Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

ANGIN PUTING BELIUNG DI JOGJA; PELAJARAN TOLONG-MENOLONG

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 19, 2007

Syariah Publications – Yogyakarta. Ahad, 18 Februari pukul 17.10. Saya baru saja selesai mengisi training tentang Syariah Islam. Sepulang dari training saya mampir ke warnet untuk membuka email. Sekitar pukul 17.20, tiba-tiba akses macet. Beberapa menit saya menunggu dan mengecek dengan ping, masih macet. Saya hubungi operator. Dijawab bahwa terjadi angin ribut di Jogja. Mungkin mengganggu akses. Disarankan membuka detik.com. Saya kemudian akses detik.com. Masih belum bisa dibuka. beberapa menit kemudian, detik.com bisa diakses walaupun sangat lambat. Pukul 17.40, saya membaca berita di detik.com bahwa telah terjadi musibah angin puting beliung di Jogja. Beberapa fasilitas umum rusak. Warga Baciro panik. Saya seakan tidak yakin terhadap berita di detik.com. Maklum, dari warnet tersebut sama sekali tidak terasa ada angin kencang. Hujan pun tidak deras. Saya baru yakin bahwa kejadiannya cukup serius ketika malam harinya, sekitar pukul 22.00, saya mendapat permintaan untuk segera mengirimkan tenda, lampu petromak, dan lain-lain.

Senin, 19 Februari 2007 pukul 08.15 saya berangkat ke lokasi musibah. Selama perjalanan saya menyaksikan Jogja tampak 100% normal. Bahkan ketika saya koordinasi terlebih dahulu di Kantor HTI DIY di Beji, Pakualaman, yang hanya berjarak tidak lebih dari 1 km dari lokasi musibah, semua juga tampak normal. Ketidaknormalan baru terasa ketika saya sampai di perempatan Gayam. Jalan ditutup. Perintang jalan dipasang. Polisi dan warga tampak menghadang semua kendaraan yang menuju lokasi musibah. Semua kendaraan dihalau untuk menuju arah lain. Awalnya, saya dan teman-teman dilarang masuk. Baru ketika kami sebutkan bahwa kami relawan HTI, sambil menunjukkan atribut (rompi dan jaket), kami diizinkan masuk.

Ratusan atau mungkin ribuan aparat tampak berseliweran. Ada tentara, polisi, Satpol PP, petugas PLN, dan lain-lain. Suara mesin gergaji terdengar meraung-raung ketika pohon-pohon ditebang. Truk-truk polisi dan tentara tampak memenuhi jalan.. Pohon-pohon tumbang, baliho dan papan reklame rusak, tiang listrik miring dan beberapa roboh, kabel telepon dan listrik menggantung, tembok-tembok bangunan roboh, rumah-rumah rusak. Benar-benar mirip suasana perang.

Kami segera menuju Masjid Al Mustaqim untuk membantu pembersihan puing-puing. Masjid ini masuk cukup jauh ke dalam pemukiman penduduk. Kami berjalan melalui gang-gang sempit. Di situlah kami melihat bahwa kerusakan memang cukup parah, walaupun tidak merata. Beberapa rumah tampak roboh, menimbun semua barang-barang di dalamnya. Atap-atap rumah hilang entah kemana. Saya baru sadar. Ternyata efek merusak angin puting beliung kemarin sore cukup besar.

Masjid Al Mustaqim menjadi prioritas kami. Masjid ini atapnya hilang. Di dalam dan sekitar masjid puing-puing berserakan. Hampir tiap hari Jogja diguyur hujan. Kami putuskan untuk memasang terpal di atasnya. Kemudian kami membantu membersihkan puing dan mengevakuasi barang di rumah warga sekitar masjid. Beberapa rumah tampak rusak tertimpa pohon yang roboh. Seorang teman mencari tukang gergaji mesin untuk menebang pohon dan memotong-motongnya.

Pagi sampai siang, tampak aparat masih mendominasi suasana pembersihan. Relawan-relawan dari organisasi massa tidak banyak terlihat. Relawan parpol bahkan sama sekali tidak terlihat di sekitar tempat yang kami bersihkan. Baru siangnya setelah lewat waktu dzuhur terlihat relawan dari salah satu parpol Islam. Itupun jumlahnya tidak banyak.

 

Kebersamaan, fasad dan faktor alam

Sebagai warga Jogja, saya merasa sedih mengetahui kota ini kembali terkena musibah. Penangangan gempa masih jauh dari selesai, tetapi sudah ada musibah lagi. Walau demikian, ada beberapa hal yang saya syukuri terkait musibah di Jogja. Dari beberapa musibah, ada beberapa ciri khas yaitu kerusakan tidak merata. Awal dan pertengahan tahun 2006, Jogja panik ketika mengetahui Gunung Merapi akan meletus. Ribuan warga diungsikan. Mei 2006, DIY diguncang gempa. Ribuan warga meninggal. Mayoritas atau sekitar empat ribu adalah warga Bantul. Dan sekarang ada musibah angin puting beliung.

Dari ketiga musibah itu, tampak bahwa musibah di Jogja tidak merata pada saat yang sama. Hal ini membuat pemerintah daerah bisa berjalan. Aktivitas di daerah lain di DIY yang tidak terkena bencana pun normal. Apalagi untuk bencana Merapi dan angin puting beliung, warga DIY yang tidak memantau berita mungkin tidak mengetahuinya. Seorang teman yang kos di sekitar pabrik Susu SGM, sekitar 2 km dari lokasi amukan angin bahkan bercerita bahwa saat terjadi angin puting beliung, anak-anak kos di tempatnya justru melihat ramai-ramai sambil berteriak ”hore-hore”. Ini memang pemandangan langka di Jogja. Mereka tidak sadar bahwa efek merusak cukup besar. Begitu juga pada saat terjadi musibah gempa, semua warga DIY tentu tahu, tetapi tidak semua mengalami tingkat kerusakan yang sama. Malam hari pasca gempa, Kota Jogja 30% normal. Sleman (khususnya Kec. Ngaglik yang kebetulan saya lewati) bahkan 100% normal. Tidak ada bekas gempa sama sekali.

Hal ini memberikan kesempatan kepada warga Jogja untuk menolong saudaranya yang dekat lokasinya. Kita sadar bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita saling membutuhkan yang lain. Pembersihan puing dan evakuasi dilakukan swadaya masyarakat setempat dibantu warga dari tempat-tempat lain disekitar lokasi musibah.

Ciri lain dari musibah di Jogja adalah, musibah ini tidak termasuk kategori fasad (kerusakan akibat ulah manusia). Kejadian yang menimpa Jogja murni karena faktor alam yang tidak bisa dihindari. Ini tentu berbeda dengan bencana di beberapa daerah lain yang tertimpa bencana tapi kalau dirunut, maka peranan ulah manusia sangat tinggi. Misalnya penebangan pohon secara sembarangan sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor, pembuangan sampah sembarangan sehingga membuat air sungai meluap, dan lain-lain.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada para korban musibah. Marilah kita sadar bahwa manusia sangatlah kecil dihadapan-Nya. Lantas, mengapa kita masih ada yang berani melanggar syariah-Nya? Berapa musibah lagi yang dibutuhkan untuk membuat kita sadar?

(Bantul, sore hari pasca evakuasi hari kedua)

http://syariahpublications.com/?p=88#more-88

Satu Tanggapan to “ANGIN PUTING BELIUNG DI JOGJA; PELAJARAN TOLONG-MENOLONG”

  1. alifkahfi said

    semoga kita diberikan ketabahan dan kesadaran yang makin mendalam

    http://www.mediamuslim.info turut prihatin dengan musibah yang baru-baru ini kita hadapi bersama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: