Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Never Let Me Go, untuk Apa Kita Ada?

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 25, 2012

FaridM.Com — Untuk apa kita ada? Sebuah pertanyaan singkat dan sederhana, tetapi faktanya banyak orang yang tidak bisa menjawabnya kecuali hanya kira-kira saja, bukan jawaban pasti. Tapi rata-rata orang akan menjawab bahwa hidup ini adalah untuk dinikmati, dan tidak akan ada yang menjawab bahwa hidup ini hanyalah untuk mati.

 

Di dalam alam sekuler seperti sekarang ini, maka “menikmati hidup” adalah harapan setiap orang.  Adalah sesuatu yang tidak masuk “nalar” jika ada orang yang rela hidup menderita bahkan mati untuk sesuatu yang menjadi “tujuan hidup” versi dia. Maka menjadi sangat relevan jika kita masing-masing juga berpikir, untuk apa hidup kita? Benarkah untuk menikmati hidup?

 

Kazuo Ishiguro, seorang Jepang yang menulis novel menarik berjudul Never Let Me Go, tampaknya ingin mencoba mengajak kita berpikir, untuk apa sebenarnya kita ada di dunia. Suatu hal yang mengejutkan karena sepanjang pengetahuan saya, orang Jepang cenderung berhati “batu”, tidak menggubris masalah agama, etika, dan moral. Mungkin saya salah, tetapi itulah yang saya simpulkan dari perkataan Prof.  Hassan Ko Nakata, seorang intelektual Jepang yang memilih untuk masuk Islam.

 

Sayangnya, saya belum membaca novel Never Let Me Go. Jadi tentu saya tidak akan mengomentari novelnya. Tapi adaptasi novel ini ke film sudah ada, digarap oleh sutradara Mark Romanek. Dan lagi-lagi saya juga tidak akan mengomentari filmnya, karena saya juga bukan pemerhati film. Tapi saya justru akan mengomentari dunia dari para tokoh di film Never Let Me Go ini.

 

Dikisahkan bahwa ada seorang perawat bernama Kathy H, yang hidupnya seolah-olah tidak pernah menatap ke masa depan, tetapi selalu melihat ke belakang. Kisah diawali pada tahun 1978 dimana ada sekolah asrama bernama The Hailsham. Setting tempat dan sosialnya mirip dengan negara Inggris, tapi bukan Inggris nyata seperti yang kita kenal. Jadi saya katakan mirip karena secara pasti memang tidak ditunjukkan di negara mana sekolah tersebut ada. Jadi anggap saja sebagai negara utopia mirip Inggris.

 

Beberapa kejadian “janggal” ada di sekolah ini. Misalnya, siswa-siswinya diisolasi dari dunia luar dengan cara menceritakan kisah-kisah yang menyeramkan jika ada murid keluar komplek sekolah. Pelajarannya juga aneh, tidak seperti sekolah-sekolah pada umumnya. Di sini siswa-siswinya lebih banyak diajari masalah seni, serta berkomunikasi jika berada di dunia nyata. Selainnya itu, siswa-siswinya dikondisikan agar fisiknya sehat dengan diberi makanan yang bergizi serta tidak boleh merokok. Tomy, Ruth, dan Kathi adalah termasuk diantara murid-murid di sekolah ini.

 

Suatu ketika datanglah seorang guru baru bernama Lucy. Guru baru ini membocorkan suatu informasi yang belum semestinya didengar para murid. Menurutnya, wajarnya anak-anak akan tumbuh dewasa. Mungkin bekerja menjadi aktor, pindah ke Amerika, bekerja di supermarket, mengajar di sekolah, dll. Tapi ketahuilah bahwa kalian tidak akan menjadi itu semua. Bahkan kalian tidak akan menjadi tua. Tetapi pada usia dewasa, kalian akan mendonorkan organ-organ vital kalian. Dan hidup singkat kalian pun berakhir. Kejujuran guru ini berakhir dengan segera dipecatnya dia oleh kepala sekolah yang tegas.

 

Tahun 1985, siswa-siswi The Hailsham boleh menuju dunia luar, tepatnya di pedesaan. Tomy, Ruth, dan Kathy ditempatkan di The Cottage. Di waktu ini mereka sudah tahu bahwa mereka dipersiapkan menjadi pendonor organ, dan bahwa mereka adalah manusia kloningan dari originalnya. Tetapi mereka tidak tahu dari siapa mereka dikloning. Uniknya, tidak tampak ketakutan pada ekspresi wajah mereka. Dan mereka pun mulai mencari jati diri mereka. Kathy akhirnya memilih untuk mendaftar bekerja sebagai perawat para pendonor. Tiga orang sahabat ini pun akhirnya berpisah.

 

Tahun 1994, Kathy telah bertahun-tahun bekerja sebagai perawat. Para pendonor yang ia rawat biasanya mati setelah mendonorkan organnya. Ada yang mati ketika donasi pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Para pendonor tesebut memang sudah siap untuk dioperasi kapan saja dibutuhkan.

 

Suatu ketika Kathy bertemu Ruth yang telah menjalani operasi donor. Kondisinya sudah lemah. Dan ketika harus donor lagi, ia pun mati. Kathy juga bertemu Tomy, yang juga sudah donasi dua kali. Tubuhnya lemah, tetapi masih bisa jalan ke sana-kemari. Tomy dan Kathy ingin menikmati hidup lebih lama. Mereka jatuh cinta. Mereka pun melakukan upaya agar masa donasi mereka bisa ditangguhkan. Selanjutnya cerita bisa anda tebak sendiri.

 

Di sini barangkali pikiran kita merasa terganggu. Mengapa Kathy, Ruth, Tomy, dan para pendonor lainnya tidak kabur saja, tetapi hanya pasrah menerima kenyataan pahit yang akan mereka alami? Mengapa mereka tidak kabur ke luar negeri, atau kemana saja, yang penting bebas dari kewajiban donasi. Tapi tampaknya si penulis cerita punya logika sendiri yang tidak dijelaskan. Mungkin para murid sejak kecil sudah dicekoki suatu ide yang membuat mereka tunduk. Atau barangkali negara yang ada begitu kuat berkuasa sehingga mereka tidak bisa kabur.

 

Nah, sekarang mari kita melihat kehidupan nyata kita ini. Untuk apa kita hidup di dunia? Apakah kita ini hidup untuk menikmati sisa waktu, seperti kisah hidupnya para tokoh ini, atau apa? Jika dalam hidup kita ini juga sewaktu-waktu bisa dipanggil oleh-Nya, lantas apa yang kita lakukan? Yang pasti kita tidak akan bisa kabur ke luar bumi atau ke luar dunia, karena semua itu juga milik Allah. Dan Allah itu Maha Kuasa sehingga kemana saja kita tidak bisa kabur. Kita juga tidak bisa melobi agar pemanggilan kita diperpanjang. Bahkan kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil.

 

Lantas, untuk apa kita hidup? Semoga, anda termasuk diantara sedikit orang yang mampu menjawab pertanyaan ini. (www.faridm.com)

 

Anda mencari artikel :

Review film Never Let Me Go

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: