Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Mari Berdakwah, Mumpung Masih Sempat

Posted by Farid Ma'ruf pada November 17, 2012

Barangkali kita sudah sering mendengar hadits nabi :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Ambillah lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

Tapi apakah kita sudah benar-benar memahami makna hadits tersebut dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari? Jujur, saya sudah lama dan sering mendengar/membaca penjelasan tentang hadist tersebut. Bahkan kadang memutar nasyidnya yang dibawakan group nasyid Raihan. Tapi nampaknya, saya belum dianggap benar-benar menyadari tentang pentingnya isi hadist tersebut. Sehingga wajar jika Allah pun menunjukkan (memaksa) kepada saya beberapa kejadian baru yang mau tidak mau harus membuat saya sadar (kalau tidak sadar, kebangetan).

Beberapa hari yang lalu, seorang teman aktivis dakwah menghubungi saya. Ia minta tolong untuk dicarikan pendonor darah untuk salah satu keluarganya yang sakit. Penyakitnya masih belum jelas benar, katanya ada kanker di salah satu bagian tubuhnya. Tapi untuk dilakukan operasi belum bisa, karena darah putih dalam tubuhnya selalu berkurang. Ketika dilakukan tranfusi, maka darah putihnya naik, tapi kemudian turun lagi. Dokter punya standard minimal berapa jumlah darah putih yang harus ada sehingga aman dioperasi, tapi kondisi itu selalu belum didapatkan. Tiap hari pasien ini harus mendapatkan transfusi darah, puluhan kantung darah pun harus masuk, terus saja begitu,  entah sampai kapan.

Di waktu yang berdekatan, ada juga permintaan donor darah dari teman yang lain. Ada aktivis dakwah yang sakit dan membutuhkan enam kantong darah. Diambil trombositnya. Saya tidak kenal dengan pasien ini sehingga informasi yang saya dapat memang sedikit dan tidak lengkap. Informasi awal yang saya dapat, katanya sakit types. Tapi kemudian diduga juga demam berdarah. Janggalnya, kok tiap beberapa hari selalu butuh darah. Kemarin saya dapat kabar baru. Ternyata sumsum tulang belakangnya bermasalah sehingga tidak bisa memproduksi trombosit. Saudara kita ini tiap empat hari harus mendapatkan enam kantung darah. Harus darah fresh dari pendonor yang baru saja diambil darahnya, tidak bisa dari stock PMI yang sudah lama. Jika darah dari pendonor tidak segera ditranfusikan, maka darah dianggap expired, tidak bisa ditranfusikan, dan harus mencari pendonor baru. Apakah ada harapan sembuh? Butuh keajaiban. Ya Allah. Saya cuma bisa menangis mendengarnya.

Kejadian paling mengagetkan adalah kemarin pagi. Saya dapat kabar bahwa salah satu aktivis dakwah jempolan, meninggal di rumah sakit. Saya tahu saudara kita yang satu ini. Memang luar biasa semangat dakwahnya. Kemampuannya dalam berbagai uslub dakwah juga tinggi. Saya cukup sering bertemu dalam rapat dan beraktivitas dakwah bareng dengannya. Tapi akhir-akhir ini agak jarang karena saya ada pergeseran (atau lebih tepatnya pengurangan) amanah dakwah, sehingga saya menjadi jarang bertemu. Sampai beberapa waktu yang lalu, saya dapat kabar kalau saudara kita ini badannya kurusan karena sakit. Sakitnya apa masih kurang jelas. Diduga sakit paru-paru atau tepatnya TBC. Saya sempat menduga mungkin sakit seperti halnya sakit biasa. Bisa diobati dan kemudian sembuh. Saya baru sadar kalau sakitnya ternyata serius setelah dapat kabar tentang kematiannya. Lagi-lagi saya cuma bisa menangis.

Mari kita renungkan. Dalam kondisi terbaring sakit, amal apa yang bisa kita lakukan? Tentu tidak banyak. Salah satu amal yang bisa mendatangkan banyak pahala, dan bisa mengalir terus, ya aktivitas dakwah. Dan dakwah itu hukumnya juga wajib. Kita harus menyampaikan ilmu-ilmu Islam kepada umat sehingga umat menjadi tahu dan paham syariah Islam. Tapi apa bisa kita berdakwah dalam kondisi sakit parah? Kemungkinan besar tidak bisa. Apa bisa kita berdakwah dalam kondisi mati. Tentu saja tidak bisa. Seluruh amal kita sudah terputus, kecuali tiga hal saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jika peringatan dari Allah sudah sedemikian banyak, sudah sedemikian sering, sudah sedemikian dekat, apakah kita masih saja mau bersantai-santai tidak berdakwah? Masihkah kita akan berkata:  “Maaf, saya ingin fokus sekolah dulu. Maaf, saya mau fokus kuliah dulu. Saya mau cari kerja dulu. Aktif dakwah nanti saja kalau: sudah selesai ujian, sudah selesai skripsi, sudah lulus, sudah dapat pekerjaan, sudah menikah?”

Sadarlah ! Mumpung masih sempat. Jangan sampai kita sadar ketika sudah mati. Tidak ada gunanya. (www.faridmaruf.wordpress.com)

Catatan :

Adanya tulisan ini bukan berarti saya adalah orang yang sudah pantas menasihati anda, karena sesungguhnya saya sedang menasihati diri saya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: