Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

Teroris Membaca Al Quran Sebelum Membajak Pesawat; Salah Satu Kampanye Hitam

Posted by Farid Ma'ruf pada Juli 9, 2007

Syariah Publications. Ziad, seorang pemuda bertampang Arab serius membaca Al Quran di sebuah kamar. Beberapa saat kemudian, bersama tiga temannya yang juga bertampang Arab, ia sholat berjamaah. Setelah itu, mereka memasuki pesawat United Airlines Flight 93, sebuah pesawat jenis Boeing 757 yang berangkat dari Newark, New Jersey, menuju San Francisco.

“Allahu Akbar!!!” Teriakan takbir diteriakkan para teroris sambil menusuk leher penumpang dengan pisau. Kejadian berlangsung cepat. Kokpit direbut. Pilot dan ko-pilotnya langsung dibunuh. Teroris menggorok leher pramugari sambil membaca basmalah. Teroris akan menabrakkan pesawat ke Gedung Putih. Drama pembajakan yang menegangkan pun terjadi.

Pusat Kontrol Jalur Udara sangat kerepotan. Lebih dari 4000 pesawat sedang terbang. Tidak diketahui secara pasti pesawat mana saja yang dibajak. Tiga pesawat hilang. Diduga telah dibajak. CNN menyiarkan bahwa Gedung WTC telah ditabrak dua pesawat. Terjadi ledakan di Gedung Pentagon yang kemudian terbakar. Diduga juga karena ditabrak pesawat. Pihak militer kurang sigap menangani pembajakan ini. Pemimpin militer tidak diberi tahu bahwa United 93 telah dibajak. Dua pesawat F-16 yang sedang terbang ternyata dalam kondisi tidak dipersenjatai. Pesawat jet tempur terdekat berjarak lebih dari 100 mil jauhnya dari United 93.

Berita telah dibajaknya tiga pesawat lain dan ditabraknya WTC serta ledakan di Pentagon diketahui penumpang pesawat United 93 yang menelepon keluarga mereka. Mereka pun sadar bahwa pembajakan ini bukan misi mencari uang tebusan, tetapi misi bunuh diri. Dari pada mati konyol, akhirnya mereka pun memberontak. Kokpit direbut. Teroris panik. Pesawat pun jatuh menghantam bumi di Pennsylvania dua puluh menit sebelum mencapai sasaran. Tidak ada satu pun yang selamat.

Itulah sebagian penggambaran drama pembajakan dalam film United 93 yang digarap oleh Paul Greengrass. Film yang didasarkan pada kejadian tahun 2001 itu menarik perhatian masyarakat AS. Para penumpang yang berani melawan pembajak dielu-elukan sebagai pahlawan. Jika penontonnya adalah warga AS khususnya yang mengalami ketegangan tahun 2001, kemungkinan besar semangat nasionalismenya akan muncul. Bahkan sutradara tampak cukup berhasil mengaduk-aduk emosi siapa saja yang menonton film ini.

Greengrass tidak terlihat menunjukkan siapa sesungguhnya para pembajak. Dari kelompok gerakan mana, apa motivasinya, dan apa tujuannya. Ia justru lebih menonjolkan unsur dramatik kejadian ini. Siapa benar dan siapa salah, tidak ditunjukkan dalam film ini. Boleh jadi, karena berjenis semi-dokumenter, maka Greengrass tidak bisa sembarangan menyimpulkan hal-hal tersebut. Film hanya disusun dari kisah para keluarga yang mendapatkan telepon dari anggota keluarganya yang berada di dalam pesawat serta rekaman kotak hitam pesawat. Tentu saja bukan sebuah dokumen yang mampu merekam secara detail kondisi sebenarnya sehingga tentu akan sulit untuk menyusunnya kembali menjadi sebuah film yang bercerita secara utuh.. Oleh karena itu, Greengrass memilih membiarkan para penonton menyimpulkan sendiri siapa dan apa motivasi para pembajak. Disinilah sesungguhnya bahaya film ini.

Kampanye Hitam terhadap Muslim

Diakui atau tidak, film ini secara tidak langsung menjadi salah satu kampanye hitam terhadap Muslim. Sejak awal, penonton disuguhi penampilan para teroris yang berwajah Arab, membaca Al Quran, sholat berjamaah, berdoa dengan bahasa Arab, dan bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Para teroris juga meneriakkan takbir berulang-ulang di pesawat. Parade doa yang berbeda juga ditampilkan secara jelas. Para penumpang yang menjadi korban berdoa dengan cara Kristen, sementara para teroris berdoa dengan cara Islam. Penggambaran seperti ini akan membuat kesan bahwa muslim (Arab) adalah penjahat dan umat Nasrani (bangsa Barat) adalah korban kejahatan muslim. Padahal, sampai saat ini tidak diketahui secara pasti siapa komplotan pembajak di tahun 2001 itu. Terlebih jika kita telah melihat film lain yang berkategori dokumenter yaitu 911 in Plane Site (Power Hour Production, 2004).

Film dokumenter yang disusun Dave VonKleist, Talk Radio Host The Power Hour (www.ThePowerHour.com) mencoba membuktikan bahwa sesungguhnya tidak ada pembajakan oleh para teroris. Dua pesawat yang menabrak WTC bukanlah pesawat penumpang, tetapi pesawat pengisi bahan bakar yang kemungkinan dikendalikan dengan remote control. Sementara Gedung Pentagon sama sekali tidak ditabrak pesawat, tetapi sengaja diledakkan dengan bom. Secara terang-terangan Dave VonKleist mengatakan ada konspirasi bukan sekedar teori konspirasi. Siapa yang berkonspirasi? Pemerintah AS sendiri. Bukti-bukti yang sangat banyak ditunjukkan di film yang juga buatan orang Amerika ini. Sayangnya, tidak ada satu stasiun televisi pun yang mau (berani) menayangkan film karya Dave ini.

Film United 93 juga bisa menimbulkan dampak negatif. Warga AS dan bangsa Barat umumnya akan membenci warga muslim. Tidak mengherankan jika muslim yang akan memasuki wilayah AS akan mendapatkan pemeriksaan esktra ketat bahkan terkesan berlebihan. Bahkan Lewis Alsamari, aktor kunci film ini pun ditolak visanya ketika akan masuk AS untuk menyaksikan pertunjukan perdana di New York City.

Dampingi Anak

Film ini telah lulus sensor Lembaga Sensor Film Indonesia tanggal 14 Maret 2007. VCD/DVDnya pun beredar di Indonesia secara bebas. Jadi suatu hal yang sulit jika kita akan melarang masyarakat untuk menontonnya. Tindakan paling masuk akal adalah menjelaskan fakta-fakta lain di balik tragedi September 2001.

Anda yang bermaksud menonton film ini bersama keluarga harus ekstra hati-hati. Terlebih jika anda menonton bersama anak-anak. Kebanggaan meneriakkan takbir bisa berubah menjadi rasa malu. Apalagi jika muncul pertanyaan dari anak-anak, mengapa orang-orang Arab Islam itu membajak pesawat dan menabrakkannya ke WTC dan Pentagon? Ini sebuah pertanyaan yang menjebak. Jika dijawab karena AS adalah negara jahat sehingga banyak orang dendam kepadanya, maka secara tidak langsung kita mengakui bahwa teroris muslim itu ada. Jadi, sebaiknya dampingi anak anda dan diskusikan fakta-fakta lain yang terkait. Film 911 in Plane Site cukup bagus dijadikan referensi pembanding.

Di tengah gencarnya berita dan opini media tentang tertangkapnya kelompok “teroris” Indonesia yang menurut polisi dipimpin Abu Dujana yang kesemuanya adalah muslim, bertampang alim, berjenggot, dan fasih mengucapkan kata-kata Islami, sebagai muslim dan aktivis dakwah, kita harus mau sedikit repot dan bersusah payah untuk menjelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme. Saat ini yang terjadi adalah perang yang dikobarkan AS dengan mendiskreditkan Islam dan memojokkan kelompok-kelompok Islam yang menghendaki tegaknya sistem Islam. (Farid Ma’ruf; www.syariahpublications.com)

 

8 Tanggapan to “Teroris Membaca Al Quran Sebelum Membajak Pesawat; Salah Satu Kampanye Hitam”

  1. sikabayan said

    euh… yah begitulah kang farid… kenapah dulu kalau pelem ngga boleh masuk indo teh… expor textil di embargo… soalnyah semuah pelem membawa kampanye… makin kesinih makin2 berani… soalnyah sdh ngemodalin pakai ngancurin gedungnyah sendiri… yah modal pitnah di jaman pitnatun dajjal gituh….

  2. ian said

    sepertinya tidak hanya dalam film ini saja, mereka (amerika) membuat citra islam memburuk dengan kampanye penyesatan seperti itu…

  3. Unkwon said

    Itu orang arabnya mau aja main nih film -.-“

  4. taufik said

    oalaaah namanya aja orang kafir, mereka tu punya otak layaknya otak udang…..

  5. Dini said

    Amerika gitu loh . . . Sukanya mengadu domba demi kepentingan
    diri sendiri . . .
    Alangkah baiknya sesama orang islam bersatu melawan kedzaliman
    Allahu Akbar..!!!!
    Semoga kita di lindungi oleh Allah SWT

  6. Odi said

    Let see, sementara ini dalam pengakuan para pelaku kekerasan bersenjata bermotifkan alasan agama yang terjadi beberapa kali di Indonesia ini memang diantaranya merupakan orang yang mengaku memiliki spirit keagamaan yang tinggi.
    Tentu saja anda dapat beranggapan bahwa segala pengakuan para pelaku tindak kekerasan itu sekadar rekayasa polisi.
    Tapi bagi saya, tidak ada yang salah dengan penggambaran dalam film ini, memang ada orang-orang yang memiliki semangat religius yang sampai pada taraf dimana mereka menghalalkan mengambil nyawa orang lain demi tujuan mereka. Kebetulan saja mereka memiliki keyakinan yang sama dengan saya.
    Apakah saya perlu malu bahwa orang yang meneriakkan takbir dan melakukan shalat masih bisa melakukan tindak kekerasan tanpa pandang bulu ? Tentu tidak, karena berarti shalat dan takbir yang mereka lakukan belum sempurna. Takbir dan shalat saya juga jauh dari sempurna tapi saya cukup punya kesadaran untuk tidak melakukan tindak kekerasan semacam itu.

  7. Mas'Ud said

    Assalamu’alaikum…

    Hmm…pernah nih ane baca2…operasi kayak gitu udah biasa dilakukan intelejen buat mendiskreditkan lawan, musuh, atau minimal objek yang gak disukai (target), istilah kerennya operation false flag.

    Emang kacau kalo udah maen fitnah pake operation false flag kayak gitu…

    Seharusnya MUI atau yang berwenang juga tanggap atas film United 93 seperti itu…(peduli amat ya kali???)

    Film Talk Radio Host The Power Hour…bisa dicari g ya di jalur gelap internet? Atau balck market?? Penasaran nih….

  8. uvwxyz said

    lembaga lulus sensornya perlu di protes tuh….

    protes yuk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: