Farid Ma'ruf

Informasi Bisnis Internet, Dunia Komputer, dan Dakwah

CEGAH SEKS PRA MARITAL; JANGAN HANYA NATAL PRA MARITAL

Posted by Farid Ma'ruf pada Januari 12, 2007

Bantul. Syariah Publications. Dalam silaturahim Idul Fitri 1427 H tahun ini, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Bpk. Ust. Aidi Johansyah, S.Ag. beliau sekarang menjabat sebagai kepala KUA Kecamatan Pleret Bantul, Yogyakarta. Kami berbincang-bincang seputar kondisi umat dewasa ini, termasuk masalah pergaulan remaja saat ini yang sepertinya semakin permisif saja. Beliau kemudian menceritakan bagaimana pengalamannya menjadi naib yang bertugas menikahkan. Pertanyaan kritis yang muncul adalah, seberapa banyak pasangan yang sudah hamil sebelum menikah? Apakah naib dari KUA mengetahui apakah pasangan yang dinikahkan sudah hamil atau belum? This is the story. “Pertama kali saya ditugaskan sebagai Kepala KUA Kec. Sanden”, Pak Aidi memulai ceritanya. Kecamatan Sanden saya kenal sebagai kecamatan yang jauh dari pusat kota, ke barat ia terbatasi oleh Singai Progro yang sangat lebar, ke selatan ia berbatasan langsung dengan Pantai Selatan. “Setahu saya, di Kecamatan Sanden banyak orang Islamnya, bahkan di sana tidak ada tempat ibadah agama lain”. Kira-kira, tentu di sana pergaulannya tidak seperti di kota. Benarkah demikian? “Saya bekerja sama dengan pihak Puskesmas melakukan penelitian. Setiap wanita yang akan menikah akan disuntik TT terlebih dahulu di Puskesmas. Ini sifatnya wajib berdasarkan peraturan. Suntik TT diberikan hanya kepada wanita yang tidak sedang hamil. Oleh karena itu, jika ada wanita yang akan menikah yang sudah terlanjur hamil, maka ia tidak akan disuntik TT. Sudah pasti, Puskesmas mengetahui siapa saja wanita yang terlanjur hamil padahal belum menikah. Puskesmas pun tahu persis berapa jumlahnya”. Sungguh di luar dugaan ketika Pak Aidi mengatakan bahwa ternyata jumlah wanita yang terlanjur hamil sebelum menikah lebih banyak dibanding yang belum hamil. Saya pun hanya bisa bengong mendengar informasi ini. Tentu saja saya sangat berharap data ini salah. Tapi bagaimana kalau benar? Bukankah beliau menceritakan ini juga tanpa maksud apa-apa selain menyampaikan kebenaran yang beliau ketahui? Memang, sampai saat ini tidak ada data resmi yang dipublikasikan ke khalayak tentang angka kehamilan di luar nikah khususnya di Kab. Bantul. Tidak puas dengan cerita itu, saya pun bertanya lagi, “Bagaimana kalau di kecamatan-kecamatan lain Pak?” Beliau menjawab : “Wah, kalau di kecamatan lain saya belum pernah meneliti. Tapi kurang lebih ya samalah datanya”. Saya pun bertanya lagi, pelaku-pelaku seks bebas itu rata-rata latar belakang keluarganya bagaimana? Beliau menjelaskan bahwa pelaku seks bebas berlatar belakang keluarga yang bermacam-macam. Informasi yang cukup mengagetkan, ternyata anak dari keluarga baik-baik pun menjadi pelaku seks bebas ini. Ada satu kasus, seorang anak gadis yang bapaknya adalah kepala madrasah, ibunya seorang pejabat pemerintahan. Orang tua anak gadis ini pun sangat berhati-hati menjaga agar anak gadisnya tidak terkena pengaruh pergaulan bebas. Setiap hari, orang tua si gadis mengantar anaknya berangkat sekolah. Pulangnya pun orang tua si gadis selalu menjemputnya. Hal ini tergolong tindakan yang sangat hati-hati. Namun apa dinyana, ternyata si gadis yang masih berusia 16 tahun ini hamil juga. Sangat kaget dan tekanan rasa malu, ibu si gadis sampai shock. Satu hal yang menjadi perhatian saya, saat ini ada upaya yang demikian serius untuk mencegah jangan sampai ada anak gadis yang melahirkan tanpa suami. Syangnya, solusi yang ditawarkan masih belum Islami. Solusi jalur pintas yang biasa diambil adalah menikahkan segera mumpung belum lahir. Kalau dirasa susah menikahkan, pake jalur nekat, yaitu aborsi. Beberapa tahun lalu, sebuah media massa lokal Jogja melansir berita bahwa setiap bulan di Jogja ada 150 kasus aborsi yang dilakukan remaja usia sekolah. Orang-orang sudah sadar bahwa aborsi berat resikonya. Kematian ibu bayi karena aborsi cukup besar. Maka diambillah solusi pintas lain yang juga tidak bertanggung jawab, yaitu “kondomisasi”. Untuk memuluskan strategi ini, maka diluncurkanlah program ATM kondom. Sudah pasti, semua solusi di atas sama sekali tidak menyentuh problem dasarnya yaitu perilaku seks bebas. Solusi-solusi di atas hanyalah pelarian dari sebuah problem besar. Perilaku seks bebas memang mempunyai dasar yang sahih di negeri ini. Bukankah sudah diklaim bahwa negeri ini bukan negara agama. Otomatis, agama tidak mempunyai peranan dalam mengatur urusan kemasyarakatan. Semua dikembalikan kepada satu asas, yaitu “kebebasan”. Kebebasan bisa berarti bebas beribadah, namun juga bisa berarti bebas bermaksiat. Masing-masing orang yang melakukan kebebasannya tidak boleh mengganggu kebebasan orang lain. Negara bertugas sebagai penjamin berjalannya hak bebas ini. Sayangnya, manusia jika dibebaskan akan cenderung mengarah kepada perbuatan negatif. Tidak pernah ada ceritanya bagaimana suatu bangsa dengan kebebasannya maka 100% warganya akan melakukan kebaikan. Justru sebaliknya, perilaku-perilaku menyimpang akan muncul, seperti homoseks, lesbian, bestiality, dan lain sebagainya. Manusia menjadi kehilangan sisi kemanusiaannya, yang tinggal adalah sisi kebinatangannya. Bedanya, binatang tidak menanggung beban di akhirat, sementara manusia akan mempertanggungjawabkannya. Mari kita manusiakan rakyat negeri ini. Selamatkan generasi dengan Islam.

30 Oktober 2006, Farid Ma’ruf

Nb : Mohon maaf kepada Pak Aidi karena saya mencantumkan namanya di tulisan ini. Mohon maaf juga kepada warga Sanden yang saya ceritakan di sini sisi negatifnya.

source : http://faridm.blogs.friendster.com/farid_maruf/2006/10/cegah_seks_pra_.html

Satu Tanggapan to “CEGAH SEKS PRA MARITAL; JANGAN HANYA NATAL PRA MARITAL”

  1. iwan ruhdi said

    Bener itu mas,negara yang 100% bebas itu ya negara sekuler,dan rakyatnya pada nyeleneh.Karena itu khilafah mesti ditegakkan supaya negara punya power untuk amar makruf nahi mungkar,kalo cuma ulama doang gak akan sukses ,wong ulamanya juga sekuler,tul gak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: