Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Belajar Menikmati Kekurangan

Posted by Farid Ma'ruf pada Oktober 3, 2013

IMG_0483Sejak saya kecil, rumah kami dilengkapi fasilitas meja kursi. Jumlahnya cukup banyak, mungkin sekitar 10 buah. Ada kursi panjang, ada kursi pendek. Semuanya dari kayu, dengan ukuran yang cukup besar. Ruang tamu di rumah kami juga cukup besar, sehingga bisa menampung banyak tamu. Keluarga kami memang termasuk sering menerima tamu, dan seringkali jumlahnya banyak.

Pada waktu itu pula, jika ada kegiatan kampung yang menempati rumah kami, misalnya pengajian atau arisan, maka kami harus angkat junjung meja kursi. Kami harus mengeluarkan meja kursi dari ruang tamu ke teras. Tujuannya agar ruang tamu bisa digelari tikar. Semua tamu pun masuk ke ruang tamu. Jika tidak muat, maka beberapa tamu bisa duduk di teras.

“Ritual” angkat junjung kursi ternyata tidak selalu menyenangkan. Hal ini karena kursi-kursi kami bobotnya cukup berat. Jika ada saudara yang membantu mengangkat, maka tidak begitu masalah. Tapi berbeda situasinya jika tidak ada yang membantu. Sore hari dikeluarkan, malam harinya harus dimasukkan lagi. Capek.

Suatu pagi di tahun 2006, tepatnya tanggal 28 Mei, terjadi gempa bumi dahsyat di Yogyakarta. Rumah kami pun roboh, menimbun barang-barang kami di dalamnya. Termasuk meja kursi di ruang tamu. Beberapa kursi memang masih bisa selamat dan bisa dimanfaatkan, tetapi kondisinya tidak layak untuk dipajang di ruang tamu.

Dengan susah payah, rumah kami dibangun kembali. Walau tentu kondisinya jauh berbeda dengan kondisi rumah yang dulu. Selain lebih sempit, juga lebih “lugu”. Tapi bagaimanapun, itu tetap kami syukuri.

Nah, tapi masih ada masalah. Apa isi ruang tamu? Karena tidak ada dana yang cukup, maka kami biarkan saja ruang tamu tanpa kursi tamu yang layak. Kalau ada tamu datang, kami cukupkan dengan lesehan saja. Gelar karpet, selesai. Ternyata, lama-lama kami terbiasa juga dengan gaya ini.

Malam ini, kami (tepatnya ibu saya) kebagian jatah menjadi tuan rumah pengajian ibu-ibu kampung. Karena posisi rumah saya sekarang relatif dekat daripada rumah saudara-saudara saya yang lain (saya, istri, dan anak-anak tidak tinggal serumah dengan bapak-ibu), maka saya dan istri dipanggil ibu untuk bantu-bantu.

Sampai di rumah ibu waktu sudah selesai maghrib. Ibu terlihat sedang menggelar karpet. Di saat itu saya pun baru ingat. “Lho, kalau zaman dulu, kita harus repot angkat-angkat meja kursi keluar. Sekarang tinggal gelar karpet, selesai ya.” (www.faridm.com)

*Diketik menggunakan HP di ruang tamu sambil menunggu tamu datang.

Kamis, 03 Oktober 2013

 

Rumah sebelum gempa.

Rumah sebelum gempa.

 

Rumah pasca gempa.

Rumah pasca gempa.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: