujuh bulan harus ada acara Tingkepan. Acara tersebut tentu butuh biaya yang tidak sedikit.

Ketika anak lahir, juga ada adat jagong bayi selama berhari-hari. Serta acara-acara lain yang semuanya butuh biaya.

Pernah saya temui kasus, dimana suami berkantong cekak. Makanya ia jarang periksakan istrinya ke dokter, apalagi USG. Kelahiran pun hanya akan dilakukan di bidan kampung (bidannya datang) ke rumah, dengan biaya murah-meriah. Penuh resiko-lah tentunya.

Lantas, jika ada situasi seperti itu, bagaimana sikap suami?

Mestinya, kesehatan ibu dan bayinya adalah prioritas utama. Acara-acara pemborosan tidak usah dipikir. Apalagi jika acara-acara tersebut ada filosofi lain yang bertentangan dengan aqidah Islam, harus dijauhi. Misalnya, tentang acara tingkepan, ada informasi yang menyebutkan bahwa :

“Kira-kira pukul 15.00-16.00, upacara tingkepan dapat dimulai, menurut kepercayaan pada jam-jam itulah bidadari turun mandi.”

Nah, itu kepercayaan dari mana? Bidadari kok turun mandi di bumi. Tentu kepercayaan ini bukan dari Islam.

Tapi, tidak sedikit keluarga yang malu jika tidak ada acara-acara tersebut. Termasuk kasus yang saya ceritakan di atas. Untuk kelahiran bayi, suami hemat sehemat-hematnya sampai membahayakan nyawa ibu dan bayinya. Tapi setelah kelahiran, malah membuat pesta yang biayanya berjuta-juta. Aneh kan? Itu semua karena keluarga malu sama orang kampung.

 

Sekarang pilih mana? Malulah pada tempatnya. Yaitu malu karena tidak menjalankan perintah Allah, atau melangar larangan Allah. Itulah malu yang benar. Bukan malu karena pandangan manusia lain yang standardnya bukan Islam. (www.faridm.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: